Karma (Pertemuan Kedua)

1137 Kata
Pikiran Kezia pun langsung terhempas tentang kejadian 3 tahun silam. Tentang pertemuan pertamanya dengan lelaki kumal yang ia hina itu. Setelah pertemuan itu, setiap kali ia berhubungan dan akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius pasti selalu saja gagal. "Apa ini karma buat aku? Kalau gitu, kamu dimana? Apa kamu masih dekil seperti dulu dan masih hobi main game? Aku harap, kamu segera datang. Biarlah, aku tak peduli lagi dengan penampilanmu kini, biar aku nanti yang akan merubahnya," lirih Kezia pelan sambil menikmati kopinya. *** Keesokan harinya, Pak Joey pun pamit kepada istri dan kedua anaknya bahwa ia akan pergi keluar kota selama kurang lebih satu minggu lamanya. Ia pun meminta Kezia untuk tak membatalkan acara itu dan diminta dengan sabar menunggu Sang Papa pulang membawakan calon pengganti untuknya. Pak Joey akan berusaha mencari lelaki yang mau jadi calon suami Kezia nantinya apapun profesi dan pekerjaannya, meskipun ia pengangguran sekalipun. Awalnya, Kezia ingin menolak dan memilih untuk mencari lelaki itu saja, tapi melihat wajah Pak Joey yang nampak lelah membuat dirinya urung untuk membantah. Sebenarnya, acara itu tidak lah terlalu besar, hanya acara akad saja dan juga berlangsung sangat sederhana. Mereka hanya akan menikah di KUA setelah itu makan-makan dan mengundang sanak saudara dan juga tetangga saja,.akan tetapi Pak Joey tak ingin gagal kembali. Setelah Pak Joey pergi, Bu Ayes pun segera pergi ke kamarnya, dan diikuti oleh Kezia yang langsung masuk kedalam kamarnya juga. Namun saat itu, Adnan --- sang adik pun mengikuti langkahnya menuju kamarnya. "Kak, lu kena karma kali, atau gimana? Kok bisa sih udah 3 kali gagal nikah terus?" tanya Adnan sambil menggerutu. Kezia pun hanya menggeleng kepalanya dengan lemah dan tak tau. "Mungkin dan bisa jadi," jawab Kezia singkat. "Lu pernah nyakitin cowok atau gimana. Kak?" tanya Adnan penuh selidik dan mendapat anggukan dari Kezia. Kezia pun lalu menceritakan kisahnya 3 tahun lalu kepada sang adik dan setelah itu Adnan pun menepuk jidatnya pelan. "Coba cari laki itu, Kak, siapa tau emang dia jodoh lu," ucap Adnan dengan sedikit antusias. "Entahlah, gua bingung, Nan, mau nyari dia dimana, sedangkan gua aja gak tau siapa dia dan asal usulnya," gerutu Kezia kembali dan mendapat anggukan dari Adnan. Adnan pun hanya bisa menghela napasnya berat dan mencoba menenangkan kakak perempuannya itu. Berharap semoga dia dipermudah dalam mencari jodohnya. Sejak itu, Kezia pun tak tinggal diam, jarak antara tempat kerjanya dengan cafe tempat bertemu lelaki itu tak terlalu jauh. Setiap pulang bekerja, Kezia akan mampir ke cafe itu hingga pukul 20.00, dan setelah itu barulah ia pulang. Selama satu minggu full ia melakukan itu, namun hasilnya nihil. Lelaki dekil itu tak pernah terlihat disana lagi, bahkan sudah seperti hilang dari peradaban. Kezia pun hanya bisa menghela napas lelah, dan berharap bahwa lelaki itu akan segera datang. Malam itu, tepat hari ke delapan setelah sang papa keluar kota. Bu Ayes, terlihat nampak sedikit resah dari pagi sehingga membuat kedua anaknya pun heran. "Mama kenapa sih? Dari pagi keknya gak nyaman banget?" tanya Adnan kepada sang Mama. "Papa gak bisa dihubungin. Entah kemana dia sekarang Mamah juga gak tau. Udah 2 hari ini hpnya gak aktif, Mama tanya ke temen-temennya katanya dah pulang dari dua hari lalu," jelas Bu Ayes sendu. Mendengar penuturan Bu Ayes, Kezia dan Adnan pun nampak tersentak kaget dan terkejut. Bagaimana mungkin Papanya yang katanya sudah pulang dua hari lalu tapi sampai sekarang belum juga tiba? Perjalanan dari Bandung ke Jakarta tak butuh waktu lama. Hanya butuh sekitar 3 jam saja, itu pun jika tak mampir-mampir. Pikiran buruk pun berkecamuk di hati Kezia, Bu Ayes dan juga Adnan. Apa mungkin sang Papa berselingkuh? Atau mengalami kecelakaan? Semuanya terasa begitu ambigu dan tak jelas. Kezia pun nampak semakin bingung dengan kondisi yang ada. Di satu sisi, dia tak tau bagaimana kabar sang papa, disatu sisi pula ia bingung dengan pernikahannya karena sang papa melarang untuk membatalkannya. Dua hari berturut-turut keluarga itu pun dirundung banyak masalah, hingga akhirnya pada malam itu, Pak Joey pun pulang dengan beberapa perban yang ada di tubuhnya. "Assalamu'alaikum," salam Pak Joey saat masuk ke dalam rumah minimalisnya itu. Kezia dan keluarganya yang saat itu tengah berada di ruang tamu langsung menengok kearah pintu keluar, saat ada yang mengucapkan salam dari sana. Pandangan mereka pun segera beralih kepada orang yang sedang berjalan dengan sedikit pincang ke arah mereka semua. "Wa'alaikumsalam, Papa?" tanya Adnan dan Kezia serempak dan lelaki itu pun mengangguk. Kedua anak itu pun segera bangkit dari duduknya dan menghampiri lelaki tua itu dan langsung memeluknya. Bu Ayes masih berdiam diri di sofa sambil memperhatikan lelaki itu. Dan tanpa sengaja, pandangannya beralih pada lelaki yang berada didekat pintu masuk sana. Bu Ayes hanya dia menatap lelaki itu, dan tak lama lelaki itu pun bersembunyi di balik pintu yang setengah tertutup. "Ya Allah Papa kenapa begini? Papa gak papa?" tanya Kezia merasa sedikit khawatir. Pak Joey pun hanya menggeleng pelan dan berjalan tertatih menuju sang istri di sana. Kezia dan Adnan pun segera memapah lelaki itu mendekat ke arah Mamahnya dan menyuruhnya untuk duduk. Bu Ayes pun segera menyalami suaminya dan memeluknya. "Ya Allah, Pah, kenapa hpmu gak aktif dan kenapa susah banget dihubungi sih?" tanya Bu Ayes bertubi-tubi. Ada setitik bulir bening di sudut mata Bu Ayes namun berhasil dihapus oleh sang suami. Pak Joey pun meminta untuk kedua anaknya duduk disana. "Papa gak papa kok. Papa sebenarnya udah pulang dari 5 hari lalu, hanya aja Papa kena musibah kena begal di jalan," ucap Pak Joey memulai ceritanya. "Astagfirullah," ucap mereka bertiga namun Pak Joey masih nampak tersenyum. "Ya Allah, kenapa gak ngabarin sih, Pah!" gerutu Adnan kepada sang Papa. "Gimana mau ngabarin, orang kondisi Papa juga kritis. HP sama mobil hilang gak berbekas, sisa dompet doang, itu pun uangnya udah raib gak tersisa," ucap Pak Joey sambil tersenyum. "Ya Allah, tapi Papa selamat?" tanya Adnan dengan sedikit polos dan mendapat tempelengan dari Kezia. "Bocah pe'a, kalau gak selamat gak mungkin dia ada disini!" gerutu Kezia kesal dengan sikap sang adik, lalu keempatnya pun tertawa bersama. "Alhamdulillah, berkat bantuan seseorang yang mau nolong Papa pas hampir kritis. Dia juga sempet ngehadang para pelaku itu sampe kena luka juga, tapi ya namanya begal rame-rame bawa sajam juga, lah kita berdua tangan kosong tetep aja kalah," ucap Pak Joey kembali sambil terkekeh. "Terus orang itu gimana, Pah?" tanya Bu Ayes sedikit penasaran. Pak Joey pun tersenyum lalu mengarahkan pandangannya keluar rumah. "Arman masuk sini, Nak, temuin calon istrimu ini," panggil Pak Joey kepada lelaki yang berada di luar sana. "Eh calon istri?" tanya Kezia tak paham. "Iya, Papa janji bakal jadiin dia calon menantu Papa karena udah nyelametin Papa dari begal itu," ucap Pak Joey lirih. Tak lama, lelaki yang dipanggil oleh Pak Joey itu pun masuk ke dalam rumah itu. Untuk sepersekian detik, Kezia dan lelaki itu pun saling bersitatap satu sama lain dan tak lama ... "Kamu ... "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN