Kamu hampir membunuhnya

886 Kata
Tubuhku terasa dingin, dan aku menggigil. Aku terbangun dan mendapati ternyata aku tertidur di kamar mandi. Yah, aku tertidur dikamar mandi saat berusaha membersihkan tubuhku sari najis. Aku bahkan tertidur tanpa mengenaian selembar kain. Aku berusaha berdiri tetapi aku kesulitan karena kaki ku sangat lemah. Aku juga mencoba meraih handle pintu dan mencoba berdiri. Baru aku berhasil membuka kunci pintu, terdengar suara bi nita memanggil-manggil nama ku. “Non Rena...non Rena..”dia berjalan kesana kemari mencari lalu dia menghampiri kamar mandi dan membuka. “Astaga..non Rena...nona kenapa? Kenapa bisa seperti ini?” bi nita panik melihat kondisi ku dan bergegas menutup tubuhku dengan handuk lalu menopang ku ke tempat tidur. Tubuhku semakin menggigil dan kepalaku sangat pusing. Perlahan suara bi nita semakin menjauh dan pandangan ku semakin buram dan aku tidak sadarkan diri. Ntah sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri. Perlahan aku mulai membuka mata, aku melihat tangan ku di infus. Dan melihat dokter Dani sedang memeriksa kantung infus ku. “Mba sudah bangun?”sapanya sambil memeriksa ku. Aku hanya membalas dengan tersenyum. “Mba sudah 2 hari tidak sadarkan diri. Bahkan mba demamnya tinggi sekali sampai 40°C. Sekarang suhunya sudah di 36.5°C sudah normal, syukurlan.” Ucap dokter Dani sambil tersenyum. “makasih dok.” Jawab ku sambil berusaha duduk. “Pelan-pelan mba, jahitan dikepala belum kering. Jangan terlalu banyak bergerak.” ucapnya kemudian. Aku terkejut medengarnya. “kepalaku dijahit??” sahutku? “maaf belum sempat mejelaskan, 2 hari yang lalu bi Nita menelp saya menyurus datang karna kondisi nona darurat. Saya bergegas datang kemari. Kondisi nona memang sangat memprihatinkan. Ada banyak darah mengalir dari kepala, ternyata ada robekan di bagian kepala. Dan nona menggigil badan panas sampai 40°C. Bersyukur saya datang tepat waktu dan bisa segera ditangani. Dan nona orang yang kuat bisa melewati itu semua.” Dokter Dani menjelaskannya. Ya, terakhir sebelum tidak sadarkan diri aku melihat bi Nita menopangku ke atass tempat tidur. Syukurlah bu Nita bisa memanggil Dokter Dani dengan cepat. Batin ku Aku diam dan kemudian menangis. Aku menangisi keadaan ku. Sungguh aku sangat menyedihkan Hiksss....hikssss....hikks... “boleh tinggalkan aku sendiri.”ucap ku “baik.” Sahut dokter Dani Aku meratapi keadaan ku. Menangisi keadaan ku. Badan ku bergetar dan mulut ku bergetar karena marah, takut dan sedih. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku mendengar seseorang sedang berbicara, “Aku sudah melarangmu untuk minum sampai mabuk, kenapa masih kau lakukan itu?” “Aku lepas kontrol. Kau tahukan hari itu, peringatan hari kematiannya.” “Tapi tidak seperti itu caranya, kau bahkan hampir saja membunuhnya. Sedikit saja aku terlambat datang, dia pasti sudah mati.” “iya, aku tahu. Aku akan mengurusnya.” Sepertinya itu Dokter Dani dan Michael.benak ku Terdengar suara langkah kaki menghampiri ku. Dia berdiri disampingku. Aku terlalu marah untuk melihatnya. Aku menutup mataku dan berpura-pura tidur. Ntah berapa lama dia berdiri disitu tidak sengaja aku jadi tertidur. “Non...nona Rena..” terdengar suara Bi Nita memanggil-manggil nama ku. Aku membuka mata dan benar dihadap ku adalah bi Nita. “Bagaimana kondiso nona?masih pusing?” tanya bi Nita. Aku membalasnya dengan menganggukkan kepala ku. “Yuk makan dulu, biar nona minum obat.” Katanya kemudian Lalu bi Nita membantuku untuk duduk dan kemudian menyuapiku makan. “ Enak non?”tanyanya lagi Aku hanya menjawab dengan mengangguk. “makasih bi.” Jawab ku kemudian. “sama-sama. Saya sedih melihat non Rena seperti ini. Biasanya nona wajahnya sangat ceria. Aku tahu perasaan nona pasti sedih terkurung disini, merindukan keluarga. Tapi nona bisa mengatasinya dengan baik. Sesekali terdengar suara nona bernyanyi. Aku sangat senang mendengarnya. Karena suara nona sangat merdu. Sekarang nona seperti ini, aku saangat sedih.” Ucap bi Nita sambil menangis. Aku melihat ketulusan dari bi Nita. Aku bersyukur karena masih ada orang yang peduli dengan ku. “makasih bi.” Sahut ku kemudian sambil menangis. “waduhhh, ada apa ini. Kenapa pada menangis?” tiba-tiba dokter Dani datang. Kami pun sepontan menghapus air mata kami. “eh Mas Dani, sudah makan?” sapa bi Nita. “sudah bi. Saya tadi makan dulu baru kesini.” Jawabnya “Bi..tolong tinggalkan kami sebentar.” Sahutku kepada bi Nita “baik non.” Jawabnya “ Bagaimana kondisi mba?” tanya Dokter Dani “Kepala saya masih sakit dok.” Jawabku kemudian Lalu dokter Dani memeriksa jahitan dikepalaku. “jahitannya bagus kok. Hanya saja belum kering sepenuhnya. Tadi sudah makan kan?nih minum obatnya supaya jahitannya cepet kering.” Sambil memberikan dobat dan air minum. Dan aku pun meminumnya. “Dok, boleh saya bicara sebentar.”ucapku. “Boleh, silahkan.” Sahutnya sambil mengambil kursi dan duduk disamping ku. “Mungkin dokter tidak tahu, aku adalah seorang perempuan bersuami dan sudah memiliki 2 orang anak. Selama aku disini sudah hampir 2 bulan aku khawatir dengan keadaan suami dan anak-anak ku. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan ku, terlebih aku hilang tanpa sepatah kata pun. Dan selama disini alu banyak menuliskan surat buat suami dan anak-anak ku. Aku ingin minta tolong, bolehkan dokter membantu ku mengirimkan surat-surat itu kepada suami ku?” Dokter Dian kelihatan terkejut mendengar perkataan ku. “Tapi mba, saya khawatir Michael tidak setuju.” “ku mohon dok, hanya dokter yang bisa membantu ku. Dokter hanya perlu mengirimnya lewat expedisi tanpa mencantumkam alamat pengirim agar dia tidak curiga dan tidak mencariku.” Jawab ku kemudian. “Hmm...baiklah..akan kucoba.” Jawabnya dengan suara yang berat. Kemudian saya langsung menunjukkan laci tempat aku menyimpa semua surat-surat buat suami ku dan memberikan alamat kantor tempat suami ku bekerja. Sebelum dia berubah pikiran. “ terimakasih dok.” Ucap ku “sama-sama.” Jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN