Suasana meja makan hening, hanya suara sendok yang bersuara sesekali. Zam pun tidak berniat membuka suara karena merasa bukan ranahnya sama sekali, sedang Ayya tetap bersikap biasa saja padahal sejak tadi Ayya tau, Arinka sesekali curi-curi pandang kearahnya. Sepuluh menit kemudian acara makannya selesai, Ayya yang berniat membawa piringnya ke wastafel terhenti karena Arinka tiba-tiba saja mengambil piring itu darinya, tanpa suara sama sekali hanya memberikan senyum manis pada putrinya. "Mau ke kamar?" tanya Zam setelah Arinka berlalu kearah wastafel. "Jangan dulu, aku pengen makan kue." tolak Ayya, berdiri untuk mengambil pisau di tempatnya. "Mau kemana? Biar aku yang ambilin." Zam dengan cepat menarik Ayya duduk kembali, berdiri di samping perempuan itu. "Kayaknya aku udah semb

