Sang Mantan

1301 Kata
"Lima tahun aku tidak pulang ke negara ini!! tidak banyak yang berubah!." seorang wanita cantik dengan bibir merah merona tampak melangkah dengan anggun. diikuti oleh seorang wanita lainnya. mereka baru saja keluar dari bandara. "tapi kudengar mantanmu yang telah banyak berubah! dia kini telah benar-benar sukses dan kaya raya. dia begitu dihormati dan disegani. dia bahkan masuk jajaran salah satu pengusaha ternama di negara ini. dia dinobatkan sebagai pengusaha teladan, dan juga tampan." wanita itu segera menghentikan langkahnya. "benarkah?." tanya wanita itu dengan nada tak percaya. dan wanita yang bersamanya itu pun segera menganggukkan kepalanya. "iya!! dia jauh lebih dewasa serta sangat tampan. dia begitu mempesona. aku sering membaca artikelnya di internet. Apa kau tidak berniat untuk kembali padanya?." wanita itu terlihat berpikir mendengar ucapan managernya. "Hhmm!! Kainan dulu sangat mencintaimu. dia tidak mungkin melupakan kamu begitu saja. buktinya sampai saat ini dia masih sendiri. aku rasa Dia masih menjaga hatinya untukmu." wanita itu kembali terlihat berfikir keras. namun ada senyum aneh yang tersungging di bibirnya. "dia memang sangat mencintaiku. dulu bahkan dia mati-matian mengejarku. berharap aku tidak meninggalkannya. sekarang pun pasti masih sama. dia tetap menungguku." jawab Sherly, wanita itu adalah mantan istri Kai. wanita yang bekerja sebagai model ternama itu memang sangat cantik. bentuk tubuhnya sangat ideal dan indah, ditunjang dengan wajahnya yang rupawan. "dan yang lebih menguntungkan lagi. Jika kamu bisa kembali pada Kai. dia memiliki perusahaan agensi yang terbesar di negara ini. dia sudah mengorbitkan banyak artis terkenal. aku rasa, kamu akan mudah mencapai puncak kejayaan. Jika kamu kembali bersamanya. itu adalah keuntungan yang tidak ternilai harganya bagimu." Sherly berbinar seketika. dia pun segera mengutak-atik ponselnya untuk mencari tahu mengenai informasi tentang mantan suaminya. "dia memang semakin tampan! beda dengan yang dulu. waktu itu dia masih merintis karir. dan sekarang dia sudah sukses besar." Sherly mengukir senyum licik di bibirnya. dia pun bertekad untuk kembali pada mantan suaminya. "Kainan memiliki banyak uang dan juga aset yang bernilai fantastis. kamu hanya tinggal duduk manis dan uang akan mengalir datang padamu. kamu tidak perlu bersusah payah untuk bekerja lagi." Sherly benar-benar takjub dengan kehidupan yang disuguhkan oleh mantan suaminya itu jika dia kembali. "tapi aku suka bekerja! jika bisa kembali padanya! aku akan tetap menekuni dunia model! itung-itung mencari pamor agar lebih populer. kami berdua akan menjadi pasangan suami istri yang sangat dihormati." Sherly benar-benar excited dengan harapan kedepannya. sementara asistennya yang bernama Hera itu menatap bosnya dengan senyum misterius. *. "selamat datang tuan Kai!!." Rania berlari kecil menyambut kedatangan Kai. Wajah pria itu terlihat lelah. puk!! Rania hendak membantunya melepas jas, namun Kai malah menarik tubuhnya terduduk dipangkuan. "berikan aku sedikit vitamin. agar lelahku ini bisa hilang." Kai meraih kepala Rania, dan langsung melumat bibirnya dengan rakus. tak tinggal diam, tangan yang satunya segera membelai bagian d**a Rania yang masih terbungkus bra. aaahh!! Rania itu pun tidak kuasa menahan rintihannya. dan Kai semakin bersemangat. "kau sungguh candu!." bisik Kai didekat telinga Rania. "tu-tuan!! sebaiknya Anda mandi dulu, setelah itu beristirahat." Rania segera bangkit berdiri, dia bisa merasakan sesuatu yang mengganjal pada area pertengahan paha Kai. dan dia sadar betul apa itu. dia sungguh malu. "baiklah! kamu siapkan teh untukku." Rania langsung mengangguk, dia tersenyum ceria sembari melangkah. Kai pun ikut tersenyum melihatnya. "menggemaskan!!." lirihnya. malam harinya, Kai terlihat tengah duduk di sofa dalam kamarnya saat Rania masuk ke dalam kamar itu. di tangannya terdapat secangkir teh. "duduk disini!!." seru pria itu segera menepuk pahanya. dengan malu-malu, Rania kembali duduk di pangkuannya. wanita itu reflek memeluk leher Kai. cup!! keduanya kembali berciuman, mulanya biasa saja, namun lama-kelamaan, ciuman itu berubah menuntut. bukan hanya dibibir. tapi ciuman Kai berpindah ke leher. wangi vanilla leher Rania membuatnya mabuk seketika. "eehhmm!!." rintih Rania dengan suara khasnya. "jangan ditahan sayang! bersuaralah!." bisik Kai Yang sepertinya sudah larut dalam gelora. suaranya serak dan tubuhnya terasa bergetar. dia pun segera menyingkap baju Rania hingga pundak putihnya yang mulus terlihat. "Kamu sangat pintar. tidak memakai bra." dengan sekali tarik. baju Rania melorot hingga bawah d**a. kedua p******a gadis itu pun terlihat begitu nyata didepan Kai. tanpa menunggu aba-aba, pria itu menanggelamkan wajahnya di belahan d**a Rania. dan gadis itu pun semakin menggelinjang. kelenjar aneh mulai menelusup ke dalam tubuhnya. ada yang terasa berkedut, namun Rania tidak tahu itu apa. "uuhh!! kau sungguh indah!!." Kai kembali berbisik, kali ini dia mengulurkan lidahnya. melahap habis pucuk p******a Rania yang sedang tumbuh. eehhmm!! Rania berusaha berdehem untuk menguasai gelora yang tiba-tiba datang menyeruak. namun Kai masih tidak melepaskannya. dia bahkan memberi gigitan kecil di pucuk d**a berwarna pink alami itu. Rania mendongakkan kepalanya. sembari menggigit kecil bibir bawahnya. berusaha menetralisir perasaan aneh yang tiba-tiba datang. sementara Kai benar-benar kehilangan kewarasannya. keindahan yang ditawarkan oleh tubuh Rania telah membuatnya gila. "tu-tuan!!." Kai baru menghentikan kegiatannya saat mendengar suara Rania. nafasnya naik turun dengan mata yang sudah memerah karena dikuasai hasrat. "ah sial!!!." Rania langsung berdiri saat Kai sudah melepaskannya. dia terburu-buru memasang kembali bajunya secara sempurna. "sa-ya!! keluar dulu tuan! selamat beristirahat!." Rania ngacir keluar dari kamar Kai. dia meraba dadanya sejenak di depan pintu. nafasnya ngos-ngosan seperti orang yang baru saja berlari. "apa yang baru saja aku alami?." gumam gadis itu menjambak rambutnya sendiri. dia bergerak kembali ke kamarnya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. sementara Kainan tampak frustasi. "hampir saja aku kelepasan. Rania memang benar-benar berbahaya. dia membuatku hilang akal." pria itu segera bangkit berdiri dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi. dia kembali harus menuntaskan sesuatu sendirian di sana. "suatu saat aku pasti akan mendapatkannya! Rania, kamu hanya milikku!!! aaahhh!!!." Kai terus bergumam di kamar mandi, sembari merintih kecil disana. **. "apa ini tuan?." Rania menatap sebuah kartu kecil yang disodorkan oleh Kai. "itu kartu yang bisa kau gunakan untuk berbelanja. kamu bebas menggunakannya berapa saja." jawab Kai dengan santai. Rania tampak tertegun menatap kartu di tangannya. "Kenapa diam? kamu bisa berbelanja ke mana saja yang kau suka! tidak perlu takut, belanjakanlah sepuasmu." Kai kembali berbicara sambil mengoles selai di atas rotinya. sedangkan Rania masih berdiri di sana. dia benar-benar tidak percaya jika Kai akan memberikan kartu kredit padanya. "tapi Tuan! sepertinya saya tidak butuh ini! Saya juga tidak tahu harus berbelanja apa." jawab Rania akhirnya kembali meletakkan kartu itu di meja. Kai segera mengangkat wajahnya. sorot mata pria itu sangat tajam. "Saya tidak suka di bantah dan ditolak Rania!! ambil itu dan pergilah berbelanja untuk keperluanmu." tegas Kai. dengan rasa takut, Rania segera mengambil kembali kartu itu. "baiklah tuan!!." jawab Rania ragu. "itu berarti Tuan Kai sudah sangat mempercayaimu. kamu jangan sampai menghianati kepercayaannya." bibi Ratih segera berbicara saat Rania membantunya membereskan meja makan. "tapi dia memberiku kartu kredit tanpa batas. Saya tidak pantas menerimanya." jawab Rania sendu. "kamu akan hidup bersama dengan Tuan Kai di rumah ini! berjanjilah pada bibi untuk selalu setia padanya. jangan pernah menghianatinya. kamu mengerti?." Rania kembali mengangguk ragu mendengar permintaan bibir Ratih. ***. pllaakkkk!! "dasar anak bodoh! Bagaimana mungkin kamu menghianati Rania dan menjalin hubungan dengan Diana?." Rendy hanya bisa mengusap pipinya saat mendapatkan tamparan dari sang ayah. "Saya memang tidak terlalu menyukai Rania! dia begitu kampungan! beda dengan Diana!." pria paruh baya yang menjadi ayahnya Itu tampak begitu geram menatap putranya. sementara sang mama hanya bisa geleng-geleng kepala. "kampungan? Rania kau sebut kampungan? dia itu wanita yang menjaga harga dirinya! tidak seperti Diana yang berlagak murahan. Papa benar-benar tidak tahu apa yang ada dalam kepalamu!!." Rendy masih tertunduk dalam, tidak berani menatap kedua orang tuanya, yang terlihat kecewa mengetahui kenyataan, kalau dirinya sudah membuang Rania. "Mama tidak akan bisa menerima Diana menjadi menantu di rumah ini. terlebih perlakuannya kepada Rania. dia tidak pantas untuk menjadi menantu keluarga Atmaja." Rendy hanya bisa menatap punggung sama mama yang sudah berlalu. dia menarik nafas gusar. "bawa Rania kembali ke hadapan kami! atau papa akan menurunkan jabatanmu menjadi karyawan biasa di kantor." Doni Atmaja segera memberikan ancaman kepada putranya itu. "ah sial!!!." ***...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN