Semakin Mesra

2032 Kata
Setelah selesai sarapan mereka semua langsung bersiap untuk berjalan-jalan. Mandi, ganti baju dan tanpa membuang waktu lagi semua langsung berangkat menuju tempat wisata yang ingin mereka datangi. Kali ini Reindra yang menyetir mobilnya menggantikan Dio.   Mayang dan teman-temannya tiba di sebuah tempat rekreasi di mana mereka bisa naik perahu di sebuah danau yang cukup besar serta berfoto di berbagai spot unik dan menarik. Berbagai latar belakang dan dekorasi menarik mereka jadikan tempat berfoto bersama. Tingkah mereka yang seperti anak kecil saat sedang berada dalam suasana seperti ini membuat orang-orang di sekitarnya berkali-kali melirik, antara heran dan mungkin kesal karena mereka semua terlalu berisik. Sarah dengan sangat lihai menangkap momen lucu dan mengundang gelak tawa yang terjadi pada teman-temannya.   “Ah lo, Sar! Aib gue malah didokumentasikan!” maki Dira pada Sarah yang tertawa tergelak-gelak saat melihat Dira terpeleset saat turun dari perahu berbentuk naga yang telah selesai mereka naiki.   “Lucu tau! Gue masukkin medsos gue, aah!” ucap Sarah dengan wajah jahil.   “Woy! Gue banting juga tuh kamera lo!” ancam Dira sambil menarik-narik pakaian Sarah.   “Enak aja lo main banting-banting. Properti kantor, tuh!” sela Mayang.   “Lagian lo berani banget ngancam Sarah, dibanting balik baru tau rasa. Dia ban item loh!” celetuk Indah dari belakang.   “Ban coklat, kok,” sahut Sarah kalem.   “Ya beda tipis laah, kalau buat kita yang sama sekali nggak bisa bela diri,” seloroh Nurin yang segera menjauh dari Sarah pura-pura ketakutan.   Mayang merasa senang melihat keakraban teman-temannya yang padahal baru sebentar saling kenal itu. Dio juga tampak ceria berada di tengah-tengah orang-orang yang hebohnya tak ingat umur ini. Ternyata tak salah tindakannya dalam mengajak mereka semua berlibur bersama, karena kegembiraan dan suasana menyenangkan seperti ini jarang sekali bisa ia dapatkan.   Selesai berkeliling seluruh area tempat wisata itu untuk berfoto dan memainkan semua permainan yang ada di dalam, mereka sudah langsung merasa lapar.   “Istirahat dulu yuuk! Capek, woi. Tadi pagi jogging, sekarang keliling-keliling. Pegel nih kaki,” keluh Sari yang sepertinya memang sudah kepayahan.   “Iya gue juga,” imbuh Nurin, “ternyata area tempat wisata ini luas banget yah, terus di setiap sudutnya banyak spot foto yang menarik. Gue kira nggak akan seasyik ini tempatnya.”   “Iya juga ya, kalau dilihat di foto-foto yang ada di internet, kayaknya nggak terlalu menarik kecuali untuk anak kecil. Eh, ternyata kita yang udah tua-tua begini malah lebih heboh dari anak-anak kecil yang di taman kelinci tadi,” celetuk Indah.   “Kelinci yang lo kasih makan tadi aja sampe kabur loh, nggak mau makan dari tangan lo. Kayaknya dia ngeri,” celetuk Adelio sambil tertawa.   “Sialan lo!” maki Indah kesal, karena apa yang dikatakan oleh Adelio memang benar. Saat mereka memberi makan kelinci tadi, hanya Indah yang dijauhi oleh kelinci-kelinci itu, entah kenapa.   “Ya udah, sekarang kita jajan dulu yuuk! Kayaknya banyak yang enak-enak, tuh!” Reindra menunjuk ke area lebar dan memanjang yang menjual makanan dan minuman.   “Beli koin dulu, tuh! Bayarnya harus pakai koin,” ucap Dio sembari berjalan mendahului. Dan setelah itu semuanya bergantian membeli koin pembayaran sebanyak yang mereka inginkan.   “May, lo nggak usah beli. Ini buat lo,” ucap Dio sembari menjatuhkan beberapa koin ke telapak tangan Mayang yang baru saja hendak mendekat ke loket pembelian koin.   “Eh, nggak usah Dio, gue beli sendiri aja, nggak apa-apa kok,” ucap Mayang berusaha menolak. Ia merasa tak enak, apalagi hanya dia yang diberi oleh Dio.   “Udah, May, terima aja. Ditraktir pacar di tempat wisata kan, wajar. Jangan ditolak,” celetuk Sarah sambil lalu didampingi oleh Adelio di sampingnya yang tampak menahan tawa sembari menggenggam koin pembayaran di tangannya.   Wajah Mayang langsung merah padam tanpa bisa membalas karena Sarah dan Adelio sudah bergerak menjauh.   “Ya udah yuk, kita beli makanan. Udah laper nih,” ucap Dio yang langsung menggandeng lengan Mayang mengajaknya berjalan menghampiri salah satu counter.   “Eng … eh iya ….” sahut Mayang tergagap, merasa sungkan lengannya digandeng oleh Dio tanpa basa basi lebih dulu. Tetapi jika ia menepis tangan Dio, pasti akan terlihat aneh dan berlebihan. Makanya Mayang hanya bisa pasrah saja mengikuti langkah Dio.   Sementara itu Reindra yang tak bisa melepaskan diri dari Nurin, tampak pasrah saja diseret ke sana ke sini oleh gadis itu, memilih makanan dan minuman yang ingin mereka beli. Sisanya, Indah, Dira dan Sari langsung memisahkan diri untuk mencari minuman dingin yang terletak di ujung deretan counter penjual.   “Mau makan berat atau makan ringan, May?” tanya Dio.   “Berat aja, kan lo juga udah laper?” jawab Mayang.   “Ya kalau lo mau beli camilam juga nggak apa-apa, nanti kita sharing,” ujar Dio.   “Oh ya udah, gitu aja,” sahut Mayang. “Lagian itu koin pembayarannya nggak bisa ditukar jadi uang lagi, kan? Mau nggak mau harus dihabisin sekarang.”   “Nah, betul sekali,” ucap Dio, “makanya, ayo kita belanjain semua! Makan yang kenyang mumpung masih di sini!” Dio menjulurkan satu lengannya yang bebas ke depan, membuat pose menunjuk ke kejauhan yang sangat lebay,seperti meme-meme yang sering berlalu lalang di media sosial.   Mayang tertawa geli melihat sikap Dio yang tampak sangat santai, membuatnya menjadi tidak merasa risih lagi soal gandengan tangan Dio pada lengannya. Mayang bahkan tak ragu lagi untuk mendekatkan diri kepada Dio saat mereka sedang memilih-milih makanan atau saling mencicipi makanan satu sama lain. Ia juga tak malu lagi saat tak sengaja bertatapan dengan Dio, dan tidak berusaha untuk cepat-cepat mengalihkan pandangan.   Setelah kedua tangan mereka penuh dengan makanan dan minuman, keduanya mencari tempat untuk duduk. Pengunjung tempat wisata tersebut memang sangat ramai, sehingga mereka harus jeli untuk mencari tempat.   “Tuh! Ada meja kosong!” Mayang menunjuk ke kejauhan.   “Eh iya, ayo kita ke sana!” sahut Dio.   Dan segera saja mereka berdua menghampiri meja tersebut dan meletakkan semua bungkusan dan kemasan yang memenuhi kedua tangan mereka sejak tadi. Mereka duduk bersebelahan karena memang meja yang mereka tempati itu menempel pada dinding kayu dan hanya bisa diduduki dengan dua buah kursi berjajar.   “Mau makan apa dulu, May?” tanya Dio.   “Gue mau pisang goreng cokelat keju dulu,” ucap Mayang.   “Oke,” ucap Dio lalu mendekatkan piring pisang goreng itu ke depan mereka.   “Loh, lo ikut makan ini juga? Kalau mau makan yang lain dulu juga nggak apa-apa, Dio, kan lo tadi katanya udah laper pingin makan makanan berat?” ucap Mayang.   Dio menggeleng. “Makanan kecil juga kalau jumlahnya banyak kayak gini kan lama-lama jadi berat juga,” ucapnya sambil tertawa.   Mayang ikut terkikik. “Bener juga ya. Baru nyadar gue, ini kita beli makanan kenapa banyak amat, sih? Pisang goreng cokelat keju, roti bakar s**u, baso kuah, batagor, mie goreng, sate ayam, kentang goreng, cream sup, cilok, es teler, es duren, jus mangga, teh botol, ini makan siang apa kondangan?” Mayang mengucapkan semua nama-nama makanan yang mereka bawa dengan begitu cepat tanpa jeda sehingga membuat Dio tertawa keras.   “Ternyata lo rame dan asyik banget ya May,” ucap Dio sembari mulai menyuap pisang goreng ke mulutnya. “Dulu awalnya gue kira lo galak dan kayak ibu boss yang arogan gitu.”   Mayang menoleh dengan terkejut, menatap Dio dengan kedua alis terangkat. “Eh, emang dulu lo mikir begitu ya, ke gue?” tanyanya heran.   “Iya, kesan pertama gitu. Mungkin karena sikap lo tegas kali yah. Dan guenya juga keburu berprasangka seperti itu, jadilah lo kelihatannya seperti itu,” jelas Dio. “Tapi waktu gue ketemu lo lagi di Kafe Daun malam itu, image lo emang beda banget. Kayak anak gaul aja gitu.”   Mayang tertawa. “Iya kalau di kantor gue kan harus jaga image, apalagi kalau kedatangan tamu tak dikenal yang belum jelas mau nawarin apa. Siapa tau marketing kartu kredit atau perumahan bersubsidi, kan gue harus siap-siap nolak. Makanya dari awal gue udah pasang muka kenceng. Hehehe ….”   Kali ini giliran Dio yang menoleh dan menatap Mayang lekat-lekat dengan kedua alis terangkat. “Eh … emangnya gue berkesan kayak begitu, ya? Kayak marketing kartu kredit?”   “Iya,” jawab Mayang dengan wajah serius.   Dio langsung terperangah dan menghentikan gerakan mengunyahnya. Sepertinya shock karena baru tahu bahwa dirinya dianggap marketing kartu kredit. Sesaat Dio berpikir apakah cara berpakaiannya yang kurang tepat pada saat itu, ataukah gaya bahasanya yang terlalu formal seperti marketing yang siap menjabarkan sesuatu dengan panjang lebar kepada calon konsumennya yang sudah terjebak.   “Tapi bohoooong!” ucap Mayang lalu tertawa-tawa keras-keras.   “Ah sial, kena gue dikerjain!” tukas Dio kesal lalu mengacak puncak kepala Mayang sambil tertawa.   Sesaat Mayang terkejut dengan sikap Dio yang berani menyentuh kepalanya. Bukan karena ia menganggap itu adalah hal yang tidak sopan, tetapi sentuhan seperti ini sangat dikenali Mayang sebagai sentuhan ekspresi kasih sayang dan kedekatan. Tetapi karena Mayang justru merasa nyaman dengan tindakan Dio yang seperti ini, dan membiarkannya saja. Ia bahkan merasa wajahnya menghangat saat Dio menyentuhnya.   “Ciyeee … makin mesra aja lo berdua!” celetuk seseorang di belakang mereka.   Mayang dan Dio menoleh, dan mendapati Sarah dan Adelio yang berdiri di belakang mereka sembari melahap sesuatu yang ada di tangan mereka berdua, sepertinya semacam burger atau hotdog yang berlumur banyak saus.   “Kalian berdua juga,” jawab Dio kalem, “nempel aja dari tadi.”   “Ih, siapa yang nempel, sih?” ujar Sarah berkelit sembari menjauhkan tubuhnya sedikit dari Adelio. Namun tanpa diduga Adelio menarik balik tubuh Sarah dengan gerakan menyentak yang sedikit terlalu keras, membuat Sarah terhuyung ke samping dan langsung menempel erat pada tubuh Adelio. Sarah tampak berusaha membebaskan diri, namun ditahan oleh Adelio yang sudah memegangi pinggangnya dengan sebelah tangan.   “Tuh kan, nempel,” ucap Mayang sembari menunjuk ke arah tubuh Sarah dan Adelio yang saling menempel.   “Huuh,” gerutu Sarah tak jelas, antara malu tetapi tak ingin membuat Adelio kecewa kalau dia menepisnya.   “Kalian makan apa?” tanya Adelio kalem sembari menjulurkan kepala ke arah meja di depan Mayang dan Dio. “Kita dari tadi bingung mau beli apa, jadi baru makan ini.”   “Itu apa sih, Del?” tanya Mayang ingin tahu.   “Burger,” jawab Dio, “udah mau habis, sih.”   “Nih, kita beli makanan banyak. Join aja dulu, nanti kalau masih ada koin, bisa beli makanan lagi buat kita bawa pulang,” ajak Dio.   Dan akhirnya setelah berhasil mendapatkan dua buah kursi tambahan, Sarah dan Adelio menjejalkan diri di meja itu dan menyantap semua makanan yang ada di mej dalam posisi berdempetan yang terasa akrab sekali.   “Eh, nanti kita dari sini langsung ke Kafe Daun, Dio?” tanya Adelio.   “Iya. Ya kecuali kalian mau pergi ke mana dulu gitu, nggak apa-apa,” ucap Dio.   “Nggak, nanya aja. Soalnya kalau masih ada waktu gue masih pingin naik perahu,” jawab Adelio.   “Tadi kan kita udah naik perahu?” tanya Mayang heran.   “Kan tadi rame-rame, gue pingin naik perahu berdua aja sama Sarah,” ucap Adelio terang-terangan, namun dengan ekspresi cuek dan tetap menikmati kentang gorengnya. Sementara Sarah tak mendebat seperti biasanya, tapi telinganya tampak merah dari samping.   "Oooh ...." Mayang tertawa. “Boleh, boleh, masih sempet, kok,” ucapnya.   “Eh, kita naik perahu juga yuk, May, habis ini,” ajak Dio tiba-tiba. “Kayak mereka, perahunya yang cuma buat dua orang.”   “Ih, kok lo jadi ikut-ikut mereka sih, Dio?” protes Mayang pura-pura kesal.   “Nggak apa-apa kan, ngikutin hal yang baik,” ucap Dio sembari nyengir.   “Ya udah, kalau gitu setelah ngabisin ini, kita balik ke danau ya, sewa perahu,” ujar Adelio. “Tapi perahu lo jangan dekat-dekat perahu gue ya, Dio. Awas aja kalau deket-deket, gue terbalikkin.”   “Buset. Galak amat lo Del. Emang lo kuat gitu, nerbalikkin perahu?” tantang Dio.   “Nggak kuat, sih. Tapi kan dibantuin Sarah. Dia pasti kuat,” ucap Adelio bangga sembari mengusap kepala Sarah, mirip seperti yang dilakukan Dio pada Mayang tadi.   Sontak Mayang, Dio dan bahkan Sarah sendiri tertawa mendengar jawaban Adelio yang absurd itu. Kondisi bahwa Sarah terlihat lebih laki-laki dibandingkan dirinya menjadi bertambah jelas, dan menjadi lucu karena Adelio tidak berusaha menutupinya sama sekali.   “Oke, deal. Kita naik perahu lagi habis ini!” ujar Mayang dan Dio berbarengan.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN