Terusir

1150 Kata
Rania melototkan matanya saat mendengar ucapan sang tante. wanita paruh baya Itu tampak menyeringai iblis kalah menatapnya. "Apa maksud tante? bukankah semua harta ini adalah milik mendiang kedua orang tuaku? rumah dan juga perusahaan dibangun dan dirintis oleh mereka! Tante Jangan mengada-ada, seharusnya akulah yang pantas berkata seperti itu." pekik Rania tidak terima. "heh! Rania!! kamu dulu memang adalah tuan putri di keluarga Gunawan. tapi sekarang tidak lagi, sekarang rumah dan juga perusahaan sudah menjadi milik kami. bukankah kamu sudah menandatanganinya? kamu menghibahkan seluruh harta warisanmu kepadaku. jadi kamu tidak berhak lagi atas apapun!." wanita paruh baya itu menyeringai iblis kembali Dia segera memberi kode kepada Diana. dan wanita itu pun menatap sinis ke arah Rania sebelum berjalan masuk. "Aku tidak percaya! Tante sudah memanipulasi keadaan! kalian semua jahat!! dan kamu Rendy! Aku tidak mau lagi melanjutkan bertunangan! Kita putus sekarang juga! dan pergilah dari hadapanku!!." Rendy tampak begitu geram mendengar ucapan dan nada pengusiran yang keluar dari mulut Rania. "hei sadarlah Rania! aku juga tidak sudi lagi berhubungan denganmu! aku memang tidak pernah mencintaimu! apalagi sekarang kamu sudah tidak memiliki apa-apa lagi! Siapa yang mau dengan wanita miskin sepertimu?." sahut Rendy dengan kencang, sembari menatap remeh ke arah Rania. puk!! Diana datang dan langsung melempar sebuah map di hadapan Rania. "itu adalah surat kuasa dan surat hibah! kamu sudah menyerahkan seluruh harta yang kau miliki kepada mamaku! Jadi sekarang kamu memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi! kamu tidak memiliki hak lagi. jadi pantaslah jika kami mengusirmu. Karena sekarang kamu sudah tidak berguna!!!." Diana tertawa terbahak-bahak diikuti oleh ibunya, Siska. sementara Rendi menyeringai puas melihat penderitaan Rania. "tidak mungkin!! ini semua pasti bohong! ini adalah palsu! Aku tidak pernah menandatangani apapun!! kalian penipu!!." Rania segera berteriak saat membaca isi dari map, di sana terdapat tanda tangannya yang menjelaskan kalau dia memang sudah memberikan seluruh harta kekayaannya kepada Siska selaku tantenya. "kamu menandatangani surat-surat ini beberapa minggu yang lalu. Apa kau lupa? namun jika pun kamu lupa, itu tidak akan merubah keadaan! karena kenyataannya sekarang kamu memang sudah menjadi gembel dan miskin! Jadi sekarang sebaiknya kamu segera pergi dari sini tanpa membawa apapun!!." Diana segera mendorong tubuh Rania tanpa ampun. Rendy pun bergerak membantu kekasih gelapnya itu. sementara Siska tertawa puas melihat penderitaan keponakannya sendiri. "lepaskan aku! kalian semua biadab! kurang ajar!! seharusnya kalian yang pergi dari sini!! bukan Aku!!." Rania berusaha untuk melepaskan diri dan kembali masuk ke dalam rumah. Dia tidak rela meninggalkan rumah peninggalan kedua orang tuanya, begitu banyak kenangan di sana bersama dengan kedua orang terkasihnya itu. "pergi kamu dari sini! kamu sudah tidak berhak lagi! dasar wanita gembel! Haha hahaha!!!." Diana tertawa terbahak-bahak menertawakan sepupunya itu. dia pun segera mendorong tubuh Rania di depan pintu hingga jatuh terjerembab. Brruukkk!! aaauuuhh!!! Rani yang segera mengadu kesakitan saat tubuhnya mencium lantai. sikut dan juga lengannya tampak berdarah-darah akibat tergores. "pergi kau dari sini! kamu tidak berhak lagi untuk tinggal di rumah ini, karena semuanya sudah menjadi milikku dan mama! rumah dan juga perusahaan serta seluruh hartamu sudah menjadi milik kami! sekarang kamu tidak lebih dari gembel yang tidak memiliki apa-apa!!." Diana kembali menyeru dengan nada puas saat melihat Rania menderita. Karena sejujurnya, dia sudah lama iri dengan Rania. gadis itu memiliki paras yang sangat cantik, memiliki kedua orang tua yang lengkap dan kaya raya. sedangkan dirinya, hanya memiliki Siska sebagai ibunya. sedang ayahnya sendiri tidak jelas siapa. "kamu tidak boleh kembali lagi ke rumah ini. Jika kamu berani kembali, aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi." Siska segera menunjuk wajah Rania yang berusaha bangun. wanita itu terlihat menangis. namun tak membuat ibu dan anak tersebut iba melihatnya. terlebih Rendy yang menatap puas wajah mantan kekasihnya itu. "Kenapa kalian tega? padahal kalian adalah keluargaku sendiri. dan sekarang aku tidak memiliki siapa-siapa!! ke mana aku harus pergi? Aku sama sekali tidak memiliki tujuan!!." Rania berucap dengan nada pilu. dia menggigit bibir bawahnya menahan sakit di bagian lengan serta tangannya yang cedera. "memangnya apa peduli ku? kamu mau mati ataupun menderita! Aku sama sekali tidak peduli! cepat pergi sana!!." Diana segera meraih lengan Rendy untuk masuk ke dalam rumah kembali. sementara Siska, menatap puas wajah Rania yang bersimbah air mata. "sungguh kasihan sekali!! mungkin sebaiknya kamu segera menyusul kedua orang tuamu di atas sana! agar kamu tidak menderita lagi! dan seluruh harta kalian akan aku nikmati bersama dengan Diana! tanpa ada yang mengganggu!!." aaarrggghh!!! Rania segera meraung kesakitan saat tiba-tiba Siska menginjak kakinya dengan sepatu hak tinggi. rasa ngilu pun menjalar seketika di nadi Rania. Haha hahaha hahaha hahaha!! "mampus Kamu anak sialan!!." Siska menatap penuh kebencian kepada Rania. dia tidak memperdulikan tangisan gadis itu. "penjaga!! lempar dia keluar dari sini, dan jangan biarkan dia kembali lagi!!." perintah Siska kepada salah satu penjaga yang segera datang. "maaf Nona! saya harus menjalankan perintah ini!." ucap pria itu segera mengangkat tubuh Rania. "pak Herman tolong saya!!." Rania menatap menghibah wajah penjaga rumah yang bernama Herman itu. "saya tidak bisa melakukan apapun nona!." jawab pria itu dengan ada menyesal. ia pun segera membawa tubuh Rania keluar dari gerbang lalu melemparnya ke arah jalan. aarrghh!! Rania kembali mengerang kesakitan saat dilempar dengan kasar oleh Pak Herman. dan pria paruh baya itupun segera menutup gerbang dan menggemboknya. hiks hiks hiks!!! *. "ke mana aku harus pergi? Aku sama sekali tidak memiliki tujuan!!." dengan tubuh yang penuh luka, Rania berusaha untuk menyeret tubuhnya menyusuri jalan. padahal hari sudah beranjak malam. dan suasana mulai gelap. "mama!! papah!! Kenapa waktu itu kalian tidak membawaku saja? Kenapa kalian harus membiarkan anakmu ini hidup hanya untuk menderita? tidak ada yang tulus padaku! bahkan yang ku anggap keluarga pun sudah membuangku! setelah merebut segalanya!." Rania menangis dengan pilu meratapi nasibnya yang malang. setahun yang lalu, kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan yang tiba-tiba. untunglah dirinya saat itu masih sempat terlempar keluar dari mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya. sehingga dia bisa selamat dari ledakan dahsyat tersebut. buukkk!! aaahhhhhkkk!!! tiba-tiba Rania oleng dan pingsan begitu saja setelah merasa pandangannya berkunang-kunang. dunia menjadi gelap seketika. "tuan!! ada wanita yang pingsan dijalan!!." sebuah mobil sport mewah tiba-tiba berhenti tepat di hadapan tubuh Rania yang sudah terkulai tidak sadarkan diri. "coba cepat lihat! jangan-jangan hanya akal-akalannya saja. dia ingin menipu kita!." jawab si pria yang duduk di kursi penumpang. sang sopir pun segera keluar, Dia segera memeriksa nadi Rania yang sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. "tuan muda Kai! dia benar-benar pingsan. tapi....!!." sopir itu terlihat ragu untuk berucap.hal itu membuat pria yang duduk di kursi penumpang itu saudara turun dari mobilnya. "ada apa?." tanya pria yang dipanggil Kai itu, namun sopirnya itu terlihat gelagapan. pria itu pun segera memeriksa Rania yang tergeletak di sana. "gadis kecil ini!!." ingatan pria itu pun segera terbang kepada peristiwa kemarin. dia masih mengingat dengan jelas wajah Rania ia tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya dan menciumnya dengan liar. rasa ciuman gadis itu bahkan masih terasa lengket di bibirnya. "bawa dia masuk ke dalam mobil!." perintahnya segera. "baik Tuan Kai!!." ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN