Malam Pertama yang Gagal

1294 Kata
"Adnan iseng banget sih jadi anak!" gerutu Kezia lalu ia pun melepas sandalnya dam melemparnya ke arah Adnan. Beruntung, Adnan berhasil menghindar darinya dan sandal itu jatuh di tempat yang kosong. Adnan dan fotografer itu pun tertawa geli karenanya. Kezia yang sedikit kesal pun hendak mengejar sang adik, akan tetapi berhasil ditahan oleh Arman dengan menarik tangannya dan menggeleng pelan. Adnan pun lalu mengambil sandal sang Kakak dan langsung memberikan kepadanya. Tak lama setelah insiden itu, Drean dan Viska pun naik keatas pelaminan dan menyalami mereka berdua. "Nemu aja lu yang cakep. Nemu dimana?" tanya Viska penasaran sambil berbisik kepada Kezia saat itu. Kezia pun hanya menyinggungkan sedikit senyumnya saja dan menepuk pelan pundak Viska. "Gak perlu tau, yang pasti aku lebih bahagia sama dia dibanding Drean," ucap Kezia ketus sambil menyeringai. Viska pun sedikit kesal dengan apa yang diucapkan oleh Kezia, ia pun segera melangkah turun dan meninggalkan Drean disana begitu saja. Sedangkan Arman, saat bersalaman dengan Drean pun hanya tersenyum mengejek. "Terimakasih sudah membuang berlian demi batu krikil ya, Bang," ucap Arman ketus namun sedikit menusuk bagi Drean. "Apa maksud kamu?" tanya Drean sedikit terkejut dan tak paham. Namun Arman hanya menggeleng pelan sambil mengarahkan tangannya menuju prasamanan. Arman pun segera mengambil tangan Kezia agar lelaki itu tak bisa menyalami. "Jangan salaman, Sayang, nanti tanganmu harus dicuci pakai kembang tujuh rupa," ucap Arman sarkas dan mendapat anggukan dari Kezia. Drean pun merasa sedikit kesal dengan ucapan itu dan segera berlalu pergi dari sana. Setelah Drean pergi, kedua insan itu pun akhirnya tertawa girang. "Makasih ya, Bang," ucap Kezia kepada Arman dan mendapat anggukan darinya. Acara pun terus berlanjut hingga malam hari. Entah mengapa, Kezia merasa tamu undangan tak berhenti-hentinya datang, padahal ia hanya mengundang sedikit temannya saja. Dan ternyata, itu adalah ulah sang Papa yang mengundang beberapa teman-teman sekantornya. Beruntung, jasa make up itu bisa di lobi sehingga Kezia bisa menambah gaun kembali dan menambah durasi sang fotografer. Karena pada awalnya, Kezia hanya memesan dua buah gaun serta jasa fotografer sampai jam 5 sore saja. Tepat pukul 21.00 barulah acara itu pun selesai dan tak ada lagi tamu yang datang kesana. Kezia dan Arman pun segera masuk kedalam kamarnya yang berada tepat di lantai atas untuk berganti baju dan beristirahat. Di dalam kamar Kezia, sudah nampak menumpuk beberapa kado dari teman-temannya yang terletak di pojok ruangan. "Wah, gede juga kamar mu ya, Ci. Eh, ada balkonnya juga ternyata," ucap Arman yang merasa takjub saat pertama kali masuk kedalam kamar milik Kezia. Kamar milik Kezia berbeda dengan kamar Adnan yang di desain tempat tidur tingkat karena kamar Adnan memang sedikit lebih sempit dan kecil dibanding milik Kezia yang luas. "Iya, ada di luar buat tempat aku merenung haha," ucap Kezia sambil terkekeh. "Merenungi aku yang gak dateng-dateng ya haha," ledek Arman dan tak lama sebuah bantal pun melayang tepat diwajahnya. Bugh! "Aww!" pekik Arman sambil memegangi wajahnya itu. "Dah sana mandi duluan, kamar mandinya ada disana," ucap Kezia sambil menunjuk sebuah ruangan dekat pintu keluar balkon. "Oke. Eh ini, tasku taro dimana?" tanya Arman kembali. Kezia pun nampak berpikir sebentar, lalu menepuk meja riasnya. "Di bawah sini aja dulu, besok paling baru di beresin sama sekalian kado-kadonya. Kalau malam ini aku cape," ucap Kezia dan mendapat anggukan dari Arman. Arman pun segera mengambil sabun cuci mukanya di dalam tasnya dan segera berlalu ke kamar mandi. Sedangkan Kezia nampak membersihkan sisa-sisa make upnya tadi. Tak lama, Kezia pun selesai membersihkan make up bertepatan dengan Arman yang keluar dari dalam kamar mandi. Aroma wangi lemon berpadu mint nampak menguar dari tubuh Arman yang nampak putih dan sedikit berotot itu. Arman pun terlihat sangat sexy dan begitu menggoda apalagi hanya menggunakan handuk di area pinggangnya saja. "Aaaaa!" teriak Kezia saat melihat tubuh Arman itu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Mendengar Kezia yang berteriak, Arman pun segera menghampiri wanitanya itu. "Jangan ngedeket, mundur gak!" seru Kezia kepada Arman. Arman pun langsung diam di tempat