Hot Duda

1125 Kata
"air hangatnya sudah siap Tuan!!." Kai segera mematikan ponselnya. dia mendongak menatap wajah Rania yang berdiri di samping sofa. "kalau begitu mandikan aku!." mata Rania langsung saja terbelalak saat mendengar permintaan Kai. "tapi!! tapi!!." "ingat! saat ini kamu itu bekerja untuk melayaniku di sini. apa kamu lupa dengan semua hutangmu padaku?." Rania langsung mengangguk lucu mendengar ucapan Kai. dan pria tampan bertubuh tinggi atletis itu pun tersenyum sambil berjalan. "ternyata dia sangat polos! menggemaskan sekali!!." gumam Kai di sela langkahnya menuju kamar mandi. tampak di bathtub sudah tersedia air hangat yang dipenuhi dengan bursa sabun. Ada lilin aromaterapi di pinggirnya. dia pun segera membuka kimono mandi yang dipakainya. "aahh!!" Rania langsung menutup wajahnya dengan tangan saat melihat Kai membuka pakaiannya. pria itu segera menoleh. d**a bidangnya yang berotot tampak tepat berada di depan wajah Rania. "buka matamu!! Bagaimana kamu bisa membantuku mandi jika wajahmu tertutup?." Kai masuk ke dalam bathtub dan menidurkan tubuhnya di sana. secara perlahan Rania membuka matanya. kemudian berdiri tepat di belakang pria itu. "tolong gosok punggungku!." Kai kembali berkata dengan nada memerintah. "tapi saya malu Tuan!! selama ini saya belum pernah menyentuh laki-laki!!." Kai langsung tertawa kecil mendengar ucapan Rania yang tampak malu-malu. "kamu ini polos sekali ternyata! Lalu kenapa kamu kemarin memiliki keberanian untuk masuk ke mobilku, lalu mencuri ciuman dariku. Aku pikir kamu itu sudah sangat berpengalaman dalam hal menggoda pria." sindiran halus itu membuat Rania memejamkan mata. lalu secara perlahan menurunkan tangan dan mulai menggosok punggung Kai. "mulai sekarang kamu harus terbiasa. karena di rumah ini kamu adalah asisten pribadiku. mulailah membiasakan diri untuk menyentuhku. kamu mengerti?." Rania langsung mengangguk dengan polos. dia terus menggosok punggung Kai. "ternyata pijatanmu enak juga." Kai kembali berujar sembari memejamkan mata. "iya tuan!!." jawab Rania, dan Kai segera mengangkat sudut bibirnya. "kemarilah!!." Rania menghentikan kegiatannya. dia bingung dengan permintaan Kai. "kemarilah!!." panggil Kai sekali lagi, wanita yang masih terlihat kebingungan itupun segera berjalan mengitari bathtub. byur!! aahh!!! rupanya Kai segera menyambar lengan Rania. alhasil wanita itu pun jatuh ke dalam bathtub, dalam pangkuan pria itu. "tu-tuan!!." seru Rania dengan gugup. dia sadar kalau posisi mereka begitu intim. "Hhhmmm! wajahmu sungguh memerah, apa kau gugup?." Kai membelai wajah Rania. dia merasa kalau Rania seperti mainan baru yang menyenangkan baginya. "i-ya!! jawab Rania terbata-bata. Baru kali ini dia begitu dekat dengan seorang pria. tubuhnya terasa kaku. namun Kai memang sudah berpengalaman. dia hanya mengukir senyum tipis di bibirnya melihat kepolosan Rania. "Jika kamu ingin berterima kasih dan membalas Budi padaku. begini caranya." Kai mendekatkan diri, dia meraih tubuh Rania hingga mengangkangi dirinya. keduanya saling tatap, lalu secara perlahan Kai mencium bibir Rania. mulanya tipis saja, namun lama-kelamaan semakin menuntut. Hhmm!! suara Rania itu membuat Kai semakin bersemangat. dia menekan kepala gadis itu untuk lebih memperdalam ciuman mereka. sementara satu tangan nakalnya. kini sudah berada tepat di atas d**a Rania. "bernafaslah!!. jangan sampai kamu kehabisan oksigen! kamu bisa mati!!." Kai menarik ciumannya, saat lagi-lagi dia melihat Rania hampir kehabisan nafas. "iy-a!?." Rania tertunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah seperti tomat rebus. "tapi tidak apa. secara perlahan kamu akan terbiasa. Aku berjanji akan mengajarimu Bagaimana berciuman dengan benar." Kai menyunggingkan senyum. sementara Rania langsung menatapnya. "apa ini berarti kami akan sering melakukannya?." gadis itu segera bergumam dalam hati karena tidak mengerti arti ucapan Kai. "Aku bahkan akan mengajarimu lebih banyak. Bagaimana cara menjadi wanita yang sesungguhnya." kali ini Kai menjongkokkan kepalanya. dia mencium bagian leher Rania. wanita itu pun reflek mendongakkan kepalanya. nafasnya terasa sesak. ada sesuatu yang bangkit menggelora, dan juga indah. "jadilah wanitaku. maka akan aku berikan semua yang kau inginkan." entah itu ungkapan perasaan ataukah permintaan yang tiba-tiba keluar dari mulut Kai. namun Rania malah kembali refleks menganggukkan kepalanya. "gadis pintar!! Aku menyukai kepolosanmu!!." Kai mengelus lembut rambut Rania. sampai akhirnya pandangannya jatuh tepat didada gadis itu. "Hhmm!! sedang bertumbuh! ini benar-benar indah!!." batin pria itu kembali bergumam kala melihat pemandangan indah yang tersaji tepat di hadapannya. kedua bukit gambar milik Rania terlihat begitu menantang. begitu indah, dan seakan meminta tangan Kai untuk membelainya. "kamu harus bertahan!! Aku akan mengajarimu sesuatu yang indah lainnya." bisik Kai tepat di depan telinga Rania. bulu kuduk gadis itu seketika meremang. namun kepalanya mengangguk saja. seakan berpasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Kai padanya. "ini sungguh indah bagiku!!." bisik pria itu kembali dengan satu tangan yang masuk dengan cepat ke dalam bra milik Rania. Rania menggelinjang sesaat sembari menggigit bibir bawahnya. apalagi tangan kokoh Kai sudah membelai puncak dadanya. "sungguh kenyal!!." Kai bersorak dalam hati. wanita yang duduk di atas pangkuannya itu benar-benar masih orisinil. belum pernah terjamah oleh pria manapun. Kai merasa benar-benar mendapatkan rezeki nomplok. Hhhmmm!! Rania kembali mendesah halus. dia mencengkram kuat bagian lengan Kai yang terus membelai kedua payudaranya. cuupp!! bukan hanya membelai, Kai kembali menyambar bibir Rania. mengulumnya dalam dan penuh tuntutan. tidak puas bermain di situ saja. ciuman pria itu turun ke leher. menghisapnya, hingga meninggalkan bercak kemerahan di sana. "ahh!! sial!! diriku telah terpancing!!." Kai akhirnya merutuk kesal dalam hati. karena hasratnya telah bangkit sebagai laki-laki. Dia merasakan celananya sudah sesak, ada sesuatu yang menuntut untuk dituntaskan. Dia kalah oleh permainan yang dimulainya sendiri. dia pun segera menyudahi ciuman dan menarik kedua tangannya dari d**a Rania. "keluarlah! dan bersihkan dirimu! malam sudah larut! sudah waktunya untuk istirahat." Rania mengangguk kecil kemudian bangkit dari atas tubuh Kai "aah sial!! Terpaksa aku harus menuntaskannya sendirian. gadis kecil itu benar-benar berbahaya!!." Kai segera bergumam, setelah Rania keluar dari kamar mandi. Dia segera meraih sabun mandi dan menuntaskan sesuatu di sana. "sungguh memalukan!!." **. "sepertinya hubungan Kamu dan Tuan Kai sudah ada peningkatan." Rania tampak malu-malu menatap wajah bibir Ratih pagi ini "tidak perlu malu seperti itu! Aku harap kamu adalah wanita yang bisa membahagiakan Tuan Kai." bibi Ratih kembali berucap sembari menatap bagian leher Rania. di sana ada bercak merah kehitaman. bibi Ratih sangat tahu itu tanda apa. "bibi berbicara apa? saya dan Tuan Kai sangat berbeda. bagaikan langit dan bumi." jawab Rania menghelan nafasnya. "tapi kamu adalah gadis yang polos dan juga baik hati. kamu pantas bersanding dengan Tuan Kai." Rania tertegun mendengar ucapan wanita pelayan itu. **. "Ada Apa denganmu? sejak tadi aku lihat kamu melamun saja? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu yang besar? atau ada masalah di perusahaanmu?." Kai meneguk minuman yang ada di gelasnya. ketika temannya bertanya. "aku menemukan mainan baru! dan itu sangat menyenangkan! aku benar-benar menikmatinya!." jawab Kai dengan mimik wajah yang misterius. sementara temannya Itu tampak memindai wajahnya. "katakan padaku permainan apa itu?." tanya pria itu lagi sambil menatap wajah Kai. "masih rahasia Bray!! saat ini cukup aku yang tahu." Kai bangkit berdiri segera dan meninggalkan temannya yang bernama Bryan itu. "aneh sekali dia! permainan apa yang ditemukannya? apa ini berhubungan dengan wanita? Apa dia benar-benar sudah move on dari Sherly Mantan istrinya?." ***..***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN