Salad

1125 Kata
Kezia mengecup wajah Arman dengan membabi buta, sehingga mampu membuat sang junior berdiri tegak. "Keknya ada yang bangun," ledek Kezia saat melihat Arman yang seperti mengontrol deru napasnya. "Kamu sih iseng aja, awas ih," ucap Arman hendak menyingkirkan tubuh Kezia, namun, lagi-lagii Kezia malah mencumbunya. Arman yang mulai sedikit curiga dan kesal pun akhirnya mulai mengambil alih permainannya. Arman pun segera memeluk tubuh sang istri lalu menggulingkan tubuhnya sehingga kini posisi Kezia berada di bawahnya. Arman pun segera menarik tangan Kezia ke atas dan menindihnya lalu kembali mencumbu wajahnya. Perlahan, suara desahan pun keluar dari mulut mungil sang istri. "Haish aku masih haid, Abang," ucap Kezia menahan sedikit birahi yang mulai menguasainya. "Kamu duluan yang mulai godain Abang, sekarang, punya Abang bangun kamu harus tanggungjawab," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Kezia. Arman hanya tersenyum, lalu menarik tubuhnya dari atas tubuh sang istri. Kezia pun mengubah posisinya menjadi miring lalu perlahan tangannya mulai meraba area pangkal paha Arman. Arman segera mencekal lengan itu dan menggeleng pelan. "Nanti aja kalau udah bersih biar puas mainnya, kalau sekarang mah nanggung," ucap Arman dan mendapat kekehan dari Kezia. Kezia tak bisa berbuat apa lagi, ia hanya berharap semoga Arman tak marah karena uangnya ia ambil diam - diam. Arman kembali membuka aplikasi M-banking nya dan mulai mengecek mutasi rekeningnya. Ia nampak mengernyitkan dahinya saat melihat ada uang keluar. "Abang maafin, Cia," ucap Kezia saat melihat raut wajah Arman berubah. Arman pun lalu bersedekap d**a dan menarik ujung hidung Kezia yang pesek itu sehingga membuatnya sedikit meringis kesakitan. "Pantesan, sok romantis, sok ngajakin, beneran ada udang di balik terigu ternyata. Ck, belanja apa, Sayang?" tanya Arman kemudian. Kezia pun segera merubah posisinya menjadi duduk dan mensejajarkan dirinya dengan sang suami. "Banyak, ada lemari, terus skincare, bodycare sama beberapa baju. Maaf, aku khilaf duitnya sisa 20ribu doang dari 2 juta," ucap Kezia merasa menyesal. "Abang jangan marah, biarin itu berarti jatah jajanku selama 4 hari di potong," ucap Kezia kembali dan mendapat gelengan dari Arman. Arman pun lalu menarik tubuh sang istri untuk masuk kedalam pelukannya dan mengecup pucuk kepalanya pelan. "Gak papa, kurang gak?" tanya Arman kembali dan membuat Kezia sedikit terkejut. "Abang gak marah?" tanya Kezia penasaran dan mendapat gelengan dari Arman. "Nggak, asal jangan tiap hari abis dua juta, pala aku pecah nantinya," jawab Arman dengan enteng dan mendapat kekehan dari Kezia. "Bang, kalau istri boros itu, biasanya rejeki juga makin ke buka lebar, makin banyak, jadi jangan salahin aku kalau boros" ucap Kezia seakan menyeramahi Arman. "Ya, ya, ya, asal ngotak aja, gila sehari dua juta, sebulan enam puluh juta, mau ngepet dimana gua," ucap Arman lalu keduanya pun tertawa bersama. Arman pun segera bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju balkon. "Ci, bawa sarapannya kesini," titah Arman kepada sang istri. "Iya," ucap Kezia singkat. Kezia pun segera bangun dari duduknya dan membawa sarapannya menuju balkon lalu menaruhnya di atas meja kecil yang ada disana. Arman menghisap vape-nya sebentar lalu menghembuskannya. Kezia duduk disampingnya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Abang, kalau aku resign aja gimana ya?" tanya Kezia tiba-tiba. "Nggak boleh! Kamu harus cari tau dulu kenapa keuangan perusahaan bisa minus baru boleh resign," jawan Arman ketus dan sontak membuat Kezia sedikit terkejut. "Abang kok tau?" tanya Kezia penasaran dan malah membuat Arman kembali bingung. "Lah kenapa emangnya? Bukannya kamu yang kemaren bilang perusahaan lagi gak baik-baik aja?" tanya Arman balik dan mendapat kekehan dari Kezia. "Iya juga ya haha," ucap Kezia kemudian. Arman pun kemudian mengambil sandwich yang ada didepannya itu dan mulai memakannya. "Kamu dah sarapan?" tanya Arman dan mendapat gelengan dari Kezia. Arman pun lalu mencubit sebagian sandwich itu dan memasukkannya ke dalam mulut Kezia. "Sandwich nya enak," ucap Arman memuji makanan Kezia. "Iya lah, siapa dulu yang bikin," ucap Kezia senang sambil menunjuk dadanya. Arman hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Ia kembali memakan sandwich itu hingga abis satu. "Ini bikin sendiri, Yang?" tanya Arman kembali dan mendapat anggukan dari Kezia. "Hu'um, itu aku bikin sendiri, Abang suka?" tanya Kezia balik dan mendapat anggukan dari Arman . "Enak, Yang, apalagi kalau di cocol sama mayo pedes pasti lebih enak udah gitu di temenin sama bidadari anak-anakku nanti nya," ucap Arman sedikit menggombal. "Dih, bidadari apaan, haha," ucap Kezia lalu keduanya pun tertawa bersama. Setelah itu, tak ada obrolan lagi dari mereka berdua. Keduanya nampak tengah menikmati cahaya mentari yang sudah mulai beranjak naik. "Abang suka bikin salad?" tanya Kezia mencoba menghangatkan kembali percakapan diantara mereka. "Suka. Dulu, waktu Abang masih kerja di kantor, tiap minggu bakalan bikin salad sebaskom gitu. Biasanya salad sayur dan buah," ucap Arman memberitahu. "Salad sayur?" tanya Kezia memastikan. "Hu'um, isinya jagung, selada, tomat, timun sama wortel. Di taro di tempat-tempat gitu masing-masing, nah tiap hari di ambil sedikit - sedikit terus dicampur, tambahin mayonaise pedes sama telor, persis kek ini, bedanya cuma ini ditaro di di dalem roti kalau Abang di makan biasa," ucap Arman memberitahu. "Kalau yang buah, isinya apa?" tanya Kezia kembali. "Buah mah biasanya cuma paya, semangka, buah naga, kasih skm dan mayones original," jawab Arman dan mendapat anggukan dari Kezia. "Berarti harus stok di rumah ini," ucap Kezia kemudian. Hening pun kembali melanda mereka berdua, tak ada percakapan lagi, hingga akhirnya, keheningan itu pecah karena panggilan di hp Kezia. Kezia pun segera bangkit dari duduknya, dan mengambil hpnya yang diletakkan di dalam kamarnya. Ia melihat siapa yang menelponnya dan ternyata itu atasannya. ["Hallo, Ci, saya ada didepan rumah kamu,",] ucap seseorang di sebrang telpon sana. "Hah? Di depan? Ngapain, Pak?" tanya Kezia sedikit terkejut ["Ada file yang harus kamu baca dan tandatangani hari ini juga,"] ucap lelaki itu dengan sedikit dingin. "I -- iya bentar, saya ke bawah," ucap Kezia sambil memutuskan sambungan telponnya. Kezia pun segera menuju almarinya, mengambil celana yang sedikit panjang dan sopan lalu segera merapikan rambut dan wajahnya, dan segera turun ke lantai bawah. Arman hanya memperhatikan sikap Kezia yang nampak buru - buru keluar dari kamarnya itu, tanpa bertanya sepatah katapun. Saat Kezia tiba di bawah, nampak Bu Ayes yang tengah menjamu seseorang disana. "Pagi, Pak," salam Kezia kepada orang itu. "Pagi, sorry ya ganggu banget ini, soalnya urgent juga saya," ucap lelaki itu dan mendapat anggukan dari Kezia. Setelah Kezia ada disana, Bu Ayes pun segera pergi dari sana. Bu Ayes terus memperhatikan sang tamu yang nampak tampan dan sedikit gagah itu. Mungkin, jika di sandingkan dengan Kezia akan lebih cocok di banding dengan Arman. Setelah berbasa - basi sebentar, lelaki itu pun segera mengeluarkan beberapa berkas yang ia maksud. Saat Kezia tengah membaca dan memahami berkas itu, Arman pun turun dari lantai atas. "Ada siapa, Ci?" tanya Arman kepada sang istri. Arman tak memperhatikan siapa yang Kezia temui itu, dan saat lelaki itu mengalihkan pandangannya kepada Arman, Arman pun sedikit terkejut. "B -- bos?" "Hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN