"Hm, maaf," ucap Arman sedikit ketus. Ia pun segera duduk di kursi depan sang papa yang hanya tersekat oleh meja kerjanya sambil melepas masker dan juga topinya. Dari sini, ia bisa melihat jelas bahwa keadaan sang Papa benar-benar kacau dan sedikit frustasi. "Kenapa sih, Pah?" tanya Arman penasaran karena Pak Leon terus memijat kepalanya pelan. "Pusing. Perusahaan yang dikelola Winda, udah ada di ambang kehancuran. Profit 3 bulan ini ambyar semua, harus di tutup dari profit sini," jawab Pak Leon sendu. "Hm, harus cek ulang sih kalau gini," ucap Arman seraya menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. "Apa jangan-jangan Winda itu gak cocok buat jadi pemimpin ya?" tanya Pak Leon kembali dengan sedikit khawatir. Namun, Arman hanya tersenyum lalu menggeleng pelan. "Bisa, hanya perlu digem

