POV Nova

437 Kata
Aku Nova ibu dengan 3 anak yang masih membutuhkan banyak biaya . 2 anakku sekolah di sekolah swasta . Anakku yang paling kecil masih berumur 4 tahun . Bukannya aku tak punya suami . Suamiku masih ada tapi dia lebih ke tidak peduli dengan semua urusanku dan semua biaya anak - anakku . Aku yang hanya pedagang kaki lima berusaha sekuat tenaga untuk membesarkan ketiga buah hatiku . Tak peduli badan yang lelah . Tak peduli badan yang sakit . Aku tetap bekerja hingga larut malam . Aku pantang pulang sebelum uang saku sekolah anak - anakku ada ditangan . Aku pantang pulang sebelum aku mampu membelikan dus kecil s*s* untuk anakku . Hingga tak jarang aku pulang kerumah pukul 2 pagi hari . Aku bukan lagi sebagai tulang rusuk tapi aku sudah berganti peran sebagai tulang punggung . Terkadang aku lelah . Tapi aku sadar diri . Aku bukan wanita cantik bukan wanita istimewa yang layak untun diperjuangkan . Selama 15 tahun ini aku bertahan dengan situasi yang seperti ini . Menangis dalam diam . Aku selalu berusaha terlihat baik - baik saja untuk anak - anakku . Berusaha kuat untuk mereka bertiga . Segala usaha aku lakukan agar mereka bertiga tercukupi . Aku berjualan dari jam 4 pagi hingga jam 1 pagi kadang hingga jam 2 pagi. Disaat aku sudah memulai aktifitasku berjualan suamiku masih nyaman dengan kasur dan bantalnya . Bahkan untuk berbagi tugas mengantar jemput anak - anaknya sekolah dia pun enggan . Aku sempat berpikir untuk menyerah dengan situasi seperti ini . Tapi ketika aku melihat wajah ke 3 anakku . Aku merasa bersalah kalau aku harus merusak mental mereka karna perpisahan orang tuanya . Terbesit untuk berpisah bukan karna aku sudah tak cinta . Tapi karna aku lelah dengan semua beban yang ada . Aku lelah memikirkan semua ini sendirian . Aku lelah menjadi wanita yang diabaikan pasangannya . Hari - hariku sulit dengan suasana seperti ini . Belum lagi warung yang sepi . Bahkan terkadang untuk membeli beras untuk makan mereka aku nggak pegang uang sama sekali . Aku terpakasa mencari hutangan kesana kemari untuk memberikan makan keluargaku . Tak masalah aku yang kelaparan asalkan jangan mereka . Dulu warungku tak sesepi ini . Entah apa yang menyebabkan penurunan drastis usahaku . Semakin hari semakin sepi . Karna usahaku yang semakin sepi ini . Aku tergiur perputaran uang di arisan sosialita . Yang penting besok anak - anak bisa makan . Bisa bayar sekolah . Dan modal untuk jualan ada lagi. Setiap admin buka list arisan aku selalu ambil no untuk menutupi semua kebutuhan hidupku dan anak - anakku .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN