☆☆☆☆☆
Akhirnya gue dan Pak Alex pindah juga ke rumah baru. Menurut gue ini bukan rumah tapi istana. Rumah segede ini cuman di isi gue sama Pak Alex aja.
Hari ini gue kembali kerja. Ruangan Papli masih aja kosong. Harusnya itu ruangan ditempatin Pak Alex tapi Pak Alex lebih milih kerja di rumah.
Selesai ngirim email ke Pak Alex, gue bingung apa yang harus gue lakuin. Semua pekerjaan yang terima kasih Pak Alex selesai dengan cepat. Gak biasanya gue kayak gini, apa karena vitamin yang Pak Alex terima kasih kemarin ya?
Gila.
Kalo kejadian itu gue jadi nyengir sendiri. Suami kulkas gue juga bisa cemburu dan cemburunya sama si Arsen lagi.
Kayaknya gue mesti sering jalan sama Arsen nih, biar Pak Alex kepanasan. Gue pengen liat aja melebihi mana reaksi Pak Alex saat gue sama cowok lain.
Pintu kamar terbuka dan muncul Papli. Spontan berdiri dari tempat duduk. "Selamat pagi, Pak!"
Gimanapun juga Papli atasan gue. Papli melempar senyumnya ke arah gue. "Ikut Papli, Ril!" titahnya.
Gue mengangguk dan ikut masuk ke dalam ruangannya. Papli duduk di kursi kebesarannya dan guepun pergi duduk. "Ada apa, Pak?"
"Panggil Papli aja, Ril," sahutnya. Gue mengangguk lagi. "Gini, Ril. Papli mau bicara soal Alexi Group!"
Perasaan gue langsung gak karuan. Kenapa sama Alexi Group? Cuman itu yang ada di benak gue.
"Grup Emangnya Alexi, Pap?" gue sedikit cemas. Apalagi saat ngeliat muka Papli yang masam.
"Tidak ada masalah yang serius hanya saja, Papli meminta tolong kamu, mulai sekarang kamu harus bertanggung jawab atas Perusahaan ini!"
Gue bingung gak tau mesti seneng apa sedih. Gue dipercaya megang Perusahaan segede ini. Apa itu artinya gue jadi owner?
"Ta-tapi kenapa harus Beril, Pap? Kan masih ada Pak Alex?"
"Alex akan tetap menjadi atasan kamu hanya saja Alex akan memantau dari rumah saja. Tapi 85% kamu yang memegang kendali!"
Gue menunduk. Perasaan antara bingung dan takut. Bingung apa gue bisa menjaga amanat Papli. Gue takut, gimana reaksi Pak Alex nanti? Gue kan cuman mantu dan harusnya Pak Alex yang ada di posisi gue.
"Papli tau apa yang kamu pikirkan!"
Perkataan Papli membuat kepala gue mendongak. Papli tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menghampiri jendela kaca besar dan berdiri di sana.
"Alex sudah tau soal ini dan ia juga setuju,"
Gue merasa ada yang aneh. Dari pandangan mata Papli yang sepertinya menyimpan rahasia. Tapi apa?
"Kamu tenang saja, Papli akan memberimu sekretaris. Untuk membantu pekerjaanmu!"
Ucapan Papli sama sekali gak membuat hati gue lega. Ada satu hal yang mengganjal dalam hati gue. Pengen gue tanyain ke Papli tapi gue takut.
Akhirnya gue menerima keputusan Papli, gue akan memegang kendali Perusahaan ini. Sementara Papli menghandle Perusahaan di Luar Negeri.
☆☆☆☆☆
Semakin hari gue semakin sibuk. Gue seorang istri harusnya kerja di rumah tapi ini malah kebalik. Tapi gue seneng dapet kepercayaan dari Papli buat megang Alexi Group.
Pulang kerja seperti biasanya gue di jemput supir.
Pernikahan gue sama Pak Alex baru jalan seminggu tapi selama itu gak ada kontak fisik di antara gue sama Pak Alex.
Apa jangan-jangan Pak Alex homo?
Spontan gue menoyor kepala gue sendiri. Gak mungkin Pak Alex homo, kalo homo ngapain dia nerima perjodohan ini dan ngapain juga dia nyium gue waktu itu.
Mata gue seketika melotot lebar saat menatap pemandangan yang menggoda iman gue.
"Gak dingin apa, Pak. Kok gak pake baju?" tanya gue sambil menggigit bibir bawah gue. Pak Alex diem gak nyaut dan malah sibuk sama hpnya. "Pak, kalo iman saya gak kuat, jangan salahin saya ya, Pak!"
Pak Alex menoleh cepat dan beranjak dari duduknya. Langkahnya cepat menuju lemari lalu mengambil kaos putih dan langsung memakainya.
"Cepat mandi, sudah hampir malam!" ingatnya.
Gue tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah malas gue langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi gue gak langsung mandi, gue merenung. Gimana ya caranya mancing iman seorang manusia kulkas?
Dia seriusan gak tertarik sama tubuh sintal gue? Gue jadi penasaran dan pengen ngebuktiin kalo dia beneran cowok normal.
Dan ide gila muncul dalam otak gesrek gue.
☆☆☆☆☆
Habis mandi gue sengaja cuman pake handuk piyama sebatas lutut. Rambut gue biarin tergerai. Kata orang cewek lebih keliatan sexy pas rambutnya basah. Gue coba aja buat mancing iman suami kulkas gue.
Gue melangkah pelan keluar dari kamar mandi. Mata gue melirik ke arah tempat tidur dan gue mendapati Pak Alex masih sibuk dengan hpnya.
"ADUUUUH!!" teriak gue sambil menjatuhkan diri di lantai dekat kamar mandi.
Sesuai harapan gue, Pak Alex menoleh dengan cepat dan beranjak dari tempat tidur, berjalan cepat menghampiri gue.
"Kamu kenapa?" tanyanya sambil berdiri di depan gue.
Gue mendongak dan memasang wajah melas sambil meringis. Pura-pura sakit. "Tolongin saya, Pak. Kayaknya kaki saya terkilir," rintih gue.
"Bagaimana bisa?" tanyanya sambil duduk jongkok di depan gue.
"Gak tau, Pak. Lantainya licin saya kepleset!" jawab gue sekenanya.
"Kamu bisa jalan?" tanyanya lagi. Gue cuman menggeleng. Dan rencana kedua gue berhasil. Pak Alex mengangkat tubuh gue dan membawa ke tempat tidur. "Lain kali hati-hati!"
Gue terus-terusan merintih sambil megangi kaki kanan gue. "Sakit, Pak!"
"Coba saya lihat!"
Gue menahan senyum gue dengan cara menggigit rongga pipi gue bagian dalam.
"Tunggu. Saya ambilkan minyak gosok!"
Pak Alex keluar dari kamar dengan setengah berlari. Ternyata kuatir juga sama gue dan kali ini senyum gue mengembang. Tinggal jalanin rencana selanjutnya nih.
Langkah kaki Pak Alex yang terdengar mendekat membuat gue menghilangkan senyum cerah di wajah gue. Pak Alex dateng sambil bawa minyak gosok. "Mana yang sakit?"
Gue menunjuk pergelangan kaki kanan gue. Pak Alex membuka tutup botol itu dan langsung mengoles minyak itu ke kaki gue, memijitnya dengan gerakan pelan.
"Awsh. Pelan-pelan, Pak!" seru gue. Pak Alex menatap gue sebentar dan kembali sibuk memijit lembut kaki gue. "Yang ini juga sakit, Pak!" Gue menunjuk lutut gue.
Pak Alex menurut dan tangannya pindah posisi memijit lutut gue. Salah satu sudut bibir gue terangkat sebelah. Gak susah juga mancing Pak Alex.
Ini rencana terakhir. Kalo Pak Alex gak tertarik berarti beneran dia homo. Tangan gue perlahan menarik ke atas handuk piyama yang gue pakai. Perlahan paha mulus gue mulai terekspos. Pak Alex belum sadar dan masih sibuk memijit kaki gue. Gue semakin penasaran dan terus menarik handuk piyama gue.
Pergerakan tangan Pak Alex tiba-tiba terhenti. Matanya langsung menatap ke arah gue. Untuk beberapa detik pandangan kami terkunci. Gue yakin 100% habis ini Pak Alex pasti langsung nyerang gue.
Pak Alex menyudahi aktifitasnya dan wajahnya semakin mendekat. Gue semakin yakin kalo malam ini pertahanan gue bakalan jebol. Gue ikhlas, gue ridho kalo Pak Alex yang pertama.
"Mau bermain dengan saya?" ucapnya dingin.
Saliva gue langsung meluncur tanpa permisi. Tatapan mata Pak Alex begitu tajam dan dingin. Gerakan tubuh Pak Alex yang semakin maju membuat tubuh gue terdorong ke belakang dan posisi tubuh gue sudah ada di bawah kungkungan tubuh Pak Alex yang besar.
"Mm, itu Pak---anu, tadi saya---"
"Apa?" potongnya cepat.
Mendadak nyali gue menciut padahal tadi gue yang ngundang Pak Alex dan sekarang gue yang keder.
"Cepat pakai bajumu atau saya yang akan membuatmu telanjang sepanjang malam?"
Fix. Gue nyerah daripada gue masuk angin. Lagian kayaknya gue juga belum siap buat ngelakuin hal itu. Intinya gue udah tau jawabannya kalo Pak Alex cowok normal. Cuman gue bingung aja kenapa sampe seminggu dia belum jebolin gawang juga. Dan ini yang harus gue cari tau.
☆☆☆☆☆
Sbya 18 Maret 2018