Pertemuan Yang Tak Terduga

1695 Kata
  Part 10 : Pertemuan Yang Tak Terduga   Happy Reading ^_^   ***   Daniel selalu merasa jengkel jika diberi tugas untuk menjemput adiknya. Kenapa pula dia harus diberi tugas ini disaat Daniella –adiknya- punya sopir yang siap mengantar-jemput kapanpun? Daniel merasa membuang-buang waktu. Belum lagi dengan Daniella yang kadang tidak tahu diri dan terus mengulur waktu. Ditambah juga dengan teman-teman Daniella yang cukup centil karena bertemu dengannya dan itu membuatnya risih.   Dan sekarang cobaan Daniel bertambah saat harus memasuki gedung aneh yang disebut-sebut sebagai ice rink –atau apalah. Ini semua gara-gara Daniella yang mengeluh membawa barang terlalu banyak dan butuh bantuan untuk mengangkutnya kembali.   Daniel berkacak pinggang sambil memainkan ponselnya. Wajahnya bertambah suram saat pesannya untuk adiknya tak kunjung dibaca. Kepalanya mengedar untuk mencari adik satu-satunya. Pandangannya tertuju pada lapangan dari es yang menjadi center dari ruangan ini. Ada beberapa orang di situ, tapi Daniel sangat paham bentuk adiknya dari jarak jauh sekalipun. Matanya menyipit.   Dia melihat sosok yang cukup familiar, tapi bukan adiknya. Matanya semakin menyipit karena dia belum yakin akan sosok itu.   “Kak!”   Daniel menatap sumber suara. Adik yang dicarinya datang dengan dua tas jinjing besar dan senyum lebar yang memuakkan. Daniel mendengus.   “Kamu pasti bakal kakak tinggal kalo dalam beberapa menit lagi nggak dateng,” cibir Daniel melihat senyum merekah adiknya. “Lagian kenapa juga sih harus banget nelpon Mama dan nyuruh kakak yang ke sini? Kamu kan ada supir.”   “Aku jauh lebih seneng menyusahkan kakak daripada pak supir –jadi, please, angkatin barang-barang aku ke mobil.” Kata Daniella dengan cengiran lebar yang selalu sukses membuat kakaknya jengkel setengah mati.   “Kamu itu punya dua tangan yang sehat, dan tanpa malu menyuruh kakak kamu untuk membawa barang-barang kamu ke mobil? Betapa nggak bersyukurnya kamu, Daniella.” Cibir Daniel yang membuat adiknya melotot.   “Kata siapa kedua tangan aku sehat? Tangan aku yang kiri tuh nggak sehat. Sakit tahu!”   Mata Daniel langsung membulat. insting protektif Daniel sebagai seorang kakak muncul.   “Kamu terluka? Siapa yang melakukannya?” tanyanya dengan nada menuntut.   Sebelumnya dia mungkin terdengar jengkel karena adiknya yang selalu menyusahkannya, tapi itu tidak benar-benar bermakna seperti itu. Daniel hanya ingin adiknya lebih termotivasi agar menjadi lebih dewasa dari kalimat-kalimat sindirannya. Pada akhirnya Daniel tetaplah seorang kakak yang ingin segala yang terbaik untuk adiknya.   “Aku terluka di sana,” Daniella menunjuk ke arah ice rink. “Itu kesalahanku karena lupa larangan pelatih kami. Aku dilarang memasuki area itu karena di sana ada senior kami yang sedang berlatih untuk kompetisi. Dia sedang melakukan lompatan dan putaran dengan satu kaki dan aku hampir menabraknya. Tapi untungnya ada satu seniorku yang lain yang datang menolongku sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku benar-benar beruntung.”   “Mau periksa ke dokter?” tawar Daniel dengan nada sedikit panik.   “Nggak perlulah, astaga,” Daniella terkekeh. “Lagian cuma kayak pegel-pegel aja. Nggak sampe terkilir kok. Lagian aku malah lebih khawatir dengan senior yang menolong aku tadi. Dia tersungkur lumayan keras.” Tambah Daniella untuk menenangkan kakaknya.   “Nggak bisa ya kamu sedikit lebih hati-hati? Kamu sudah sebesar ini dan masih ceroboh. Kamu membahayakan diri kamu dan juga orang lain.”   “Aku tahu, kak...”   Daniella menunduk dengan bibir yang dimanyunkan. Adiknya selalu seperti ini –ceroboh dan manja. Dan juga sangat tidak suka ketika dinasehati.    “Lalu siapa yang menolong kamu tadi?”   “Namanya kak Laura. Dia sangat cantik, sangat baik, dan sangat hebat. Aku kagum sekali dengannya.”   Daniel memutar bola matanya. Sungguh dia tidak peduli dengan kak Laura yang sangat cantik, baik, dan hebat itu. Dia hanya peduli dengan fakta kalau dirinya berhutang terima kasih pada perempuan itu karena sudah menolong adiknya.   “Kalau begitu kakak harus bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih. Di mana dia sekarang?”   Daniella mengedarkan matanya dan menunjuk seseorang yang sedang meluncur dengan cepatnya di atas ice rink. Daniel ikut memerhatikan sosok yang ditunjuk adiknya. Tunggu, itu orang yang dirasa Daniel sangat familiar, tapi dia lupa siapa namanya. Inilah orang yang hampir dilupakan oleh Daniel karena mendadak adiknya datang dan menginterupsinya tadi. Matanya membelalak terkejut saat melihat perempuan itu melompat dan terjatuh dengan cukup keras. Apa yang dilakukan orang itu, batin Daniel risih dengan apa yang dilihatnya.   Tunggu, bukankah itu...   “Clara...” gumam Daniel pada dirinya sendiri. Perempuan itu jatuh dengan posisi menghadap ke tribun tempatnya berdiri sekarang. Walau perempuan itu tidak menatap langsung ke posisinya, tapi dari angle ini jelas sekali kalau perempuan yang ada di ice rink dan terasa familiar tadi adalah Clara. Lalu kenapa Clara ada di sini?   “Oughh, pasti rasanya sakit sekali. Setelah tadi dia jatuh tersungkur karena menyelamatkan aku dan sekarang dia harus terjatuh lagi.” Ujar Daniella seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Dia yang menolong aku tadi, kak. Bukankah dia hebat sekali? Lihat betapa gigihnya dia dalam berlatih.”   “Dia yang menolong kamu? Siapa namanya tadi?” Daniel bertanya untuk memastikan kalau antara telinganya dan juga penglihatannya tidaklah salah.   “Kak Laura. Aku lupa nama lengkapnya, tapi kalau tidak salah namanya adalah Lauren... atau Laurencia? Entahlah aku lupa.” Jawab Daniella dengan cengiran bodoh.   Daniel menatap si pemilik nama Lauren, Laurencia, atau Laura itu dengan tatapan terpana. Semuanya sama –kecuali aura yang mereka pancarkan sedikit bertentangan. Bagaimana bisa ada seseorang yang mirip sekali dengan Clara, bahkan namanya pun terdengar hampir serupa.   “Apa dia punya kembaran?” tanya Daniel dengan raut penasaran yang sangat kentara. Terlihat jelas sekali kalau dirinya menyimpan segudang pertanyaan untuk memenuhi rasa penasarannya.   Daniella tergelak. “Kak, mana aku tahu. Aku baru memasuki klub ini dua minggu yang lalu. Aku juga baru bertemu dia hari ini.”   “Kalau begitu kita harus bertemu dia lagi. Sekarang.”   “Memangnya untuk apa?”   “Tentu saja untuk berterima kasih. Kita bisa mentraktirnya makan.” Kata Daniel dengan maksud terselubung.   Mata Danielle membulat tak percaya dengan reaksi kakaknya yang cukup berlebihan. Kakaknya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aneh sekali, pikir Daniella.   ***   “Kak Laura!”   Laura mematung di tempatnya. Astaga, cobaan apalagi ini, Tuhan? Kenapa dari sekian banyak tempat, Laura harus bertemu dengan pria menyebalkan itu? Dan kenapa juga dia berdiri di belakang salah satu juniornya di klub ini?   “I-Iya...” jawab Laura dengan tergagap. Laura berusaha tersenyum, walaupun pada akhirnya dia yakin senyumnya pasti terlihat aneh. Bertemu teman Clara di tempatnya yang sangat pribadi cukup beresiko.   “Kak, kenalkan ini kakak laki-lakiku. Namanya Daniel.” Kata Daniella dengan senyum sumringah.   “Okay, terus?” -ya terus buat apa sih lo ngenalin kakak lo ke gue? Batin Laura menambahkan dengan frustasi. Kalimatnya yang menggantung dia sampaikan dengan nada suara sebiasa mungkin, walau sebenarnya Laura ingin lari detik ini juga. Ekspresi wajahnya pun dia buat seramah mungkin karena di sini dia adalah Laura yang tidak mengenal juniornya maupun kakaknya yang bernama Daniel sialan itu.   “Aku tadi menceritakan tentang kakak yang menolong aku ke kakak aku. Dan dia mau berterima kasih secara pribadi.”   Ya ampun, ini anak lebay banget sih. Gue nggak butuh terima kasih lo, adeekkkkk! Jawab Laura dalam hati.   “Its okay, gue ngelakuin itu karena gue nggak pengen ada yang terluka. Lo masih baru di sini, jadi sayang aja kalo udah cedera di awal-awal.” Jawab Laura secuek mungkin.   “Hai, gue Daniel,”   Ya ampun, ini cowok ngapain pake salam-salaman segala sihhhh! Batin Laura sambil memerhatikan tangan Daniel yang terulur ingin menjabat tangannya. Seandainya pintu ke mana saja punyanya Doraemon memang ada, Laura benar-benar ingin minggat ke mana pun asal tidak ada Daniel atau siapapun yang merupakan teman Clara. Bisa ambyar semua rencananya kalau begini!   “Hai, juga...” Laura membalas jabat tangan itu dengan setengah hati. Ekspresinya masam, antara malas dan juga bingung harus bagaimana.   “Gue cuma mau ngucapin terima kasih ke lo karena udah nolongin adek gue. Dia memang ceroboh banget, tapi thanks banget.”   Laura memaksakan kedua sudut bibirnya agar melengkung ke atas. Gue nggak butuh terima kasih lo, astaga!   “... btw, lo ada yang luka nggak? Daniella ngeluh lengannya agak pegel-pegel karena jatuh tadi. Berhubung lo yang nolongin dia, jadi gue agak khawatir lo luka agak parah. Gimana keadaan lo?”   Oh, jadi nama junior gue ini Daniella. Daniel dan Daniella... mirip banget astaga! Dari nama yang hampir serupa, keluar dari rahim yang sama, dan keduanya sama-sama menyusahkan gue! Batin Laura bersuara lebih dulu untuk menyuarakan pendapatnya.   “Gue nggak apa-apa, kok. Gue cukup tahan benturan, jadi kalian nggak perlu khawatir.” Laura berusaha menenangkan. Semakin cepat adik-kakak itu tenang, semakin cepat juga adik-kakak itu akan pergi. Dengan begitu Laura dan seluruh rencananya tidak akan ada masalah.   “Beneran? Gue nggak enak banget sih sama lo. Gimana kalo gue traktir makan?”   Mata Laura langsung membeliak. Demi anjing-anjing yang hobi berkeliaran di komplek perumahannya, Laura benar-benar ingin memaki situasi ini. Sialan! Niatnya adalah membuat adik-kakak itu tenang dan segera pergi, tapi kenapa mereka justru menawarkan traktiran makan setelah ditenangkan?   “Nggak perlu, nggak perlu!” tolak Laura dengan cepat. “Gue –gue lagi diet. Sebentar lagi kompetisi dan gue harus banget jaga pola makan gue. Ini masih sore dan kalo gue makan sekarang, bisa-bisa pas nanti malem gue kelaperan lagi.” Laura menjelaskan dalam sekali tarikan napas. Semoga saja yang tadia dia katakan cukup masuk akal untuk diterima adik-kakak yang sangat menyusahkan Laura ini.   “Yah, kak...”   “Laura!”   Mendengar suara Miss. Berlin membuat Laura merasa ada angin segar yang menghantam tubuhnya yang kepanasan karena mencari sejuta alasan halus untuk mengusir adik-kakak yang tidak peka itu.   Laura mengacungkan telunjuknya dan matanya membulat senang. “Kalian dengar kan? Gue udah dipanggil sama pelatih gue. Gue harus latihan sekarang. Bye!”   Tanpa permisi Laura langsung meninggalkan adik-kakak yang sangat merepotkannya itu. Sementara itu baik Daniel maupun Daniella nampak termenung dengan pemikiran masing-masing. Daniella lebih cenderung ke rasa kecewa karena gagal makan bersama seniornya yang luar biasa, sementara Daniel lebih ke arah penasaran dengan sosok senior adiknya yang begitu mencurigakan. Bahkan rasa penasaran Daniel tak kunjung sirna meski mereka sudah bertemu, berjabat tangan, dan saling mengobrol –walaupun hanya sebentar. Semua itu justru membuat Daniel semakin penasaran akan sesuatu.   Daniel merasa familiar saat melihatnya melenggak-lenggok di atas ice rink. Dan ternyata dia mirip sekali dengan Clara –teman sekelasnya. Mungkinkah mereka kembar? Batin Daniel bertanya-tanya mengingat nama Clara dan Laura yang terdengar hampir serupa. Dan setelah pertemuan singkat tadi, rasa familiar Daniel akan sosok Laura semakin meningkat. Kali ini bukan karena wajahnya yang serupa dengan Clara, tapi sikapnya yang persis seperti Clara belakangan ini. Clara yang dulu sangat pendiam dan tenang, tapi Clara yang sekarang? Sikapnya persis seperti Laura yang tadi ditemuinya.   Bisakah seseorang mengubah sikapnya dalam waktu singkat? Atau jangan-jangan bukan sikapnya yang berubah, melainkan orangnya memang berubah. Bisakah? Daniel menyimpulkan dalam hati.   TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN