☆☆☆☆☆
Sampai juga gue di bioskop. Gue masuk dan celingak celinguk nyariin Arsen. Sebelumnya gak bilang sama gue nungguin di sebelah mana. Filmnya di mulai 10 menit lagi buat gue berlarian kesana kemari, cari posisi Arsen.
"Iih, tuh anak kemana sih?" gerutu gue.
"Kita pulang saja!" putus Pak Alex tiba-tiba.
"Tunggu, Pak. Masa udah sampe di sini maen pulang aja?" protes gue. Pak Alex mencari dan mencari kembali.
Gue mendengus kasar saat mata gue mengundang seorang cowok sedang mengandar di tembok dengan posisi melipat kedua berhasil. Kayaknya Arsen sengaja ngebiarin gue kelimpungan nyariin dia.
"Anjir. Gue nyariin lo dari tadi gak taunya lo ngejogrok di sini," omel gue.
Arsen malah tersenyum mengejek ke arah gue. "Gue seneng aja liat muka bingung lo!"
"Napa lo senyum-senyum gitu?"
"Jadi dia suami lo?"
Langsung ke arah Pak Alex yang berdiri di sebelah gue. "Iya, dia suami gue. Pak Alex, kenalin ini sepupu saya. Namanya Arsen!"
Arsen ngulurin menggantikan ke Arah Pak Alex. "Arsen. Cowok yang selama ini dekat sama Beril dan satu-satunya cowok yang akan selalu ada saat Beril tersakiti!"
Mata gue melotot ke Arah Arsen. Nih anak lebaynya kumat. Lalu, lihatlah, lihatlah, arah Pak Alex yang tampak acuh. Arsen lebih cepat dari kata sambutan dari Pak Alex.
"Mm, mana tiketnya?" tanya gue mencoba mencairkan percakapan antara Arsen dan Pak Alex. Arsen lalu ngeluarin dua buah tiket dan memberikannya ke gue. "Kok cuman dua?"
"Maksudnya gue mesti bayarin tiket dia juga? Ngakak dulu gue!" Arsen langsung ketawa terbahak sambil gelengin kepalanya.
Gue ngerti maksud Arsen. "Mm, Pak Alex. Tiketnya cuman dua---"
"Tunggu sini. Saya mau beli tiket sebentar!" pamitnya dan langsung ngeloyor pergi.
"Rese lo ah!"
"Bukan salah saya," timpal Arsen. "Gue ngajakin lo nonton, bukannya ngajakin suami lo. Lagian lo yakin bakalan bawa manusia kulkas lo nonton romance?"
"Kenapa emangnya?" tanya gue dengan mata mendelik.
"Ya gak apa-apa bagus aja. Siapa tau habis nonton Eiffel dia berubah jadi romantis kayak gue?"
"Suka-suka lo aja deh, pokoknya jangan sampe ketularan somplak lo!" cibir gue membuat Arsen terkekeh pelan.
"Tungguin di sana yuk!" ajak Arsen sambil membawa gue ke dekat pintu theater. Arsen langsung merangkul pundak gue.
"Bisa lepaskan tanganmu dari bahunya?"
Langkah gue dan Arsen seketika terhenti. Gue menoleh ke belakang begitu juga dengan Arsen. Pak Alex sudah berdiri di belakang dengan wajah datar.
Arsen langsung menarik tangannya dari pundak gue. "Cuman gini doang, Om. Masa gak boleh?" protes Arsen.
Apa Arsen bilang tadi? Dia manggil Pak Alex Om?
Gue langsung menyikut perut Arsen membuat dia mengerang pelan.
"Yuk masuk!" ajak gue dan melangkah lebih dulu. Pak Alex di belakang gue dan Arsen berada di barisan paling belakang.
Gue ngeliat tiket gue dan mencari nomer kursi gue. Letaknya ada di barisan tengah. Gue langsung menuju tempat duduk gue dan Arsen mengikuti gue dan duduk di sbelah gue sementara Pak Alex tampak memasang wajah masam dan menuju tempat duduknya yang terpisah gak sedikit jauh dari tempat gue.
Gue menoleh ke arah Pak Alex yang ternyata sedang menatap ke arah gue. Sebenarnya gue berharap banget Pak Alex bakalan tukeran tempat duduk sama Arsen. Tapi Pak Alex memilih diam dan pandangan matanya beralih menatap layar lebar di depan kami.
Mau minta tolong sama Arsen buat pindah juga gak enak. Arsen kan yang bayarin gue malem ini?
Film mulai di putar dan lampu dimatikan. Arsen keliatan serius melototin layar lebar itu sementara gue malah gak bisa fokus sama film di depan gue. Fokus gue terbagi sama Pak Alex.
Gue menoleh sedikit menatap Pak Alex yang tampak santai menikmati film. Gue menghela nafas panjang lalu menatap sebuah kursi kosong di sebelah gue.
Sebenarnya kalo mau Pak Alex bisa aja pindah duduk di sebelah gue, tapi kenapa Pak Alex milih duduk di sana?
"Ril, asem banget muka lo? Kenapa?" tanya Arsen tiba-tiba.
Gue menggeleng sambil mencoba tersenyum. "Ah, gak apa-apa. Cuman kepikiran sama kerjaan di kantor aja!"
"Woles, Ril. Malem ini pokoknya gue yang bayarin. Habis ini lo minta kemana? Makan atau shopping?"
"Mm, pulang aja deh, Sen," sahut gue lemes.
"Lo yakin? Jarang-jarang loh gue mau traktir lo---" Arsen menghentikan kalimatnya lalu matanya beralih melirik ke arah belakang, sepetinya ngeliat ke arah Pak Alex. "Oh iya gue lupa, suami lo kan kaya!"
"Bukan soal itu!" ralat gue sebelum Arsen mikir lebih jauh lagi.
"Trus kenapa? Apa karena ada suami lo?" tebak Arsen dan kali ini gue cuman bisa mengangguk. "Ck. Lagian lo juga sih. Ngedate sama gue pake acara bawa suami segala!"
"Ya gue kan gak tau kalo dia bakalan ikut. Lagian tadi sore gue habis jalan sama suami gue,"
"Jadi habis gini lo langsung pulang?" tanya Arsen memastikan.
Gue mengangguk. "Sorry ya, Sen. Next time deh kita nonton lagi!"
"Bener? Awas kalo bo'ong dan next gue gak mau lo bawa kulkas lagi!"
"Oke deh!"
Gue dan Arsen kembali fokus dengan film yang saat ini di putar. Sesekali Arsen tertawa terbahak saat ada adegan lucu. Gue jadi terpengaruh dan ikutan tertawa. Dalam beberapa saat gue melupakan keberadaan Pak Alex yang duduk di belakang gue.
☆☆☆☆☆
Keluar dari bioskop gue masih ngobrol seru sama Arsen sementara Pak Alex diem aja dari tadi. Kadang dia sibuk sama hp di tangannya, mukanya keliatan serius banget.
"Gila. Nih film bener-bener bikin gue baper. Next nonton LLS 3 ya. Gue traktir lagi!"
"Seriusan nih lo traktir gue?" cibir gue.
"Apa sih yang gak buat lo," tangan Arsen refleks merangkul pundak gue. Ia memainkan kedua alisnya naik turun.
"Kenapa gak ngajakin cewek lo?"
Pertanyaan gue membuat Arsen menghela nafas panjang lalu melepaskan tangannya dari pundak gue. Wajahnya langsung berubah masam.
"Cewek ya? Asal lo tau, saat ini gue lagi patah hati---"
"Seriusan lo? Manusia nyebelin kayak lo bisa patah hati juga?" potong gue cepat.
"Serius nih gue!" sahut Arsen. Gue cuman nyengir dan menunggu kalimat Arsen selanjutnya. "Gue udah sayaaang banget sama tuh cewek. Gue care sama dia. Gue mencoba selalu ada buat dia. Tapi ya gitu, dia lebih milih cowok lain ketimbang gue!"
Kening gue mengernyit. Mencoba mengingat kira-kira siapa yang akhir-akhir ini deket sama Arsen. "Dia itu siapa?" tanya gue pada akhirnya.
"Mm, lo mau tau?" tanya Arsen balik.
"Iyalah. Gue penasaran kali, siapa sih cewek sial yang lo cintai itu!"
Arsen melambatkan langkahnya dan mencondongkan badannya ke arah gue sedikit. Lalu berbisik di telinga gue. "Namanya Beril Alexia!"
Seketika mulut gue terbuka lebar. Bocah gila. Hampir aja kalimat makian gue keluar tapi suara deheman Pak Alex menghentikan aksi gue.
"Udah malam. Besok kerja. Apa sudah selesai kencannya?"
Sindiran halus Pak Alex membuat gue menelan saliva gue dengan pelan. Arsen menoleh dan tersenyum sinis menatap wajah Pak Alex.
"Ya udah lo pulang aja, Ril. Nurut sama suami, bisa gak dapet jatah lo kalo gak nurut---addaw!!" teriak Arsen saat kepalanya gue toyor.
