☆☆☆☆☆
Acara lamaran berjalan dengan lancar dan meriah. Rasanya gue masih gak percaya aja sama apa yang terjadi. Bos gue jadi mertua gue. Bos gue ternyata dulunya temen deket Papa. Rasanya indah banget Allah SWT nulis takdir gue.
"Selamat ya, Sayang. Semoga kalian bahagia!" seru Bu Lian.
Kami berenam duduk melingkari meja bundar yang gak terlalu besar. Formasi masih seperti biasanya. Mama duduk di sebelahan sama Papa. Pak Roger sebelah kanan sama Bu Lian dan sebelah kanan Pak Alex yang tadi tadi masang muka datar.
"Makasih doanya, bu ---"
"Eits!" potong Bu Lian sambil mengangkat jari telunjuknya. "Mulai sekarang panggil Mamli dan Papli!"
"Mamli? Papli?" cue gue. Bu Lian mengangguk sambil tersenyum jahil. "Kok Mamli dan Papli?" tanya gue spontan.
Senyum Bu Lian semakin lebar. Bu Lian langsung merangkul lengan Pak Roger. "Mamli itu artinya Mama Lian!"
Gue manggut-manggut aja denger penjelasannya. "Kalo Papli?" tanya gue penasaran.
"Papli artinya Papa sayang sama Mama Lian!" Bu Lian langsung tertawa terbahak. Semua orang diam bingung ke arahnya.
Lucu sih tapi kenapa Pak Alex gak ketularan gilanya Bu Lian ya - eh salah Mamli. Mulai sekarang
☆☆☆☆☆
Setelah acara meriah itu, gue di anter pulang sama Pak Alex. Sementara Papa sama Mama pulang sendiri bawa mobil. Gue heran deh, hari ini bahagia tapi muka Pak Alex tetep lempeng. Gak ada senyumnya sama sekali nih orang.
Apa yang jangan-jangan Pak Alex selamat bahagia nikah sama gue?
"Pak!" panggil gue pelan.
"Hm?"
"Bapak---gak bahagia?" gue nekat memberanikan diri buat nanya.
"Kenapa?" tanyanya balik.
"Muka Bapak lempeng gitu. Emang dari cetakannya udah kayak gitu apa gimana, Pak? Kok saya gak pernah liat Bapak senyum?"
"Nanti kamu juga akan terbiasa!"
"Selain dingin, Bapak juga irit kosakata ya," timpal gue. "Tapi gak apa-apa sih. Buat saya Bapak itu seperti kamus!"
"Kamus?" cicit Pak Alex.
Gue mengangguk sambil nyengir lebar. "Iya, Bapak itu seperti kamus. Menambah arti di hidup saya. Mwehehehe lucu gak, Pak?"
Pak Alex kicep lagi. Gue lalu mengangkat tangan gue, ngeliat jari manis gue. Cincin mahal itu sekarang udah jadi hak milik gue.
"Tau gak Pak kenapa cincin bentuknya lingkaran?" Pak Alex cuman mengangkat kedua pundaknya. "Kalo segitiga itu bukan cincin Pak tapi celana dalam!" tawa gue meledak.
"Hentikan!"
Tawa gue perlahan mereda. "Maaf, Pak. Habisnya Bapak gak pernah senyum sih. Tapi kali ini saya serius, Pak. Saya tanya sesuatu nanti Bapak jawab ya!"
"Tanya apa?"
"Bapak tau gak kepanjangan dari IPA?"
"Ilmu Pengetahuan Alam."
"Kalo IPS, Pak?"
"Ilmu Pengetahuan Sosial."
"Kalo KPK?"
"Komisi Pemberantasan Korupsi---"
"Salah, Pak," sela gue. Pak Alex langsung natap gue sebentar. "Artinya bukan itu. Bapak mau tau gak artinya apa?" tawar gue. Pak Alex gak bersuara atau sekedar mengangguk. "Artinya Kamu PunyaKu. Hahaha!"
Pak Alex terdengar mendengus pelan. "Hentikan tingkah konyolmu itu!"
"Makanya Bapak senyum dong!"
Gue masih aja ketawa sampe mobil Pak Alex berhenti di depan rumah gue.
"Cepat masuk dan segera tidur!"
"Oke, Sayang!" panggilan gue membuat kepala Pak Alex menoleh dengan kening mengernyit. "Ati-ati ya, Pak. Jangan ngebut, saya tidak mau jadi janda apalagi kalo sampe Bapak cari janda!"
"Jangan membuat kepala saya semakin pusing. Cepat turun!"
"Saya gak di kasih sesuatu gitu?"
"Sesuatu?" cicit Pak Alex dengan alis saling bertautan.
"Mm, kiss me!"
Pak Alex terlihat terkejut lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah luar kaca mobil. "Cepat turun. Saya harus kerja!"
"Kerja? Malam-malam gini kerja?" protes gue.
"Dengan tidak adanya kamu, pekerjaan saya semakin bertambah banyak!"
Gue jadi ngerasa bersalah kalo kayak gini. "Ya udah deh, Pak. Besok saya masuk kerja---"
"Tidak perlu," potongnya. "Saya bisa tanganin semuanya."
"Hh, ya sudah suka-suka Bapak aja deh," gue lalu turun dari mobil Pak Alex. Menatap sebentar ke halaman rumah gue dan mendapati mobil Papa udah parkir cantik di sana.
"Segera istirahat!"
Gue cuman mengangguk. Kecewa. Bukan karena gue gak di bolehin kerja tapi kecewa karena gak dapet cium. Bodo ah...
☆☆☆☆☆
---Wedding day---
Kira-kira 12 jam yang lalu gue resmi jadi istrinya Pak Alex. Akad nikah pagi hari dan dilanjutkan resepsi pernikahan sampai malam hari. Hal itu membuat tubuh gue terasa remuk.
Saat ini gue berada di dalam kamar, kamar pengantin lebih tepatnya. Kamar ini dihias begitu mewah. Gue dibuat melongo dan takjub. Pak Alex masih nemuin beberapa rekan bisnisnya sementara gue memilih masuk kamar. Gue aslinya pengen sama Pak Alex tapi kondisi fisik gue gak mendukung.
Setelah melepas semua aksesori di tubuh gue, gue melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Berendam air hangat adalah pilihan terbaik.
☆☆☆☆☆
Selang setengah jam gue udah selesai dan wangi. Gue ganti baju dan memakai baju tidur bahan sutra motif bunga. Kainnya adem bikin gue nyaman dan rileks.
Gue melirik ke arah jam dinding kamar. Kok Pak Alex gak nyusulin gue ya? Mau keluar tapi males, gue udah pake baju tidur gini.
Pandangan mata gue beralih menatap tempat tidur. Gue jadi cengar cengir sendiri ngebayangin hal apa yang terjadi malam ini antara gue sama Pak Alex. Gue siap tempur, siap lahir batin.
Gue menarik nafas panjang dan membuangnya cepat. Menyingkirkan pikiran kotor yang selalu bersarang di otak nakal gue. Gue bangkit dari tempat duduk gue dan merangkak naik ke atas tempat tidur. Memilih mainin hp gue.
Gue asik sama game di hp gue dan gak sadar kalo pintu kamar gue udah terbuka. Saat sadar, gue ngeliat Pak Alex udah berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah.
Apa jangan-jangan Pak Alex mabuk? Ah gak seru donk kalo sampe dia teler?
Gue bangkit dan beranjak menghampiri Pak Alex yang tampak meringis sambil memegangi kepalanya. Kayaknya beneran nih Pak Alex mabuk.
"Pak. Bapak kenapa? Mabuk?" tebak gue.
Pak Alex hanya menggeleng sambil terus meringis dan berjalan sempoyongan menuju tempat tidur. Gue gak mencium bau alkohol tapi kenapa jalannya Pak Alex kayak orang mabuk?
"Bapak kenapa?" tanya gue lagi saat ngeliat Pak Alex langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Nafasnya teratur dan matanya terpejam rapat. Perasaan gue mendadak gak enak. "Pak. Pak Alex!" panggil gue pelan.
Pak Alex diam gak menyahut. Gue mulai panik dan memutuskan untuk naik ke tempat tidur. Memegang kening Pak Alex dan seketika gue berjengit kaget. Pak Alex demam.
"Pak. Bangun, Pak!" gue menepuk pipinya beberapa kali tapi tak ada respon dari Pak Alex. "Pak, Bapak kok pingsan? Jangan pingsan dong, Pak. Malam ini malam penting buat kita, Pak!" rengek gue.
Gue berharap Pak Alex bangun. Gue berharap Pak Alex cuman ngerjain gue. Gue kembali menepuk pipi Pak Alex. Demamnya tinggi.
Gue loncat turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. "Mamli! Papli!" teriakan gue membuat semua tamu menoleh ke arah gue. Tak terkecuali kedua orang tua gue dan mertua gue.
"Ada apa, Ril?" sahut Mama yang menyadari kepanikan gue.
"Pak Alex, Ma. Pak Alex pingsan!"
"Apa? Pingsan?" teriak Mamli dan langsung berlari ke kamar gue. Kayaknya Mamli panik banget waktu denger kabar Pak Alex pingsan.
"Lex. Alex. Buka mata kamu, Nak!" seru Mamli sambil menepuk pipi Pak Alex. "Pa, cepetan Pa!" teriak Mamli panik.
Gak lama kemudian Papli datang sambil membawa sebuah botol kecil dan air putih di tangannya. Gue cuman ngeliat Papli dan Mamli sibuk meminumkan obat ke Pak Alex.
Ada apa ini?
"Biar Beril bantu, Mam!" tawar gue dan langsung melepas sepatu Pak Alex. Mamli membuka dasi dan jas Pak Alex.
Sampai saat ini gue masih gak tau kenapa Pak Alex sampe pingsan.
Gue menatap wajah Pak Alex yang tampak kelelahan. Wajahnya terlihat memerah, keningnya mengernyit seperti sedang menahan sesuatu yang membuatnya sakit.
"Mam, Pak Alex kenapa?" tanya gue sama Mamli. Mamli menatap gue sebentar dan kembali fokus menatap wajah Pak Alex.
"Alex sepertinya kecapekan karena seminggu ini dia begadang setiap malam untuk menyelesaikan pekerjaannya--"
"Apa? Kenapa bisa?"
"Alex tidak suka menunda-nunda pekerjaannya," timpal Papli yang baru saja selesai meletakkan obat milik Pak Alex ke atas nakas. "Ia ingin saat hari pernikahannya, semua pekerjaannya selesai dan fokus ke hari bahagianya!"
Gue salut sama kegigihan Pak Alex. Dia termasuk orang yang penuh tanggung jawab. Tapi diselesaikan ia tidak bisa menyelesaikan tanggung jawabnya malam ini.
Gue sempat panik waktu Pak Alex pingsan. Gue kirain kenapa. Gak taunya cuman kecapekan. Dan malam pertama akan berakhir karena sampe keesokan harinya Pak Alex masih demam.
Oke Acaranya di pending dulu, nunggu Pak Alex sembuh.
☆☆☆☆☆
Sbya 15 Maret 2018
☆ AyaStoria