Kekhawatiran Laura

1703 Kata
  Part 8 : Kekhawatiran Laura   Happy Reading ^_^   ***   Laura menatap rumah sakit dengan hampa. Rumah sakit selalu bukan tempat yang menyenangkan untuk sekedar disinggahi walau dalam waktu singkat. Saat kecil Laura sering menginjakkan kakinya di sini untuk terapi. Saat beranjak dewasa pun dia sering kemari untuk memeriksakan tulang punggungnya yang sering nyeri karena latihan yang berlebihan. Dan kali ini memang bukan dia, tapi adiknya yang sakit. Atau lebih tepatnya koma tanpa kejelasan kapan akan bangun.   Laura menunduk dalam-dalam. Saat di asrama, sesekali dia terlupakan oleh kondisi adiknya. Kadang dia tertawa karena kekonyolan teman-teman Clara, tapi di malam yang sunyi Laura dilanda perasaan takut setengah mati. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya. Bahkan rasanya sangat menyesakkan memikirkan hal itu.   “Ma...”   “Laura, kapan kamu datang, nak? Maaf karena Mama nggak menyadarinya...”   Mamanya memasang raut wajah bersalah dan Laura langsung memahaminya. Mamanya mungkin sadar bahwa belakangan ini jauh lebih memerhatikan Clara daripada dirinya. Laura tidak iri, justru ini sangat baik untuk rencananya. Dia bisa mengelabui Mamanya dan menjadi Clara untuk mengungkap kebenaran dari kondisi adiknya.   “Its okay, Ma. Nggak masalah kok...” Laura menatap adiknya sekilas dan menghela nafas. “Bagaimana keadaan Clara beberapa hari ini?” tanyanya dengan pahit.   Mamanya mengangkat bahu. Dari gerakannya Laura tahu Mamanya berusaha untuk tegar, tapi mata Mamanya menjelaskan semuanya dengan baik. Sebentar lagi –setelah dirinya pergi- Laura yakin Mamanya pasti akan menangis.   “Seperti yang kamu lihat –dia terlihat baik-baik tapi tidak kunjung bangun. Mama tidak tahu harus bagaimana lagi, Laura.”   “Clara pasti akan baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir yang berlebihan,” Laura menjeda dengan senyum tipis. Pandangannya menerawang masa lalu. “Mama ingat saat aku masih sangat kecil dan koma? Keadaanku waktu itu pasti seperti Clara –terlihat baik-baik saja tapi tak kunjung bangun. Tapi buktinya aku bangun ketika aku siap. See? Aku baik-baik saja, Ma. Aku bersama kalian sekarang ini.” Laura berusaha menenangkan Mamanya. “Kita harus yakin kalau Clara akan baik-baik saja dan akan bersama kita di masa depan. Kita harus percaya pada tim dokter dan juga pada Clara. Dia akan bangun ketika dia siap untuk bangun dan menjelaskan semua misteri ini, Ma.”   Mamanya mendekat dan memeluk Laura dengan kuat. Laura membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. Dalam pelukan itu, Laura hampir menitikkan air matanya. Tapi buru-buru Laura menghapusnya karena tidak ingin Mamanya melihat bulir-bulir air mata itu.   Tubuh Mamanya memang sedikit lebih besar dari dirinya, tapi dalam pelukannya Laura tahu kalau tubuh Mamanya sedang sangat lemah. Bahkan lebih lemah dari dirinya. Laura sadar kalau saat ini hanya dirinyalah yang bisa membuat Mamanya tegar. Karena itu mengumbar air mata atau apapun yang tujuannya untuk menunjukkan betapa tersiksanya dia merupakan pilihan yang tidak bijaksana.   “Terima kasih, sayang. Mama benar-benar beruntung karena sekarang ada kamu di sisi Mama.”   Laura tersenyum miris dalam pelukan Mamanya.   “... saat kamu koma, Clara masih sangat kecil. Mama yakin dia tidak paham dengan keadaan kamu. Waktu itu Mama benar-benar sendiri dengan keyakinan bahwa Mama akan kehilangan kamu. Dulu Mama benar-benar tersiksa dengan keadaan itu,” Mama melepaskan pelukannya dan menatap Laura lekat-lekat. Dalam tangisannya, Laura melihat seberkas senyum penuh kebanggaan. “Tapi sekarang ada kamu. Sekarang Mama juga sama tersiksanya dengan kondisi Clara yang tidak pasti –tapi ada kamu, sayang. Ada kamu yang terus meyakinkan Mama bahwa semuanya akan baik-baik saja. Terima kasih.”   Laura mengangguk. Air matanya menetes. Tapi alih-alih mencerminkan kesedihan, air mata itu justru menunjukkan betapa bahagianya dia karena ucapan Mamanya. Laura merasa berguna di saat-saat seperti ini.   “Ma, please jangan nangis lagi kayak gini. Nanti kalo aku ikutan nangis gimana? Nggak lucu banget mata aku sembab pas latihan nanti.”   Mama Laura terkekeh dalam tangisannya. Dia langsung menghapus air matanya dan juga air mata putri sulungnya.   “Ini tangisan terakhir kita, okay? Kita harus kuat dan jangan menangis lagi. Pertama, karena kamu harus latihan dan nggak lucu kalo matanya sembab. Kedua, karena Mama yakin Clara juga nggak suka kita menangis seperti ini.”   Laura tertawa.   “... deal ya, sayang?”   “Deal, Ma.”   Laura mengangguk mantap sebagai jawaban. Dia tersenyum, begitu juga dengan Mamanya. Laura merasa kalau bebannya sedikit terangkat kali ini. Sekarang dia hanya perlu memikirkan latihannya dan juga cara membongkar kejahatan Felixia.   “Tapi, Ma, kayaknya aku nggak akan bisa menjaga Clara meskipun ini weekend. Kompetisi udah semakin dekat dan aku harus lebih giat berlatih –itu pesan Miss. Berlin.”   “Nggak masalah, sayang. Mama bisa menjaga Clara sendirian. Kamu pikirkan saja latihan kamu.” Mama Laura menghela napas. “Seharusnya malah Mama yang meminta maaf pada kamu, nak. Mama mungkin akan lebih sibuk mengurusi Clara daripada kamu, bahkan di weekend sekalipun, dan Mama minta maaf karenanya. Mama nggak pengen kamu merasa tersisihkan karena Mama lebih sibuk mengurusi Clara sekarang ini.”   Laura menyentuh tangan Mamanya dan mengusapnya dengan lembut untuk meyakinkan. “Ma, itu bukan masalah sama sekali. Aku udah gede dan ada ART di rumah yang bisa mengurusi semua keperluan aku. Mama nggak perlu khawatir.”   “Syukurlah kalo kamu berfikir seperti itu,” Mama Laura tersenyum tipis pada putrinya. “Kamu boleh fokus latihan, tapi jangan abaikan kesehatan kamu. Kompetisi itu penting, tapi kesehatan kamu jauh lebih penting, Laura. Langsung hubungi Mama kalau kamu merasa ada yang aneh dengan tubuh kamu, paham?”   “Paham, Ma...”   Mamanya mengusap kepala Laura dengan diiringi senyum lebar. “Doakan Clara segera sadar, nak. Dengan begitu, Clara bisa menonton kompetisi terbuka kamu yang pertama kalinya. Dia pasti akan sangat bangga karena kakaknya berhasil meraih hal yang selama ini dimimpikannya.”   Laura benar-benar harus segera pergi sebelum dia menangis lagi. Harus.   ***   Mungkin inilah yang dikhawatirkan oleh Miss. Berlin, pikir Laura.   Mengubah waktu latihannya dari lima hari dalam seminggu menjadi dua kali dalam seminggu sangat beresiko. Laura benar-benar menyadarinya saat sekarang tubuhnya terasa tidak selentur biasanya. Bahkan Laura beberapa kali melewati ketukan musik karena harus berfikir terlebih dahulu. Laura benar-benar merasa gerakannya tidak ada yang indah sedikitpun.   Sebenarnya ini tidak akan terjadi kalau Laura masih berlatih secara sederhana meskipun tidak full latihan di ice rink. Saat jadwal perpulangan, Laura selalu melakukan latihan sederhana di rumah untuk memastikan tubuhnya tetap ingat semua gerakan tanpa perlu latihan ke ice rink yang sebenarnya. Dia akan berputar-putar, melangkah, atau melompat kecil. Orang-orang mungkin akan melihatnya dengan aneh, tapi Mama dan Clara tahu kalau itu salah satu bentuk dari caranya mengingat koreografi.   Dan selama menjadi Clara, Laura tidak pernah melakukan latihan sederhananya sama sekali. Dia tidak melakukan latihan sederhana, Dia tidak menjaga pola makannya, dia tidak olahraga pagi atau pun sore hari, dan dia juga tidak melakukan strecthing sebelum tidur. Laura benar-benar melupakan semuanya saat menjadi Clara. Dan inilah hasilnya. Laura merasa jengkel dengan dirinya, tapi wajar jika itu terjadi.   Laura melompat –entah untuk yang ke berapa kalinya- dan berakhir dengan pendaratan yang tidak sempurna yang membuat Laura terjatuh dalam posisi duduk. Laura langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Sudah tak terhitung berapa kali dia jatuh selama ini, tapi baru kali ini Laura merasa sangat buruk.   “Laura, Laura!”   Dari kejauhan Laura mendengar Miss. Berlin menyerukan namanya. Dari nada suara Miss. Berlin, Laura tahu kalau ini saatnya dia untuk beristirahat dulu.   “Laura, kamu terlalu mendorong diri kamu hari ini. Apa kamu tidak sadar bagaimana jadinya kalau kamu sampai cedera?”   Laura menunduk menyesali semua hal yang terjadi padanya hari ini. “Maafkan aku, Miss.”   “Yang kamu bahayakan adalah diri kamu sendiri, jadi minta maaflah pada diri kamu sendiri, paham?” Laura mengangguk dan Miss. Berlin mengamati Laura dengan sedih. “Apa keadaan Clara belum ada kemajuan?”   Sebenarnya bukan hanya keadaan Clara saja yang menjadi bahan pikiran Laura. Ada banyak hal, tapi sayangnya dia tidak bisa menceritakannya pada siapapun. Pada akhirnya Laura hanya bisa mengangguk dengan perasaan campur aduk. Seandainya saja ada seseorang yang bisa dia jadikan teman untuk membeberkan rahasia ini, batin Laura dengan muram.   “Aku tahu kamu sedang sedih, Laura, tapi pikirkan juga kompetisi kamu. Kecuali kamu sudah tidak menganggapnya penting lagi –maka aku akan membiarkan kamu pulang sekarang juga.”   Laura menatap Miss. Berlin dengan ekspresi lelah –lelah pikiran, hati, dan jiwa.   “... tapi aku tahu kalau baik Clara atau pun kompetisi ini sama pentingnya. Aku tidak akan bisa membuat kamu memilih salah satunya karena aku tahu keduanya penting dalam hal yang berbeda. Jadi tolong kuatlah dan fokus untuk sesuatu yang sedang kamu lakukan.”   Saat bertemu Mamanya tadi, Laura sudah merasa kalau semua bebannya terangkat. Dia yakin bisa melewati semuanya dengan baik. Tapi entah kenapa dia merasa buruk sesaat setelah dia melewatkan ketukan musik dan terjatuh untuk pertama kalinya di atas ice rink hari ini. Laura merasa kecewa dan gagal.   “Sebagai seorang perempuan, aku ingin menyuruh kamu pulang dan menemani Mamamu. Tapi sayangnya kompetisi kita sudah semakin dekat dan kamu mengurangi jadwal latihan –jadi aku tidak punya pilihan selain hanya mengizinkan kamu istirahat sebentar untuk mengembalikan mood kamu. Pendaratan yang tidak sempurna, terjatuh beberapa kali, dan melewatkan ketukan musik adalah hal yang wajar. Jangan biarkan hal-hal wajar itu mempengaruhi kamu. Paham, Laura?”   Benar... gagal saat latihan adalah hal yang wajar. Bukankah itu salah satu proses yang berharga dari latihannya selama ini? Laura bisa menjadikannya pengalaman agar semuanya semakin baik di latihan-latihan selanjutnya. Laura seharusnya tidak menjadikan itu beban karena semua itu wajar –seperti kata Miss. Berlin.   “Aku akan istirahat sebentar, Miss.”   “Okay, panggil aku ketika kamu sudah siap.”   Laura mengangguk mantap. Dia berjalan menuju kursi yang ada di pinggir lapangan dan duduk menyender. Kepalanya mengamati beberapa pemula yang masih gigih berlatih skating padahal ini sudah lewat dari jam latihan mereka. Tanpa sadar seulas senyumnya terbit. Dulu dia juga seperti itu dan merasa puas meski pulang dalam keadaan kelelahan dan kaki sakit.   Mengenang masa lalu membuat Laura merasa bangga. Sudah berapa kompetisi yang dia lewati selama ini? Sudah berapa medali yang berhasil dia dapatkan? Jawabannya: sangat banyak. Dan dari banyaknya semua itu seharusnya Laura tidak mudah berkecil hati. Ini bukan kompetisi pertamanya, ini bukan latihan pertamanya, dan ini juga bukan kegagalannya yang pertama. Laura sudah pernah melewatinya dan masih baik-baik saja sampai detik ini. Dia hanya perlu yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.   Laura menghembuskan nafasnya kuat-kuat.   Laura menepuk pahanya dengan satu tarikan nafas kuat. Semangatnya sudah kembali. Dia bangkit dan hendak menyusul Miss. Berlin untuk kembali berlatih, tapi sayangnya panggilan asing itu menghentikan langkahnya.   “Kak Laura!”   Laura membalikkan tubuhnya dan mencari tahu siapa pemilik suara yang terdengar asing itu. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa orang tersebut. Matanya membulat tak percaya.   Dari sekian banyak tempat, kenapa Laura harus bertemu dia? Teriaknya dengan frustasi dalam hati.   TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN