Pov Azzam. Helaan napasku terdengar beberapa kali pertanda ini bukan keputusan yang mudah, banyak hal yang harus aku pertimbangkan sebelum meminta pertemuan yang tidak pernah kurencanakan terjadi. Bertemu apalagi berada satu meja dengannya bukan keinginanku, seperti sekarang. Aku dan Ayya sudah sampai sejak tadi hanya saja masih berada didalam mobil dengan kaca mobil terbuka, takutnya jika dibiarkan tertutup orang-orang akan berpikiran yang tidak-tidak. "Kak? Tante Caila sudah menunggu." perkataan itu telah Ayya katakan berulang kali, "Sebentar," jawabanku masih sama dengan sebelumnya, "Yaudah, bagaimana kalau kita tunda saja dulu? Nanti kalau kak Zam ada waktu ataupun sudah merasa siap baru atur pertemuan lagi. Aku yakin Tante Caila dan Om Derax pasti mengerti," Ayya dengan seg

