"Tolong! Siapapun di luar tolong aku!!." Rania masih berada di dalam ruangan, nafasnya tersengal karena kelelahan terus berteriak. Kedua tangannya bahkan sudah memerah dan perih karena terus-terusan memukul pintu, berharap ada yang mendengar dan datang menolongnya. Sshhhhh!! Aahh!! "Perutku sakit!!." Rintihnya lagi merosotkan tubuhnya ke arah lantai, perutnya terasa benar-benar sakit dan seperti diaduk-aduk dari dalam. "Kumohon bertahan! Demi hidup kita berdua!." Perintahnya sambil berkata pada janin yang ada dalam perutnya. Dia sungguh takut kalau janin itu akan keluar sebelum waktunya. Aaahhh!! Terdengar lagi erangan yang keluar dari mulutnya, namun dia berusaha membangkitkan tubuhnya lalu berjalan terseok-seok menuju arah meja kerjanya. "Kamu sungguh menyedihkan Rania, di hari

