☆☆☆☆☆
Gue emang di bikinin bioskop sama Pak Alex tapi sama aja kalo tiap harinya gue standby di kantor. Pulang kerja capek trus tidur. Mubazir donk bioskop pribadi gue?
Pekerjaan gue sebagai pemegang kendali Alexi Group membuat kesibukan gue semakin bertambah. Jadwal meeting sama klient seolah gak ada habisnya.
Arsen memanggil...
Dan Arsen yang membuat mood gue balik. "Apa, Sen?" tanya gue langsung.
"Renyah banget suara lo, Ril,"
"Gue kan kerupuk! Ck, apaan?"
"Gimana? Katanya minggu ini kita nonton LLS?"
Gue menepuk pelan kening gue. "Ya Allah, Sen. Gue lupa, gak tau napa akhir-akhir ini gue semakin sibuk. Lain kali aja ya!"
"Aduh, padahal gue pengen banget nonton LLS!"
Gue nemu ide gila. "Nonton di rumah gue mau gak?" tawar gue.
"Ck. Males. Di rumah gue juga ada TV," sahutnya malas.
"Eh jangan salah. Di rumah gue ada bioskopnya---"
"Serius lo?" potongnya cepat.
"Iyalah. Suami gue kan kaya!"
"Hm, tau-tau yang nikah sama orang kaya. Gue sih apa. Cuman debu yang ketiup angin!"
"Gimana. Mau gak lo?" tanya gue lagi. Berharap Arsen bakalan setuju dan gue penasaran sama respon Pak Alex..
"Boleh. Kapan?"
Yes. Akhirnya. "Terserah lo mau kapan. Tengah malempun boleh. Midnight!"
"Emang gak gangguin lo sama suami lo?"
"Gaklah. Ntar gue temenin nonton!" Rasanya gue udah gak sabar ngajakin Arsen ke rumah. Mau liat respon Pak Alex. Cemburu apa gak sama Arsen.
"Mm, besok malem gimana?"
"Oke. Jam berapa lo ke rumah?"
"Gue jemput lo deh. Trus pulang bareng. Gimana?"
"Deal. Oke besok sore jemput gue jam 4."
"Sip!"
Gue menutup panggilan dengan senyum yang mengembang. Salah siapa gak di ijinin nonton bioskop di luar?
☆☆☆☆☆
Jam tangan gue udah nunjukin angka 4. Gue nyenderin punggung gue ke kursi dan menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.
Lelah dan pengen cepet pulang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" seru gue pelan.
Sekretaris gue muncul dan tersenyum. "Maaf, Bu. Sudah jam 4. Apa ada pekerjaan lagi untuk saya?"
"Tidak ada, Nis. Kamu pulang saja. Oh iya besok jangan lupa follow up Pak William ya!" ingat gue.
Nisa mengangguk. "Baik, Bu. Kalau begitu saya pamit pulang duluan ya, Bu!"
"Iya, makasih ya Nis untuk hari ini. Hati-hati di jalan!"
"Iya, Bu. Makasih!"
Pintu ruangan gue tertutup pelan dan Nisa pergi. Gue kembali menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan cepat. Setelah rasa capek gue sedikit berkurang, gue beranjak dari tempat duduk gue, menyambar tas selempang gue lalu keluar.
Gue berdiri di depan pintu lift karyawan. Sambil menunggu gue mengecek email lewat ponsel gue. Saat pintu lift terbuka, gue dibuat melongo karena ngeliat Pak Alex berdiri di dalam sana.
"Pak Alex?" seru gue. Kaget juga kenapa tiba-tiba ada suami gue di sini. "Bapak mau kemana?" tanya gue sambil melangkah pelan masuk ke dalam lift.
"Kebetulan saya sedang lewat sini jadinya saya mampir---"
"Bapak mau jemput saya?" potong gue cepat.
"Tadi saya habis ketemu klient di dekat sini dan saya mampir."
"Ck, susah banget sih bilang iya!"
Pintu lift tertutup. Senyum gue mengembang. Kemajuan nih Pak Alex ke kantor cuman mau jemput gue.
Pintu lift kembali terbuka dan seorang wanita berpakaian formal masuk. Wanita itu tampak terkejut menatap ke arah Pak Alex lalu melempar senyumnya.
Ia lalu berdiri menyamping tepat di depan Pak Alex. Gue menatap penampilannya mulai dari atas sampai bawah. Rok mini warna gelap dipadu dengan blazer biru lengan panjang.
Yang membuat mata gue melotot adalah bagian d**a blazer itu terbuka dan menampilkan dua buah gunung kembarnya yang menonjol. Walaupun pake daleman tapi tetap aja keliatan belahannya.
Suara deheman Pak Alex membuat emosi gue tiba-tiba naik. Gila nih cewek, mau godain suami gue.
"Baru pulang ya, Pak?" suara wanita itu terdengar begitu lembut dan ia tersenyum genit ke arah Pak Alex.
Pak Alex hanya mengangguk tanpa bersuara tapi gue bisa ngeliat dengan jelas kalo Pak Alex sedikit salah tingkah. Mungkin karena pemandangan haram di depan mukanya.
Sialan nih cewek. Gue yang udah di halalin aja gak di lirik eh dia mau nyolong start gue?
Gue meringis sambil ngibasin tangan di depan muka gue. "Kok panas ya, Pak. Apa ACnya mati?" tanya gue.
Cewek itu ngeliat ke arah gue sebentar lalu pandangan matanya kembali menatap Pak Alex dan tersenyum.
"Ya Allah, gerah banget sih?" tangan gue membuka perlahan kancing blazer gue bagian atas. Pak Alex masih diem gak ngerespon. Tangan gue beralih membuka kancing kedua dan seterusnya sampai blazer gue benar-benar kebuka seluruhnya dan mengekspos bagian d**a gue yang gak terlalu besar. Gue kibasin tangan gue seperti orang sedang kepanasan. Padahal aslinya dingin banget. Apalagi gue cuman pake daleman tanktop.
Cewek di depan Pak Alex tampak menatap ke arah gue dengan tatapan jijik. Bodo amat. Gue caper sama suami sendiri, lah situ? Caper sama suami orang?
Bersamaan denting suara lift terdengar, tiba-tiba Pak Alex membuka jasnya dan langsung membungkus tubuh gue. "Besok akan saya tambah AC di kantor ini agar kamu tidak kepanasan!"
Gue tersenyum penuh kemenangan saat Pak Alex memeluk gue dari samping dan menuntun langkah gue keluar lift. Cewek yang tadi cuman melongo menatap ke arah gue.
Gue menang kan?
Pak Alex bukain pintu mobil buat gue. "Masuk!" titahnya. Gue masuk dan setelah itu Pak Alex berlari menuju pintu bagian kanan. Coba tiap hari kayak gini, berasa jadi cewek paling bahagia gue di muka bumi ini.
Pak Alex dengan tiba-tiba menginjak pedal gas mobilnya dan mobil langsung meluncur dengan cepatnya. Gue jadi keinget kejadian beberapa hari yang lalu saat ngeliat Pak Alex ngebut dan menyalip semua mobil.
"Pak, pelan-pelan bisa kan?" pinta gue. Pak Alex gak menanggapi dan semakin menambah kecepatan mobilnya. Kilatan amarah terlihat jelas di matanya. Gue cuman bisa mencengkram tali seatbelt dan berdoa semoga gue selamat sampe rumah.
☆☆☆☆☆
Pak Alex turun dari mobil dan langsung masuk rumah. Gue di tinggalin? Dengan gerakan cepat gue mengejar langkah Pak Alex yang langsung masuk ke dalam kamar.
Nih orang bener-bener gak ngerasa bersalah. Setelah acara kebut-kebutan tadi Pak Alex langsung ninggalin gue. Gak tau apa kalo gue takut setengah mati?
"Pak Alex kenapa sih?" teriak gue saat langkah kaki gue udah sampe kamar. Gue liat Pak Alex dengan gerakan kasar membuka dasinya dan melemparnya ke tempat tidur lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. "Bapak gak tau apa kalo saya takut kecepatan? Bapak mau bunuh saya?"
Mata Pak Alex langsung menatap lurus ke mata gue. Tajam dan dingin.
"Maksud kamu apa melakukan hal seperti itu---"
"Seperti apa?" potong gue cepat. "Apa yang Bapak maksud seperti cewek yang di dalam lift tadi?"
"Kelakuanmu seperti w************n!" ucapnya sinis.
Mata gue spontan berair dan airmata gue merembes keluar. "Apa? w************n? Bapak bilang saya w************n?"
Pak Alex diam tapi pandangan matanya terus menatap ke arah gue.
"Apa salah kalo saya mencari perhatian sama suami saya sendiri? Katakan dimana letak kesalahan saya, Pak!"
"Tidak sepantasnya kamu melakukan itu di tempat umum!" sahutnya masih dengan suara yang begitu dingin.
"Lalu, apa pantas seorang suami memperhatikan wanita lain di depan istrinya sendiri? Saya tau, Bapak tertarik kan sama cewek tadi?"
"Jangan berpikiran negatif!" Pak Alex memutus kontak mata dan melangkah pelan menuju jendela kamar. Berdiri di sana dengan posisi menatap ke arah luar jendela.
"Apa saya salah jika selama ini saya negatif thinking sama Bapak? Selama seminggu kita menikah, apa Bapak pernah menyentuh saya? Bapak terlalu sibuk dengan dunia Bapak sendiri. Apa pernah Bapak menanyakan kabar saya? Keadaan saya? Kesibukan saya di kantor? Saat jam makan siang, apa pernah Bapak menelpon saya atau sekedar mengirim pesan. Menanyakan apa saya sudah makan apa belum? Apa saya sudah istirahat apa belum? Apa pernah Bapak mengantar jemput saya pergi ke kantor?"
Tangan gue dengan kasar menyeka pipi gue yang udah basah. Gue melempar jas milik Pak Alex ke sembarang tempat. "Buat apa Bapak care sama saya di depan umum sementara di dalam rumah Bapak cuek sama saya? Apa hanya ingin mencari perhatian publik?"
Pak Alex menoleh dan kembali menatap ke arah gue. Pandangan matanya sedikit melembut.
"Bapak gak tau rasanya jadi saya. Bapak gak tau gimana sakitnya di cuekin. Bapak gak tau rasanya menunggu. Menunggu seseorang menelpon Bapak hanya sekedar nanyain kabar. Lalu apa salah jika saya mencari perhatian sama suami saya sendiri?"
Gue terdiam, mengatur nafas gue yang naik turun dan kembali menyeka pipi gue yang basah.
"Kenapa Bapak setuju nikah sama saya kalau sedikitpun Bapak gak care sama saya?"
Setelah mengatakan hal itu gue langsung keluar kamar dan melangkah cepat menuju halaman. Di sana ada supir pribadi Pak Alex yang tiap hari nganter jemput gue ke kantor. Saat gue masuk ke dalam mobil, Pak Dino, supir pribadi suami gue juga ikutan masuk.
"Mau kemana, Bu?" tanyanya ramah.
"Jalan saja dulu, Pak. Nanti saya pandu arahnya!"
Pak Dino mengangguk dan mulai menjalankan mobil. Kepala gue menoleh menatap daun pintu rumah yang tertutup rapat. Pak Alex gak ngejar gue dan hal itu semakin membuat gue hancur dan airmata gue gak bisa di bendung lagi.
Mungkin dengan ketemu sama Arsen, rasa sakit gue sedikit terobati.
☆☆☆☆☆
Sbya 20 Maret 2018
☆AyaStoria