"Malem ini lo selamat. Besok kalo lo gak bisa ngerem tuh mulut--nih!" ancam gue sambil mengepalkan tangan kanan gue. Arsen cuman nyengir sambil menggaruk tengkuknya.
Gue akhirnya pulang sama Pak Alex. Langkah lebar Pak Alex membuat gue sedikit kerepotan. Kadang gue berlari cuman buat ngejar langkahnya.
"Pak, tungguin donk. Maen tinggal aja. Kalo saya di samber orang gimana?" protes gue saat langkah kami udah sampe di parkiran Mall.
Pak Alex gak menjawab dan langsung masuk ke dalam mobil. Gue pun ikut masuk juga.
"Ih, kebiasan kalo di ajak ngomong gak pernah nyaut!" gerutu gue sambil memasang seatbelt.
Tanpa gue duga, Pak Alex langsung melajukan mobilnya ninggalin parkiran Mall. Dan jantung gue rasanya mau copot saat Pak Alex dengan seenak jidatnya mempercepat laju mobilnya. Gue panik saat Pak Alex nyelip semua mobil di depannya.
"Pak. Pelan-pelan, Pak. Kalo nabrak yang rugi Bapak loh!" pesan gue.
Pak Alex cuman ngelirik ke arah gue sebentar dan tingkahnya malah semakin menjadi. Kali ini laju mobil dibuat zig zag, jantung gue bekerja semakin cepat.
"PAK. KENAPA MOBILNYA OLENG GINI?" teriak gue.
Tiba-tiba Pak Alex menginjak rem saat trafficlight berubah warna merah. Kecepatan di atas rata-rata dan tiba-tiba berhenti mendadak membuat tubuh gue terdorong ke depan dan kepala gue hampir aja kejedot dashboard.
"BAPAK INI KENAPA SIH?" pekik gue dengan nafas memburu.
Pak Alex menoleh dengan pandangan tajam menusuk. "Berhenti menemui dia lagi atau saya yang akan membuatnya berhenti menemuimu!"
"Bapak cemburu?" tebak gue. Pak Alex mendengus lalu mengalihkan pandangannya. "Seriusan Bapak cemburu?" tanya gue lagi.
Gue tersenyum senang ngeliat respon Pak Alex. Beneran nih suami kulkas gue cemburu?
"Tidak. Tak ada kata cemburu dalam kamus saya!" jawabnya dingin.
"Lah trus kenapa Bapak marah-marah? Pake nyuruh saya gak boleh nemuin Arsen segala?"
Pak Alex terlihat bingung. Kedua tangannya mencengkram setir kemudi mobil.
Kayaknya gue harus pinter-pinter nih mancing Pak Alex supaya ngakuin perasaannya.
"Bapak kalo cinta sama saya bilang aja. Gak usah di pendam. Nanti jadi penyakit loh, Pak!"
"Kamu bisa diam tidak?"
Sumpah. Gue pengen ketawa kenceng liat tingkah Pak Alex. Gue yakin dia cemburu liat kedekatan gue sama Arsen dan gue punya ide gila. Gue akan deketin Arsen, biar gue bisa tau Pak Alex cinta sama gue apa gak.
"Saya senang kalo Bapak cemburu---"
"Sudah saya bilang kalau saya tidak cemburu!" potongnya.
"Masa? Kalo saya jalan lagi sama Arsen, apa Bapak ngijinin?"
"Apa kamu bilang?" mata Pak Alex lurus menatap ke arah gue. Gue semakin gemas dibuatnya.
Gue panas-panasin aja terus siapa tau Pak Alex bakalan ngungkapin perasaannya. Selama ini gue gak pernah denger Pak Alex bilang suka sama gue. Dia nikah sama gue juga karena perjodohan.
"Mm, rencananya sih minggu depan saya mau nonton LLS 3 sama Arsen, Pak. Lumayan di bayarin. Bapak mau ikut lagi?"
Pak Alex diam tapi pandangannya masih mengunci kedua mata gue.
"Oh ya saya lupa. Bapak kan orangnya sibuk. Saya boleh kan nonton sama Arsen lagi? Dia itu sepupu saya yang paling baik loh, Pak. Karena saya gak punya sodara makanya say---mmmmpppfffft!"
Gak disangka, mulut Pak Alex langsung membungkam mulut gue. Cuman sebentar karena trafficlight udah berganti warna hijau.
Gue masih syok atas serangan tiba-tiba ini dan gue baru bisa sadar setelah mendengar ucapan Pak Alex yang membuat gue tersenyum lebar.
"Nanti saya akan membuatkanmu Bioskop di rumah. Kamu bisa melihat film sepuasnya!"
☆☆☆☆☆
Sbya 17 Maret 2018
☆ AyaStoria