"Kak Zam." "Hmm." "Kak Zam." "Apa?" "Liat Ayya dulu, ihh! Dari taksi jalan sampe sekarang matanya natap laptop terus. Awas aja setelah ini Kak Zam bakal sikap sama dunia perkantoran, Ayya bakal ngambek selama ribuan Purnama." "Alay." sahut Panji dari Arah depan. "Kenapa?" tanya Zam, menutup laptopnya dan menatap Ayya. Pasti perempuan satu ini menginginkan sesuatu. "Pengen beli balon," ujarnya dengan senyuman manis yang dibalas Zam dengan gelengan tegas, ada-ada saja. Mendingan Zam kembali melanjutkan bacannya mengenai laporan perusahaannya yang begitu banyak masuk. "Kak Zam ihh! Ayya pengen balon." Merasa Ayya tidak akan menyerah, Zam meminta supir untuk berhenti. Zam menatap keluar mobil ternyata benar, diluar sana ada penjual balon entah apa guanya, Zam cukup membelinya saja

