Part 15

935 Kata
Setelah selesai dari toilet, aku segera menuju ke kelas. Sambil jalan, aku coba melihat hpku yang dari pagi sudah kuabaikan. Wow.. Banyak banget panggilan tak terjawab. Semuanya dari 1 nomor. Karin. Setelahnya, aku membuka aplikasi hijau. Ternyata ada beberapa pesan. Tapi ada satu pesan yang menarik perhatianku. 'Hai Keyla. Apa kabar? Koq kamu nggak bilang kalau pindah ke kampus sini? ' Aku menbaca chat itu sambil tersenyum. Bukan karna senang akhirnya dia chat aku. Tapi karna ternyata kejutanku ini berhasil. Begitu cepatnya dia berubah. Bahkan baru kemaren dia bilang "jangan ganggu aku lagi! " tapi hari ini malah fia yang chat duluan. Baru kemaren dia blokir nomor aku. Tapi ternyata nggak sampai 2 hari, malah dibuka lagi blokirannya. Aku tersenyum puas sambil berjalan ke kelas. Sesampainya di kelas, aku menghampiri Karin dan juga Erick masih dengan senyum yang mengembang. "Kamu kenapa Key? Koq senyum-senyum gitu? " Tanya Karin. Aku hanya tersenyum sambil duduk di sebelahnya. Saat sedang asik ngobrol sama Karin, tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah wajah Cinta yang masih cemberut. Dibelakangnya ada Arya dengan tampang yang sama. Saat pandangan mata kami bertemu, Arya tersenyum. Senyuman yang selalu dia berikan dulu padaku. Aku mengabaikannya dan kembali ngobrol sama Karin dan juga Erick. Drtt... Drtt... Bunyi pesan masuk ke hpku. Segera kulihat. Ternyata pesan masuk dari Arya. 'Keyla, kamu marah ya sama aku? Maafin aku ya. Aku terpaksa nikah sama Cinta. Aku tu dipaksa sama mamah dan papahku. ' "Dari siapa sih Key? Koq senyum-senyum gitu bacanya? "tanya Karin. Ternyata dia memperhatikanku yang sedang tersenyum setelah membaca pesan tadi. "Oh. Ini dari mantan yang nggak tau diri. Udah nikah, masih aja gangguin aku!" jawabku dengan sedikit berteriak agar orangnya dengar. Tak lupa aku mengedipkan mata pada Karin. "Duh! Dasar nggak tau diri banget sih itu mantan kamu. Baru buka kali ya matanya. "Jawab Karin. Kami sengaja ingin menyakitkan hati mereka. Aku yakin pasti meraka akan bertengkar hebat setelah ini. Ditambah lagi dengan teman-teman sekelas yang ribut membahas dan mengatai. "Dasar ya. Jaman sekarang laki-laki atau perempuan sama saja. Susah cari yang tulus!" "Iya, mungkin dia itu buta. Masa cewe cantik kaya kamu malah ditinggal nikah. " "Pasti cowoknya matre tuh! " Brak "Maksud kalian apa? "tiba-tiba Arya berteriak. Mungkin tidak terima karna dikatai begitu. "Kenapa? Merasa ya?" Karin bersuara. Wajah Arya merah padam. Mungkin dia malu karna tiba-tiba berteriak begitu. Sontak Cinta yang duduk disebelahnya berdiri dan terus berjalan meninggalkan kelas. Arya lekas mengejar langkah Cinta. Aku tersenyum puas melihat pemandangan tersebut. Setelah kejadian tadi, mereka tidak lagi kembali ke ruangan sampai kelas selesai. Aku bernyanyi kecil sambil menyetir mobil kesayanganku. Saat ini, aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Setibanya dirumah, ternyata sudah ada mobil papah di garasi. Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Aku tidak sabar melihat reaksi mamah dan papah setelah melihat perubahanku ini. "Mah, pah. Koq udah pulang? Katanya 3 hari diluar kota." sapaku pada mamah dan papah yang terlihat sedang duduk di sofa sambil berbincang. "Ella! " kata mamah langsung berdiri. Mungkin kaget dengan perubahanku. Papah juga kulihat melebarkan matanya. Terlihat jelas raut keterkejutan di wajah mereka. "Ini kamu nak? " mamah mendekat dan memelukku erat sambil memutar-mutakkan tubuhku. Papah ikut berdiri dan mendekat. "Ih.. Mamah nih gimana sih. Anak sendiri koq nggak tau. " kataku tersenyum lebar. Mamah kembali memelukku sambil mengeluarkan air matanya. "Mamah koq nangis sih?" aku bertanya karna merasa bingung dengan reaksi mamah. Kukira dia akan senang melihat perubahanku ini. "Mamah nggak suka ya liat aku gini? Maaf ya mah, pah. Aku janji akan merubah kembali penampilanku." ucapku sambil memeluk mamah. Ternyata pilihanku untuk berubah salah. "Ella, mamah nangis karna senang El. Mamah nggak nyangka, ternyata anak mamah cantik banget." kata mamah sambil menepuk pundakku. "Ah mama bisa aja. Berlebihan banget sih. Aku kira mamah nggak suka liat perubahan aku." aku berkata sambil pura-pura merajuk. "Kamu kaya nggak kenal mamah kamu aja El. Reaksinya suka berlebihan. " kata papah sambil tertawa. Papah mencium keningku sambil gantian memelukku. "Nggak tau nih mamah. Padahal aku tu udah takut banget kalau ternyata mamah nggak suka sama perubahanku, karna mamah langsung nangis gitu." aku berucap sambil berjalan bersama mamah dan juga papah ke sofa. Mamah dan papah tertawa mendengar ucapanku. "Oya. Mamah sama papah koq udah pulang? Katanya mau 3 hari diluar kota." tanyaku lagi setelah tawa mereka reda. "Gimana nggak pulang El. Kita itu risau karna kamu tiba-tiba minta pindah ke sini. Untung aja papah punya teman yang bisa bantu di Singapura. Mana mintanya hari ini lagi." jelas mamah panjang lebar. "Hehee maaf pah, mah. Ella juga baru kepikiran sore kemaren. Makanya baru bilang sore kemaren." Aku menjawab sambil nyengir. Akhirnya kami larut dalam perbualan. Mamah juga katanya besok akan minta toko langganannya untuk mengirim beberapa baju, sepatu dan juga tas untukku. Saat asik dalam perbincangan, tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Pah, mbok Lilis bisa tinggal disini lagi nggak? Biar aku punya teman kalau mamah sama papah lagi di luar kota." pintaku. "Ya bisa dong El. Tapi harus nanya ke mbok Lilis dulu. Dia mau atau nggak." jawab papah tersenyum. "Ok pah. Besok biar aku yang nanya." aku senang, akhirnya bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yang aku sayang. Mamah, papah dan juga mbok lilis yang sudah kuanggap seperti keluarga. Mamah hanya tersenyum mendengar. "Hmm.. Pah, aku mau minta tolong lagi,bisa nggak? " tanyaku was-was. "Minta tolong apa lagi El? Jangan bilang kalau mau kembali kuliah di Singapura lagi. Kalau untuk yang itu, papah minta maaf. Papah nggak bisa." canda papah. "Ya nggak dong pah. Aku tuh mau minta tolong yang lain pah. " "Emangnya mau minta tolong apa sih El?" kali ini mamah yang bertanya. Sepertinya mereka penasaran dengan permintaaku. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN