Pagi itu pukul enam, tanpa janjian sama sekali, para perempuan yang berada dalam satu kamar semuanya sudah terbangun sendiri. Dan atas usul dari Sarah yang memang atlet bela diri, mereka semua akhirnya bangun untuk berolahraga. Tanpa mandi dulu dan hanya mencuci muka lalu berganti pakaian yang bisa digunakan untuk berolahraga, mereka keluar dari kamar untuk turun ke halaman.
“Eh, kita nggak ngajak yang cowok-cowok, nih?” tanya Nurin yang mungkin berharap bisa berolahraga bareng dengan Reindra.
“Nggak usah deh, kasihan,” ucap Dira, “mungkin masih pada capek. Apalagi Dio yang nyetir semalam.”
“Iya, biarin aja mereka pada tidur sepuasnya, namanya juga liburan,” ucap Mayang. “Kalau kita kan kebetulan aja bangunnya barengan tadi, tanpa dipaksa bangun.”
“Iya juga ya,” ucap Nurin sedikit kecewa sembari mengikuti yang lainnya menuruni tangga ke lantai bawah.
Sari terkikik geli. “Segitu kecewanya nggak bisa olahraga bareng sama Reindra. Jangan nangis Nur, nanti juga ketemu pas sarapan,” ejek Sari.
“Hm? Nurin naksir Reindra?” tanya Sarah tiba-tiba. Dan seketika semuanya baru tersadar kalau Sarah adalah mantan pacar Reindra, seperti yang diceritakan oleh Mayang saat di Kafe Daun waktu itu.
“Eh iya, maaf, lo kan mantannya Reindra yah, Sar?” ucap Sari tak enak hati karena sebelumnya telah meledek Nurin dan Reindra.
Sara terkekeh. “Ngapain minta maaf, kan udah mantan. Lagian gue juga sebenernya heran, kenapa gue dulu bisa jadian sama Reindra, yah?” ucap Sarah dengan wajah berpikir keras, membuat semuanya tertawa.
“Namanya juga tersesat jalan,” sahut Mayang kalem.
“Emang dulu yang nembak siapa?” tanya Nurin penasaran.
Sarah mengerutkan dahi. “Nggak ada yang nembak. Tiba-tiba kayak orang pacaran aja gitu. Hahaha! Mungkin karena sering liputan bareng, jadinya terbisa bersama-sama,” jawabnya jujur.
“Kayak cinlok gitu yah,” timpal Indah.
Sarah mengangguk. “Iya. Dulu kan sama-sama baru masuk ke lingkungan pekerjaan ya, jadinya mungkin sama-sama masih cari pegangan. Eh, setelah pada mandiri baru nyadar dan bertanya-tanya: ‘Eh kita ini ngapain, yah?’. Kira-kita begitu,” lanjut Sarah.
Yang lain tertawa mendengar Sarah yang begitu entengnya menceritakan hal seperti itu.
“Dan ternyata emang Reindra bukan tipe lo, ya,” ucap Dira yang diangguki oleh Sarah.
“Tipe lo berarti yang kayak Adelio, ya?” tuding Indah langsung.
“Eh, nggak jugaaa!” bantah Sarah. “Gue sebenarnya nggak punya tipe-tipean, sih. Nggak ada karakter cowok tertentu yang gue syaratkan untuk jadi pasangan. Gue biasanya mengandalkan feeling aja. Tiba-tiba nyaman, gitu.”
“Terus, sama Adelio, sekarang udah nyaman, Sar?” tanya Mayang menyelidik.
Sarah nyengir lebar mendengar pertanyaan Mayang. “Kayaknya sih gitu. Habisnya Adelio manis banget sikapnya. Padahal udah sempat gue tolak, tapi dia tetep aja berusaha deket sama gue. Tapi caranya nggak bikin gue muak. Malah bikin gue jadi nyaman gitu.”
“Aduuuhh so sweet!” seru Indah tertahan. Sarah terkekeh malu.
“Ya udah, ayo kita olahraga! Ngegibah mulu kalian!” ucap Sarah sembari mendorong punggung cewek-cewek berisik itu agar segera bergerak. Saat itu mereka sudah berada di halaman villa Dio yang luas dan penuh pepohonan serta tanaman.
“Wah, keren yah halamannya, udah ada jogging tracknya loh!” ucap Dira kagum.
“Iya, waktu kita ke sini sebelumnya, gue udah kepikir pingin jogging di sini, tapi kan nggak sempat karena sibuk jalan-jalan. Nah, sekarang kesampaian deh,” ucap Sarah yang mulai berlari diikuti yang lainnya.
“Ini tracknya muter sampai belakang nggak, sih?” tanya Sari penasaran.
“Nggak. Ini cuma sampai kolam renang aja, terus jalur muter lagi ke sini,” jawab Sarah.
Dan akhirnya keenam perempuan itu fokus dengan olahraganya. Bagi yang jarang berolahraga seperti teman-teman kost Mayang, rasanya memang agak berat. Mayang sendiri sejak janjian dengan Dio hendak jogging rutin di Senayan, belum sempat terlaksana akibat kesibukan masing-masing. Maka dari itu Mayang memulainya dengan pelan-pelan saja agar tubuhnya tidak kaget.
Saat mereka sudah berada di ujung track yang berada tepat di ujung area kolam renang, tiba-tiba Mayang teringat pada sepasang mata merah yang dilihatnya malam itu. Mayang melirik sekilas dengan jantung berdebar ke arah semak-semak rimbun di sisi bukit yang menempel pada dinding pembatas area villa milik Dio. Di situlah saat itu Mayang melihatnya, mengintip dari balik semak-semak itu, menyalangkan mata merahnya kepada Mayang.
Tetapi dengan suasana cerah dan udara perbukitan yang sejuk di pagi hari ini, sulit untuk merasa ketakutan pada hal yang toh sekarang juga tidak tampak lagi. Apalagi suara canda tawa teman-temannya yang terasa menular membuat Mayang mau tak mau ikut tertawa di antara napasnya yang tersengal-sengal.
Setelah dua kali putaran, mereka semua sudah terlihat kelelahan kecuali Sarah. Mereka jatuh bergelimpangan di tengah rerumputan dekal kolam air mancur kcil di halaman depan. Semua terlihat kehabisan napas kecuali Sarah yang masih tanpak fit dan gesit, hanya sedikit berkeringat saja.
“Woi! Olahraga kok nggak ngajak-ngajak, sih!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah atas. Keenam perempuan itu mendongak, dan mendapati sosok Reindra, Dio dan Adelio sedang menjulurkan kepala melalui jendela kamar Dio yang terletak paling ujung.
“Kalian kebo banget sih, tidurnya! Males banguninnya!” balas Sarah keras.
“Rese lo, Sar!” balas Reindra sembari mengacungkan tinjunya.
“Ya udah kita masuk, yuk! Haus, nih!” ajak Mayang yang disetujui oleh kelima orang lainnya yang segera mengikuti langkahnya masuk ke dalam villa kembali.
Mereka segera menuju ke arah dapur untuk mengambil minum. Di dapur telah tampak Mang Ujang yang sepertinya sedang sibuk menjerang air panas untuk membuatkan mereka minuman.
“Pagi, Mang Ujang,” sapa Mayang sambil memasuki dapur.
Mang Ujang menoleh dan membungkuk ramah. “Pagi, Mbak Mayang,” balasnya. “Wah, habis pada olahraga ya? Mbak semuanya mau minum apa, ini? Teh? Kopi? s**u?”
“Mau minum air dingin dulu Mang Ujang, panas banget nih habis olahraga,” sambar Sarah sembari mengambil gelas di laci kitchen set.
“Silakan, Mbak Sarah,” ucap Mang Ujang mempersilakan, “ini saya buatkan teh dan kopi. Nanti ambil sendiri saja ya, Mbak.”
Mang Ujang menyiapkan beberapa gelas teh dan kopi juga satu teko untuk refillnya, kemudian meletakkannya di tengah meja. Setelah itu ia membawa dua buah piring besar yang tertutup serbet lebar dari meja kitchen set ke meja makan.
“Waaah, apa nih Mang Ujang?” tanya Indah antusias sambil membuka serbet di atas salah satu piring.
“Ini gorengan sama rebusan, Mbak Indah,” jawab Mang Ujang. “Silakan Mbak, ini baru matang loh, dibikinin sama istri saya.”
“Waduh, istri Mang Ujang baik banget siih, masak terus buat kita,” komentar Sarah sambil menarik kursi makan dan duduk di atasnya, siap menyantap sarapan paginya. Di atas meja kini sudah terbuka satu buah piring besar berisi ubi dan pisang rebus, serta satu piring lagi yang berukuran lebih besar berisi pisang goreng, tahu goreng isi, bakwan serta cireng lengkap dengan saus kacangnya.
“Makasih ya Mang Ujang, jadi repot gara-gara kita datang,” ucap Mayang.
“Sama-sama Mbak. Ya nggak repot kok, saya sama istri malah senang kalau Mas Dio sering bawa teman-temannya ke sini. Biar villanya nggak kosong terus,” ucap Mang Ujang. “Silakan Mbak, saya mau ke kebun lagi.”
“Terima kasih yaaa, Mang Ujang,” ucap semuanya serempak.
“Sama-sama, Mbak,” jawab Mang Ujang yang langsung pergi meninggalkan area ruang makan dan dapur.
“Mm … enak nih cirengnya, coba deh gaes!” komentar Dira sembari mengunyah sepotong cireng yang masih hangat itu. “Pakai saus kacang ini, deh. Enak banget!”
“Wooyy! Kalian ini bener-bener, deh!” Terdengar suara Reindra memasuki ruang makan. “Tadi jogging nggak ngajak-ngajak, sekarang sarapan nggak ngajak-ngajak.”
“Maaf, maaf, udah keburu laper soalnya,” sahut Mayang tertawa sembari menyuap sepotong pisang rebus ke mulutnya.
Segera saja semuanya duduk mengelilingi meja untuk menikmati sarapan pagi yang sangat nikmat itu. Udara jam delapan pagi yang terasa seperti udara dini hari membuat mereka merasa benar-benar sedang liburan.
“Kalau tadi kita nggak olahraga, pasti kita masih kedinginan ya, sekarang?” komentar Nurin.
“Iya. Suhunya sekarang lebih dingin dibandingkan waktu kita ke sini sebelumnya. Ya kan, Dio?” tanya Reindra mengonfirmasi.
“Iya. Minggu ini lagi dingin terus katanya,” jawab Dio.
“Gue liat di alat pengukur suhu di ruang tengah tadi, suhunya 20 derajat celcius,” ucap Adelio yang terlihat sangat menikmati gorengan tahu dan bakwannya yang berlumur saus kacang.
“Pantesan. Padahal semalam nggak terlalu dingin, loh,” ucap Dira.
“Kadang-kadang emang pagi sama malam tuh, lebih dingin pagi,” sahut Dio.
“Benar juga, sih,” ucap Dira menyetujui.
“Eh, nanti malam jangan lupa pada pakai jaket tebal, yah. Kan kita mau nongkrong di luar semalaman,” ucap Dio. “Pada bawa baju yang tebal, kan? Kalau ngga bawa kayaknya gue punya cadangan di lemari gue."
“Bawa, kok,” jawab semuanya kompak.
“Ngomong-ngomong, kita mau mulai setting untuk fotonya jam berapa, Sar?” tanya Dio.
“Nggal perlu disetting lagi sih, kayaknya, area kolam renang lo udah bagus dan rapi. Kan kita mau bikin tema natural aja. Paling tambahannya nanti cuma tenda-tenda atap dan panggangan barbeque, kan?” ucap Sarah.
“Iya, ngga perlu terlalu banyak tambahan. Kan, fotografernya udah jago. Skillnya tinggi,” puji Adelio tiba-tiba, membuat Sarah nyaris tersedak cireng.
Yang lain tertawa mendengar Adelio yang sepertinya sangat bucin terhadap Sarah. Tanpa malu ia selalu memberikan pujian pada Sarah, tetapi tidak terdengar sedang menggombal sedikitpun. Terlihat sekali kalau Adelio memang tulus memyukai Sarah.
“Jadi siang sampai sorenya, kita bisa jalan-jalan dulu, kan?” tanya Dio pada Sarah. “Balik jam delapan atau sembilan bisa kali, yah?”
“Bisa banget,” ucap Sarah mengangguk. “Metetor showernya itu diperkirakan baru bisa terlihat beberapa menit sebelum tengah malam, kok. Iya kan, May?” tanya Sarah mengonfirmasi.
Mayang mengangguk.
“Ya udah, kalau gitu hari ini kita mau jalan-jalan ke mana, nih? Gue sih terserah kalian aja,” ucap Dio menoleh ke teman-temannya yang lain.
“Lo nggak ke Kafe Daun, Dio?” tanya Mayang mengingatkan.
“Iya, nanti mampir sebentar aja di sana. Setelah itu kita bebas, mau jalan ke mana aja,” ujar Dio. “Mau liat tempat yang bernuansa alam atau mau ke tempat gaul?”
“Tempat gaul bukannya yang kayak kafe lo itu, Dio?” tanya Nurin. “Sekalian aja kita nongkrong di tempat lo gaulnya.”
“Nah, bener tuh!” ucap Sarah mendukung. “Kafe Daun yang di sini tuh nuansanya beda banget loh, sama yang di Jakarta. Lebih menjual viewnya, soalnya posisinya udah hampir naik ke arah Lembang. Bagus banget buat nongkrong sore atau malam.”
“Ya udah, kalau gitu kita ke Kafe Daunnya sore aja yah, menjelang sunset. Terus, siangnya kita ke mana?” tanya Dio.
“Tempat wisata yang banyak jajanannya,” usul Indah.
“Oh iya, kan ada itu tuh, floating market atau semacamnya,” ucap Adelio.
“Nah iya, ke situ aja,” ucap yang lainnya setuju.
“Oke, siap!”