Part 12

1227 Kata
Erick kembali melajukan mobil. Setelah hening sesaat, akhirnya Karin mulai membuka suara. "Aku udah ingat siapa cewek tadi.. " Sambil kembali menatap padaku dan Erick bergantian. Karna Erick yang terus saja berdiam diri, mungkin sudah tidak mau lagi meladeni Karin, akhirnya terpaksa aku yang bertanya. "Siapa? " tanyaku. Karin menoleh ke belakang dan menatapku lekat. "Kayanya itu Cinta. Ya, itu Cinta! " katanya. "Bukannya tadi kamu bilang dia ada acara keluarga, makanya ngak bisa ke rumah? " Memang tadi waktu dalam perjalanan ke Mall, aku sempat bertanya karna Cinta yang tidak ikut datang. Cinta adalah sahabatku dari SD. Akulah yang memperkenalkan Cinta pada Erick dan juga Karin saat SMA. Saat SMA, awalnya kami berbeda sekolah. Tapi saat kelas 2 SMA, akhirnya Cinta pindah ke sekolah yang sama denganku karna kedua orang tuanya yang meninggal kecelakaan. Dia tinggal dengan paman dan bibinya yang pada saat itu adalah tetanggaku. Karna itu jugalah persahabatan kami makin dekat. Setiap hari kami akan berangkat sekolah bersama-sama. "Iya. Memang katanya sih gitu. Ada acara keluarga dari kemaren. Tapi aku yakin banget kalau itu Cinta." tegas Karin. Akhirnya kami larut dalam fikiran masing-masing sehingga tidak menyadari kalau sudah sampai dirumahku. Aku turun dari mobil dan mengajak mereka berdua untuk mampir. Karna waktu yang sudah mepet, mereka memutuskan untuk langsung pulang dan siap-siap ke kampus. Setelah kepergian Karin dan Erick, aku masuk ke dalam rumah dengan menenteng belanjaanku. Mbok Lilis mungkin sudah pulang. Setiap hari mbok Lilis akan datang pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan dan melakukan pekerjaan di rumah. Setelah selesai dengan pekerjaannya, dia akan pulang ke rumahnya. Aku berjalan masuk ke kamar dan langsung membersihkan diri. Setelah itu,aku duduk di birai kasur sambil memikirkan ucapan Karin tadi. Kalau diliat-liat, memang betul. Kayanya itu beneran Cinta. Karna walaupun aku tidak melihat jelas wajahnya tadi, tapi dari postur tubuhnya mirip sekali sama Cinta. Kalau betul itu Cinta, kenapa dia tega sama aku? Bukankah dia sudah tau kalau mas Arya itu tunanganku? Bahkan saat tunangan dulu, dia juga ikut hadir menemaniku. Karna merasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk membuka aplikasi biru sekali lagi. Tapi kali ini aku tidak langsung mengetik nama mas Arya. Tapi aku membuat akun fake. Tentu saja dengan menggunakan nama yang berbeda. Setelah selesai, barulah aku mengetik nama mas Arya di kolom pencarian. Fix. Aku diblokir. Karna saat ini aku bisa langsung menemukan akunnya dengan menggunakan akun fake tadi. Aku membuka profil mas Arya dan menscroll ke bawah untuk melihat postingannya. Tapi akhirnyabaku harus kecewa lagi. Sepertinya dia memprivate akunnya. Karna hanya pembaharuan gambar profil dan juga sampul yang muncul. Segera aku menambah pertemanan dengannya. Semoga saja dia mengkonfismasi permintaanku. Agar aku bisa liat postingannya. Aku juga harus cari tau, sudah berapa lama mereka bermain dibelakangku. Sambil menunggu, aku melihat-lihat barang belanjaanku tadi. Ouh iya. Aku harus panggil mbok Lilis ke sini. Tapi gimana ya caranya? Akukan ngak punya nomornya. Akhirnya aku menghubungi mamah dan meminta agar dia menghubungi mbok Lilis agar ke sini sekarang. Setelah mengakhiri panggilan, aku kembali membuka profile mas Arya lagi. Ternyata dia baru saja mengganti gambar profilenya dengan gambar pernikahannya kemarin. Fix. Ini memang Cinta. Dadaku terasa sesak. Hatiku kembali sakit. Mungkin kalau kamu menikah sama orang lain, hatiku tidak akan sesakit ini mas. Kenapa kalian tega menghianatiku sampai begini? Tunangan yang aku cinta. Sahabat yang aku sayangi. Tega sekali kalian sama aku. Udah El. Kamu nggak boleh sedih lagi. Apalagi sampai nangis. Mereka nggak pantas untuk kamu tangisi. Pokoknya mereka harus membayar rasa sakit hatiku ini. Ucapku untuk menguatkan diriku sendiri. Tok... Tok... Tok... Pintu kamar diketuk dari luar. Itu pasti mbok Lilis. "Masuk aja mbok. Nggak dikunci koq. " teriakku dari dalam kamar. Pintu terbuka dan mbok Lilis masuk dan berjalan mendekatiku. "Ada yang bisa mbok bantu non? " tanya mbok Lilis. Aku tersenyum dan menatap pada mbok Lilis yang sudah ku anggap seperti keluarga. "Mbok, Ella minta tolong buat keluarin semua pakaian yang ada dalam lemari ya. Sama sepatu Ella yang ada di rak juga. Erm.. Semua tas juga." "Loh! Non udah mau kembali ke Singapura? Cepat banget non? " tanya mbok Lilis dengan raut terkejut. Sontak aku ketawa mendengar pertanyaanya itu. Aku merasa lucu dengan raut wajahnya itu. "Hahaa nggak koq mbok. Siapa yang bilang kalau Ella mau pulang kesana? " kataku masih dengan sisah tawaku. "Tadi katanya disuruh keluarin semua pakaian, sepatu sama apa tuh tadi... Oya, sama tas. Kalau bukan mau pulang, terus itu dikeluarin buat apa non? Bukannya buat diberesin buat siap-siap jalan ya? " tanya mbok Lilis lagi. Aku dan Mbok Lilis memang sangat dekat. Karna itulah dia biasa ngomong panjang lebar denganku. Aku juga bahkan lebih dekat dengan mbok Lilis ketimbang mamah. Karna dari kecil aku diasuh oleh mbok Lilis. Dulu dia tinggal bersama kami disini. Tapi semenjak aku kuliah di Singapura, dia memilih untuk tinggal di rumahnya. Katanya, dia takut tinggal di rumah ini sendirian, karna mamah dan papah yang selalu keluar kota. "Mbok tu ada-ada aja. Ella kan nggak bilang kalau mau diberesin. Bantu keluarin semua ya mbok. Nanti diganti sama yang ada di atas kasur itu. " jawabku sambil menunjuk pakaian yang di atas kasur. " Nanti sepatunya juga. Tuh yang di tas belanjaan nanti dimasukkan ke rak." kataku lagi sambil menunjuk tas belanjaanku yang ada di lantai. "Kalau tasnya, nanti raknya biarin kosong aja dulu. Soalnya belum sempat beli." lanjutku lagi. Mbok Lilis hanya mengangguk dengan wajah yang jelas keliatan bingung. "kenapa Mbok? Koq mukanya gitu? " "Nggak non. Cuma bingung aja non, kenapa dikeluarin semua dan diganti." jawab mbok Lilis sambil menggaruk kepalanya yang kutau pasti tidak gatal. "Cuma mau coba ganti selera aja koq mbok. Habisnya Ella bosan pakai itu-itu doang. Ya udah, mbok bantuin ya. Soalnya Ella mau keluar dulu. Ada yang mau diurusin. " jawabku dan terus mengambil tas yang tadi aku pakai. "Maaf ya udah nyusahin. " tambahku lagi sebelum berlalu. "Iya non. Hati-hati dijalan non. " * * * * Aku kembali ke Mall untuk melanjutkan belanja. Aku masuk dari satu toko ke satu toko yang lain. Setiap keluar, tas belanjaku pasti bertambah. Saat keluar dari toko yang entah keberapa, tanpa sengaja aku menabrak seseorang karna terlalu sibuk melihat kedalam tas belanjaan dan berfikir apa yang perlu kubeli lagi. Tas belanjaanku jatuh dari peganganku. "Maaf," ucapku tanpa melihat orang tadi. Aku sibuk membereskan belanjaanku yang berserakan dilantai, walaupun tau bahwa orang itu masih berdiri tepat didepanku. Setelah selesai, aku berdiri sambil menenteng belanjaanku. Seorang lelaki yang menggunakan setelan jas sedang menatapku sambil memegang hpnya yang masij melekat di telinganya. Tapi anehnya dia tidak berkata apapun. "Maaf, aku tidak sengaja. " Lelaki tadi masih bergeming. Tatapannya masih mengarah padaku. Segera kulambaikan tanganku di depan wajahnya. Tapi tetap saja dia tidak bersuara. Akhirnya aku memutuskan untuk pamit dan pergi. "Permisi. Aku pergi dulu." kataku yang masih tidak dijawab olehnya. Aku berjalan meninggalkannya. Ada apa dengannya? Mengapa dia melihatku seerti sedang melihat hantu? Aku menoleh ke belakang dan mendapati dia masih memandangku. Setelah pertemuanku dengan lelaki aneh tadi, aku memutuskan untuk pergi ke salon. Aku harus merubah penampilanku. "Silahkan mbak. " kata seorang pekerja di salon itu sambil tersenyum. Aku hanya menjawab dengan anggukan dan membalas snyumannya. "Ada yang bisa dibantu mbak? " pekerja saloon tadi bertanya padaku setelah aku duduk. "Bantu aku merubah penampilanku." kataku. "Baiklah. Tunggu sebntar ya, " jawabnya lalu meninggalkanku. Sambil menunggu, aku menghubungi papah. Saat panggilan terhubung, aku langsung menyatakan permintaanku padanya. "Pah, Ella butuh bantuan Papah." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN