Memikat

1127 Kata
"Kenapa dia terlihat lemah? Padahal kemarin dia terlihat kuat dan tangguh. ciumannya bahkan terasa sangat liar dan menuntut. Apa karena disertai emosi?." Kainan bergumam sambil menatap wajah Rania yang terbaring di atas kasur. kedua mata wanita itu masih terpejam. "kondisinya stabil Tuan Kai, hanya saja dia perlu beristirahat karena tekanan mental yang dideritanya. selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan." demikian penjelasan dokter yang memeriksa Rania. hal itu cukup membuat Kainan merasa lega. "sebenarnya apa yang baru saja kau tempuh? Apa kau memiliki kehidupan yang sulit?." Kai kembali bergumam seraya bertanya. namun tentu saja Rania tidak bisa menjawab karena wanita itu masih dinyatakan belum sadarkan diri. "Hhhmmm!!." pria tampan yang biasa dipanggil Tuan Kai itu tampak meraba dagunya sambil terus menatap wajah Rania. "ini adalah laporan identitas gadis ini Tuan. silakan dibaca." Hhhmmm!! Kai segera meraih MacBook dari tangan asistennya. di sana ada data-data tentang Rania berikut identitas gadis itu. "Rania Gunawan!! dia adalah putri dari Roy Gunawan dan Nita Gunawan. mereka berdua telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis." Kai segera membaca identitas Rania. "Anda benar tuan! selAma ini Nona Rania dirawat oleh tantenya. tapi sekarang seluruh harta peninggalan kedua orang tuanya telah direbut oleh wanita itu dengan kejam." Kai tampak mengepalkan tangan mendengar kisah hidup Rania yang begitu menyedihkan. "ya sudah! kamu keluar lah, biar aku disini yang menemaninya sampai sadar!." Sony yang menjadi asisten dari Kainan itu segera berjalan keluar meninggalkan sang bos. "ternyata hidupmu sangat tragis gadis kecil! tapi kamu sudah berani bermain-main denganku." Kai mengangkat sudut bibirnya sambil menatap wajah Rania yang terlihat sedikit pucat. "Bagaimana kalau sekarang! aku menjadi keluargamu?." Kai kembali bergumam sambil mengelus lembut bibir Rania. entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelusup ke dalam hatinya. "ah!! aku tidak mungkin jatuh cinta kepada gadis kecil ini? dia masih dibawah umur!!." Kai tiba-tiba tersadar dengan perbedaan antara dirinya dengan Rania. dia pun segera bangkit lalu menggulung kemejanya hingga sikut. "tapi memangnya kenapa? tidak ada yang bisa menghalangi cinta! perbedaan umur tidak jadi masalah, apalagi perbedaan status." Kai kembali bermonolog kepada dirinya sendiri. dia menolak sendiri asumsinya tadi Kalau Rania masih dibawah umur. sedangkan dirinya sudah menjadi pria dewasa. bahkan berstatus duda. "hah!! apa yang aku pikirkan?." pria tampan itu kembali bergumam sambil berkacak pinggang. entah kenapa tiba-tiba dia menjadi resah dengan kehadiran Rania. hhmmm!! ssshh!!! Kai segera menoleh menatap Rania yang secara perlahan membuka mata sambil meringis. "kau sudah sadar rupanya!." seru pria itu mendekat. Rania pun langsung menatapnya. "Siapa kau?." tanya gadis itu segera saat melihat pria asing. "Apa benar kau lupa padaku?." Kai segera berjongkok.begitu dekat membuat Rania segera merebahkan kembali tubuhnya dengan takut-takut. apalagi wajah Kai terlihat begitu dekat. hingga hembusan nafas pria itu bisa terasa di wajahnya. "Saya tidak mengenal Anda." Kai segera mengukir senyum tipis di bibirnya. "Padahal kemarin! kau sudah mencuri ciuman dariku! masa kau sudah lupa?." mata Rania langsung melotot, matanya terbang ke peristiwa kemarin. "ya Tuhan!! Ini benar dia!!." gadis itu segera menangis dalam hati. padahal Dia pikir tidak akan lagi bertemu dengan Kai. sehingga dia ingin melupakan peristiwa memalukan itu. "maaf Tuan! atas peristiwa kemarin!." ucapnya setengah menyengir. dan Kai semakin intens menatap wajahnya. "semua tidak bisa diselesaikan dengan maaf saja! kemarin kamu sudah mencuri ciuman dariku! dan hari ini aku menolongmu! bahkan membawamu ke rumah dan merawatmu! begitu banyak balas budi yang harus kau tanggung kepadaku!." Rania segera memejamkan mata dengan lucu saat mendengar ucapan Kai. "Saya berjanji akan membalas Budi anda! Anda bisa menjadikan saya pembantu di rumah ini! saya ikhlas walau tanpa digaji." Kai segera mendengus mendengar ucapan Rania. "baiklah!! tapi kamu harus janji melayaniku dengan baik! karena jika tidak, aku akan menagih hutangmu padaku. dan kau tidak bisa lari." kedua mata indah Rania mengerjap dengan lucu saat mendengar ucapan Kai yang terkesan mengancam. dia pun segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. "untuk beberapa hari ini aku akan membiarkanmu istirahat agar bisa menyembuhkan luka! setelah itu kamu harus sudah bersiap untuk melayaniku." Kai menatap intens wajah Rania. entah kenapa tiba-tiba hidupnya terasa bersemangat dan berwarna. dia bahkan sudah kembali tersenyum kecil. hal yang beberapa tahun ini tak dilakukannya. "baiklah tuan!!." *. Hahaha hahaha hahaha!! "mari kita bersulang! untuk kehidupan yang lebih baik kedepannya. sekarang kita berdua sudah memiliki segalanya. dan Rania sudah terusir dari rumah ini. sekarang kita kaya raya!!." Siska serta Diana tampak merayakan kemenangan mereka. keduanya sangat senang karena berhasil menguasai seluruh harta Rania. "benar Mama! sekarang kita bisa hidup bersenang-senang dan berfoya-foya. sekarang aku benar-benar menjadi Nona kaya. tidak perlu lagi takut apapun." Diana sungguh sangat senang. Dia sudah lama ingin menyingkirkan Rania dari kehidupan mereka. "iya! dan sekarang kamu bisa memiliki Rendy Atmaja dengan seutuhnya. Jika kamu bisa menikah dengannya, kekayaan kita akan bertambah berkali lipat. karena keluarga Atmaja itu sangat kaya raya." Siska sungguh sangat senang berbicara. dia memang sangat mendukung Diana merebut Rendy dari Rania. "uuhhh!! Kamu benar Mama! sepertinya kita memang ditakdirkan untuk menjadi kaya raya! hahaha hahaha!!!." **. "Ada perlu apa nona? Apa ada yang bisa saya bantu?." Rania sungguh terkejut, saat memasuki dapur. seorang wanita paruh baya menatapnya dengan senyum. "Saya hanya ingin minum! Saya haus." wanita paruh baya yang menjadi pelayan di rumah itu tanpa kembali tersenyum. "Saya akan mengambil minum untuk anda! duduklah di sana!." wanita paruh baya Itu tampak menatap lama wajah Rania. "semoga dia bisa menjadi pelipur lara Untuk Tuan Kai! dan semoga mereka berjodoh suatu saat nanti." pelayan itu mengumandangkan harapan di dalam hatinya untuk sang bos. "anda sungguh imut dan manis nona. tinggallah di rumah ini lebih lama." Rania menatap wanita pelayan itu yang duduk di hadapannya setelah meletakkan gelas. "terima kasih bibi." jawab Rania dengan senyuman di bibirnya. "Bagaimana aku bisa pergi? Padahal aku memiliki banyak hutang pada pria itu." Rania ikut bergumam dalam hati. "eehhmm!!." kedua wanita berbeda usia itu terkejut mendengar suara deheman. wajah dingin Kai muncul di sana. "tuan!! apa Anda butuh sesuatu?." bibi Ratih segera bertanya. "siapkan makan untuk kami berdua." Rania terdiam, dia menjadi kikuk sendiri duduk di sana dengan kehadiran Kai. sementara pria itu juga tampak gugup. suasana menjadi canggung seketika bagi kedua orang itu. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?." Rania segera mengangguk kecil mendengar pertanyaan itu. "iya tuan! saya sudah merasa baik." jawab Rania malu-malu. "sangat menggemaskan!!." gumam Kai. "iya tuan! ada apa?." pria itu terlihat gelagapan saat mendengar pertanyaan Rania. "tidak apa-apa! ayo makan bersama!." sahutnya segera. **. "namamu Rania Gunawan bukan?." Rania hanya bisa mengangguk kepada Kai yang sedang duduk di sofa. "kita belum sempat berkenalan padahal sudah hidup Satu atap. mungkin kamu belum tahu namaku. Aku adalah Kainan. panggil saja Kai." Kai mengulurkan tangan kepada Rania. dengan tangan gemetar, gadis itu pun menyambutnya. buukkk!! namun tiba-tiba saja, Kai menarik tangannya dengan kuat. alhasil, Rania pun jatuh tepat dipangkuan pria itu. mata Rania langsung melotot, sementara Kai. menatapnya begitu dalam. cuuupp!!! ***...***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN