Semua menoleh ke arah sosok itu yang datang menghampiri mereka dengan langkah cepat. Wajahnya tampak merah menahan marah. Matanya juga tampak merah dan sembab. Ia sampai di meja yang ditempati oleh Reindra, Sarah dan yang lainnya, kemudian berdiri dengan napas memburu, menatap nyalang pada mereka semua. “Mana dia?” tanyanya dengan suara kasar. “Mana si Mayang pembawa kutukan itu?” Dea berkacak pinggang dengan membelalakkan matanya yang masih merah habis menangis pada semua yang ada di situ. “Heh, sopan sedikit ya kalau ngomong!” Dira berdiri dari duduknya dan menegakkan tubuh menghadapi Dea. “Mayang lagi dirawat di ruang intensif!” “Halaaah! Ngapain pake dirawat segala? Nggak usah sok sakit! Dio yang meninggal kenapa dia yang dirawat? Bener kan, apa gue bilang? Mayang itu pemba