saat mendengar ucapan Kezia saat itu. "Kenapa, Ci?" tanya Arman penasaran. "Bisa gak sih, langsung pake baju di kamar mandi? Duh, malu kan liatnya," ucap Kezia sambil terus menutup wajahnya itu. Arman pun lalu terkekeh dan malah mendekati Kezia kembali. Kezia tak bisa kemana-mana karena di belakangnya ada meja rias yang menghalangi kakinya. Tak lama, jarak pun memangkas keduanya,.kini Arman pun telah berada tepat di depan Kezia. Kezia bisa merasakan wangi tubuh Arman yang nampak menggoda itu. Jantung pun berdegub lebih kencang saat itu. Tak hanya jantungnya, namun ia pun bisa mendengar degub jantung Arman saat itu yang sama-sama terdengar lebih kencang. Arman pun lalu mengambil jari Kezia yang menutupi wajahnya itu. Namun, meskipun jari Kezia telah diambilnya, mata Kezia masih tertutup rapat membuat Arman sedikit gemas karenanya. Arman pun langsung mendaratkan bibirnya di bibir Kezia. Hal itu, sontak membuat Kezia kaget dan segera mendorong tubuh Arman. "A-- aku mau mandi dulu," ucap Kezia tergagap lalu segera berlari ke kamar mandi. Arman pun hanya terkekeh saja melihat Kezia yang nampak malu-malu itu dan segera mengambil bajunya di dalam tas. Sedangkan Kezia didalam kamar mandi nampak menghela napasnya dengan sedikit lega. "Duh, gimana ini, belum siap malam pertama," ucap Kezia dengan sedikit panik sambil menggigit jempol kukunya. Kebiasaan Kezia saat panik dan merasa marah adalah menggigit jempol kukunya. Dan saat ia sedih atau frustasi adalah memijat pelan pelipisnya. Kezia yang kalut pun akhirnya memilih untuk mandi saja dan mulai membersihkan dirinya. Meskipun nampak ragu, namun Kezia tak mau mengecewakan sang suami. Ia pun menggunakan pakaian terbaiknya, sebuah dress yang nampak sedikit menggoda karena atasnya terbuka dan mengoles lipstick tipis-tipis di bibirnya. Setelah selesai semua dan gugupnya mulai mereda, barulah ia keluar dari kamar mandi. Saat ia keluar, nampak Arman yang saat itu tengah sibuk dengan hpnya di atas ranjangnya dan telah berganti pakaian. "Abang," panggil Kezia pelan. Mendengar ada yang memanggil, Arman pun mengalihkan perhatiannya kepada Kezia. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Kezia yang nampak sedikit seksi dan menggoda itu. Arman pun lalu menepuk pelan kasur disampingnya dan Kezia pun dengan langkah manja menggoda suaminya. Arman pun tersenyum sekilas dan menggelengkan kepalanya pelan. Dan saat Kezia mulai mendekat, ia pun mengambil tubuh Kezia dan menariknya ke atas tempat tidurnya. "Cantik banget. Udah siap?" tanya Arman lirih sambil mengecup mesra pipi Kezia. Kezia pun nampak menunduk malu-malu dan mengangguk. Mendapat sinyal dari Kezia, Arman pun segera menciumi wajah wanita itu. Awalnya lembut, namun lama-lama serangannya mulai sedikit brutal, dan saat Arman ingin melepaskan dress yang dipakai Kezia, tiba-tiba Kezia pub mendorong tubuh Arman dan segera berlari kekamar mandi sambil memegangi perutnya. Tak lama, Kezia pun keluar lagi dengan wajah yang sedikit ditekuk. "Gak jadi! Aku merah," ucap Kezia sambil terus melangkah menuju lemarinya dan kembali lagi ke kamar mandi. Arman pun hanya bisa tertawa saja dan menggeleng pelan. "Emang belum waktunya haha," kekeh Arman. Tak lama, Kezia pun keluar dari kamar mandi dengan baju yang berbeda. Kali ini model piyama dan sedikit tertutup. Setelah itu ia pun lalu merebahkan dirinya di samping Arman. "Abang, maaf," lirih Kezia pelan dan mendapat gelengan dari Arman. "Gak papa, yuk tidur," ucap Arman lembut dan mendapat anggukan dari Kezia. Kezia pun segera memejamkan matanya dan mulai tertidur. Tak lama suara dengkuran halus pun mulai terdengar pertanda Kezia sudah pulas. Berbeda dengan Arman, ia sama sekali tak bisa tidur. Mungkin karena memang kebiasaannya yang tak tidur malam. Arman pun memutuskan untuk pergi saja menuju balkon kamarnya sambil menikmati malam yang akan mulai merubah hidupnya itu. Tak lupa, sebelum keluar dari kamar, Arman mengambil hp satunya lagi yang ia taruh di dalam tasnya dan juga vapenya, barulah ia keluar kamar. Pemandangan langit malam yang indah pun nampak terlihat jelas dan membuat hati siapa saja menjadi tenang. Arman pun menghisap vape-nya dan mencoba menghubungi seseorang. "Dah tidur?" tanya Arman saat teleponnya tersambung. "Baru mau, kenapa, Bos?" "Ada tugas untukmu ...,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN