Ciuman Kedua...

1067 Kata
mata Rania langsung terbelalak saat tiba-tiba Kai menciumnya. ciuman pria itu bahkan terasa sangat menuntut. sementara Rania tidak bisa berkutik dan menolak. bahkan pandangan wanita itu mulai berkunang-kunang. apalagi Kai menyedot bibirnya begitu rakus. Kai memang tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia mengulum dan menggigit kecil bibir mungil Rania. Kai menatap dalam wajah Rania sambil terus menghisap bibirnya. dia bisa melihat kedua mata Rania yang melotot, wajahnya memerah hingga Kai pun sadar sesuatu. "bernafas bodoh!! Apa kau ingin mati?." pekik Kai setelah melepaskan ciumannya. sementara Rania tampak berlomba meraup oksigen sebanyak-banyaknya sembari terbatuk. uuhhuukk!! hoosshh!! Kai mendesah frustasi sembari geleng-geleng kepala melihat gadis yang ada di pangkuannya itu. "Padahal kemarin dia yang memancingku duluan. Apa dia benar-benar sepolos itu? atau ini hanya sandiwara?." Kai bermonolog dalam hati sambil menatap wajah Raina yang sudah mulai normal. "Kenapa kau begitu bodoh? padahal ini bukan ciuman pertamamu!." Kai segera berkata kembali sambil menatap tajam wajah Raina. "maaf tuan!! tapi saya tidak terbiasa. yang kemarin itu adalah yang pertama buat saya." Kai segera melototkan matanya. dia benar-benar tidak percaya kalau ciuman mereka kemarin adalah ciuman pertama bagi Rania. "dia benar-benar konyol!! menyerahkan ciuman pertamanya begitu saja kepada pria asing." Kai kembali bergumam dalam hati sembari terus menatap wajah Rania yang masih duduk di pangkuannya. "baiklah!! sebaiknya kamu membersihkan diri. jangan ke mana-mana, Jangan pernah meninggalkan rumah ini. Karena sekarang saya harus berangkat bekerja." Kai segera bangkit berdiri, sementara Rania tampak kikuk. "terima kasih Tuan, anda sudah mau menampung Saya di rumah ini." jawab Rania tidak berani menatap wajah tampan Kai. pria itu hanya mengangguk sekilas, setelahnya berjalan pergi. Rania pun bisa menghela nafas lega. entah kenapa dia benar-benar gugup jika berhadapan dengan Kai. "ciuman keduaku juga diambil olehnya." gumam Rania menjerit dalam hati. sementara dikantor Kainan Erlangga. "hhmm!! gadis bodoh! kenapa dia harus menyerahkan ciuman pertamanya padaku? Padahal aku ini adalah orang asing baginya." Kai benar-benar tidak bisa menghilangkan bayangan Rania dari ingatannya. perkataan gadis itu tentang ciuman pertamanya. membuat Kai gelisah. Kai segera terlihat meraba bibirnya. dia membayangkan rasa manis yang tertinggal dari bibir Rania. "manis!!." gumamnya dengan lirih. di bibirnya terukir senyum yang jarang diperlihatkan kepada orang. dia sama sekali tak menyadari kehadiran asistennya yang tampak memperhatikannya. "Ada apa dengan tuan Kai?? Kenapa dia tersenyum-senyum seperti itu? seperti orang gila saja!!." gumam pria itu bergidik. pasalnya, Bosnya itu jarang menampakan senyum. setiap hari dia memasang wajah datar dan dingin kepada semua orang. serta seluruh karyawan di kantornya. "Hhhmmm!! pak bos!! ada yang harus anda tanda tangani." Kai baru tersadar kala mendengar suara asistennya itu. "Kenapa kamu mengagetkan aku Tino, Apa kau sudah bosan hidup?." Kai segera bertanya dengan nada kesal. pria yang bernama Tino itu pun tampak gelagapan. "jangan tuan! saya masih ingin hidup, Karena saya belum menikah! bahkan pacar pun saya tidak punya! jangan bunuh saya!!." Tino terlihat amat ketakutan. sementara Kai mendengus kesal padanya. "ya sudah jangan ulangi lagi!! awas aja kalau kamu berani mengintip saya. saya akan patahkan kakimu dan saya akan mengirimmu ke kutub utara." Tino terburu-buru meraih map yang sudah ditandatangani oleh Kai. setelahnya dia bergerak keluar dengan langkah tergesa-gesa. Kai tampak mengangkat sudut bibirnya melihat gelagat asistennya yang konyol itu. "iisshh!! apa aku sudah gila? Kenapa aku terus memikirkan gadis kecil itu?." gumam Kai segera menyadarkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya. *. "Rendy!! kapan kamu akan membawaku bertemu dengan kedua orang tuamu?." Rendy segera menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Diana. keduanya saat ini sedang berada di sebuah mall untuk berbelanja. "sekarang belum waktunya. karena kedua orang tuaku masih ada di luar negeri. jika sudah tiba saatnya, aku akan membawamu untuk bertemu dengan mereka." jawab Rendy terlihat berusaha mencari alasan. sementara Diana bergelayut manja pada lengannya. "aku sudah sangat ingin menikah denganmu! lagi pula Mamaku terus mendesak. agar hubungan kita segera diresmikan." Rendy tampak mendengus mendengar ucapan Diana. "kalian berdua ini, Kenapa terburu-buru sekali? kita harus menjalani hubungan ini dengan santai. lagi pula kedua orang tuaku tidak akan mudah dihadapi. selama ini mereka tahu kalau aku berpacaran dengan Rania. bukan kamu." Diana segera memasang wajah geramnya kala mendengar nama Rania disebut. "tapi kita sudah melakukan semuanya! kita bahkan sudah sering tidur bersama. Aku tidak mau ya kalau sampai nanti kamu lari dari tanggung jawab. pokoknya kamu harus menikahi aku." Rendy segera memasang wajah tidak sukanya. dia menepis kasar pegangan Diana pada lengannya. "Rania bahkan tidak pernah menuntut apapun! tidak seperti dirimu, setiap hari kita berbelanja di mall dengan membeli barang-barang mewah. aku rasa itu sudah impas dengan harga tubuhmu. jadi jangan pernah menuntut tanggung jawab padaku." Diana membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Rendy yang terkesan meremehkannya. "Rendy!! Jadi kau anggap apa Aku selama ini? apa aku hanya penghias ranjangmu?." Diana tentu saja tidak terima, hanya dijadikan pemuas nafsu oleh Rendy. "Kalau iya kenapa? nyatanya memang kamu sangat murahan. kamu duluan kan yang mengajakku untuk tidur bersama? kamu selalu menggodaku dengan gestur tubuhmu itu. Aku ini seorang pria normal, tentu saja tergoda." Diana urung ke belakang mendengar ucapan Rendy yang blak-blakan menilai dirinya. "Padahal aku menyerahkan kesucianku padamu! kaulah orang pertama yang tidur dengan ku, tapi kenapa kamu berbicara seperti itu?." Diana berusaha memukul d**a Rendy disertai tangisan. namun dengan cepat, pria itu memegang tangannya dengan kuat hingga membuat wanita itu meringis. "kedua orang tuaku sangat menyukai Rania. mereka tidak akan terima Jika kamu masuk ke dalam keluarga kami. jadi tidak ada alasan bagiku untuk mempertahankanmu." Rendy benar-benar tidak punya hati. dia segera mendorong tubuh Diana hingga jatuh terjerembat ke belakang. "Rendy!! Jangan tinggalkan Aku! Aku sangat mencintaimu!!." Diana berusaha mengejar Rendy yang sudah berjalan meninggalkannya tanpa peduli. orang-orang yang ada di mall itu tampak memperhatikannya. Diana benar-benar malu. **. "dia sudah tidur rupanya!!." Kai berjalan perlahan memasuki kamar di mana Rania berada. malam memang sudah larut dan dia baru pulang. "dia seperti bayi jika tertidur!." Kai kembali bergumam. dia duduk di sisi pembaringan dan menatap wajah Rania lama. Dia seakan tidak bosan menatap wajah gadis itu. "penyihir kecil! sebenarnya apa yang telah kau perbuat padaku?." Kai menghela nafasnya. dia menatap bibir Rania yang terlihat memerah alami. gluk!! secara perlahan pria itu memajukan wajahnya. ia benar-benar ingin mencium bibir Rania. "tuan Kai!! anda sudah pulang?." Kai langsung melotot dan menarik wajahnya dengan gugup. "iya. saya sudah pulang, tapi aku lihat kamu tertidur. Padahal aku butuh bantuanmu." jawab Kai segera bangkit berdiri. dia benar-benar merutuk di dalam hati tingkahnya tadi. "anda butuh bantuan apa? maaf saya ketiduran!." Rania segera turun dari pembaringan. "siapkan air hangat! Aku ingin mandi!!." **.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN