PROLOG
Tujuh tahun bukanlah tahun yang singkat. Butuh perjuangan, butuh air mata. Pelarian Nara selama ini membuahkan hasil. Mengubur seluruh rasa dan kenangan yang ia lukis karena Aron. Mengorbankan masa mudanya dan memilih pergi ke negeri orang dalam jangka waktu yang lama.
Nara memilih meninggalkan Korea pada usia belasan, setelah tamat sekolah dia memutuskan untuk pergi ke Australia. Berdalih mengejar pendidikan yang lebih baik tapi dia tahu betul. Dia hanya ingin lari sejauh mungkin agar pria bermarga Choi itu tidak menemukannya.
Tidak banyak kenangan yang bisa ia bagikan, mungkin tidak ada?
Masa remajanya ia habiskan untuk belajar, belajar dan belajar. Dari pagi hingga pagi datang menjemput. Setiap detik bergumul dengan buku dan serupanya. Dia tidak pernah tahu apa itu romansa, tentang bagaimana hatinya berdebar untuk orang lain, tentang bagaimana rasa tidak sabar berangkat ke sekolah hanya untuk bertemu pujaan hati. Nara tidak mengalaminya. Setidaknya sampai seorang berandal bernama Choi Aron merobohkan hatinya.
Nara pikir dia sama seperti remaja kebanyakan. Tapi nyatanya tidak. Menyukai Aron adalah sebuah kesalahan. Seharusnya tidak pernah.
Dia lebih suka memperhatikan bagaimana peluh Choi Aron jatuh dari dahi menuju lehernya. Kulitnya yang sedikit kecoklatan akan mengkilap jika terkena sinar matahari atau bagaimana dia diam-diam menaruh sekotak coklat pada loker pria itu.
Nara tujuh belas tahun lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di tribun lapangan untuk melihat Aron bermain bola. Bagaimana ketika pria itu tertawa dan bersorak ketika berhasil mencetak angka atau bagaimana kala dia menggusak surainya frustasi. Nara diam-diam tersenyum. Meremat buku jarinya ketika debaran menggelikan itu datang.
Dia menjadi tersipu hanya karena Aron tak sengaja menabraknya di koridor. Ketika Aron tersenyum tidak enak dan mengucap maaf berulangkali. Semuanya. Nara suka semuanya.
Ah. Tapi kembali lagi ke realita. Modal suka dan cinta ternyata tidak cukup dan tidak akan pernah mampu membuat Aron menerimanya.
Terlalu sibuk memikirkan masa depan dan pendidikan, Nara lupa bagaimana cara merawat diri. Lupa tidak memperhatikan perkembangan yang semakin maju.
Nara tujuh belas tahun terlalu naif akan make up dan sejenisnya. Terlalu naif untuk pergi ke salon hanya untuk melakukan perawatan.
Maka disinilah dia, tujuh tahun yang lalu. Berdiri disudut g**g sempit dengan Aron dihadapannya. Tentu saja Aron selalu tampan, pria itu selalu menata rapi rambutnya. Menyemprotkan setiap tetes parfum hingga wanginya menyatu dengan keringat. Begitu candu.
Sementara Nara tanpa suara mengutuk bagaimana dia begitu jelek dan kampungan. Sebulir air mata jatuh disudut matanya, kotak bekal yang ia susun dengan penuh cinta dan rasa tulus telah terlempar dua meter didepannya.
“Gue nggak tahu harus ngomong apalagi ke lo.” Aron menyapu dahinya. Menendang sebuah tempat sampah hingga membuat Nara berjenggit.
Bukan ini yang dia harapkan.
“Lo tahu nggak? Gue paling benci sama orang yang gampang nangis, cengeng. Lo– kenapa dibentak dikit nangis?”
“Maaf Aron. Nara nggak pernah dibentak.” Nara menyahut lirih.
“Keliatan dari tampilannya. Lo anak manja yang nggak pernah ngerasain kerasnya dunia, nggak perlu minta karena semuanya udah terpenuhi. Anak sok polos karena lahir di keluarga kaya.”
Nara memandangnya sengit. “Lo nggak harus ngomong gitu. Kalau lo mau nolak gue, ya tolak aja. Jangan pernah bawa-bawa keluarga gue seolah lo bagian dari kami. Emangnya salah kalau gue lahir di keluarga kaya sementara lo miskin? Salah kalau gue nggak perlu minta ini itu sementara lo harus nabung sebulan bahkan lebih? Ada cara lain, ada yang lebih baik yang bisa lo lakuin buat nolak gue. Nggak juga dengan buang bekal buatan gue.”
Aron mengetatkan rahangnya. Harga dirinya tergores. “Lo itu jelek, jerawatan, gendut, lemak di sana-sini. Nggak tahu caranya narik perhatian orang lain, lo nggak menarik. Dan sekarang lo, anak culun berani nembak gue? Sadar. Gue Choi Aron, cowok paling populer.” Melihat air mata Nara yang semakin mengalir Aron meneruskan. “Itu yang lo mau ‘kan? Gue udah nolak. Dan sampai kapan pun, lo nggak akan pernah pantas dapetin Choi Aron.”
Satu tamparan Aron dapat sebelum Nara melangkah. Berlari meninggalkan rasa sakit yang menghujam dadanya ribuan kali.
Tidak sampai di sana. Keesokan paginya, seakan ingin menambah rasa perihnya Aron menabur garam di lukanya yang menganga.
Cowok itu dengan lantang mengumumkan bahwa mulai hari ini dia berkencan dengan Sera, teman baiknya. Nara mengepalkan genggamannya kala Aron tersenyum miring kearahnya. Dengan bangga dan sengaja seolah memamerkan bahwa Nara tidak akan pernah pantas bersanding dengan dirinya.
Mencium Sera didepan matanya. Disaat semua orang dikelas bersorak dan menyanjung kedua pasangan baru itu, Nara terbakar. Memilih pergi dengan hati yang kian rapuh.
“Nara!” Sera berteriak, hendak mengejar namun lengannya dicekal.
“Biarin aja. Lo punya gue dari sekarang.” Aron menatapnya lamat.
Nara tersenyum simpul. Mengingat masa itu ternyata masih memberikan nyeri di d**a. Tujuh tahun telah terlewati. Begitu pula rasa yang ia titipkan.
Sepuluh menit lagi waktu yang tertera pada tiket keberangkatannya.
Korea, aku pulang.
***
Ada banyak hal yang ia rindukan dari Gangnam. Setiap sudut rumahnya hingga jalanannya yang begitu indah ketika malam hari.
Nara ingin berkeliling kota. Mengunjungi setiap restoran yang dulu selalu menjadi tempat favoritnya. Maka kini dia duduk di bangku taman. Memandang langit malam yang hitam setelah menepuk perutnya yang terasa penuh.
Biasanya dia tidak makan sebanyak ini. Terlalu berminyak dan pedas. Jika Nara masih di Australia detik ini juga dia akan memaksa tubuhnya untuk berlari. Susah payah ia buat berotot di setiap bagian tubuhnya, dia tidak akan membuatnya berlemak lagi. Tapi dia ingin tidak ambil pusing untuk hari ini.
Ponselnya berdering. Ibunya terus memburunya agar pulang. Tujuh tahun tidak hidup bersama dan dia lebih memilih makan di restoran, tentu saja ibunya marah.
Nara terkikik kecil, ia rindu dimarahi. Ia rindu masa ketika dia tak hentinya merengek karena tidak suka brokoli. Dia rindu semuanya dan kini dia akan memulai semuanya lagi. Nara sudah di Gangnam.
Memasukkan ponselnya terburu, Nara menjatuhkan dompetnya di bangku taman. Dia menyadari sesaat sudah memasuki mobilnya, maka dengan mencaci betapa ceroboh tangannya dia berlari ke tempatnya semula.
“Kebiasaan.” Nara menggerutu sepanjang langkah.
Meski semuanya sudah sembuh, semua luka yang ia obati sudah memulih tetap saja meninggalkan bekas. Dan durinya ada di sana, penyebab lukanya berdiri dengan tidak sopan membuka dompetnya.
Nara terpaku sesaat. Berbanding terbalik dengannya, pria itu sangat menyedihkan. Tujuh tahun sudah mereka tidak bertemu tapi pria itu semakin kurus. Rambutnya yang sedikit ikal berwarna kecoklatan tampak kusut berantakan.
Memakai los lengan pendek meskipun malam ini lumayan dingin. Celana jeans memeluk rapat kakinya dan sepasang sepatu putih yang kini berwarna kuning kecoklatan. Benarkah dia Aron?
Nara melangkah pasti. Apa yang ia cemaskan? Dia bukan Nara tujuh belas tahun, jika Aron akan membentaknya cukup banting saja. Dia selama ini belajar cukup banyak seni bela diri. Mematahkan lengan Aron adalah hal yang sangat mudah.
“Balikin.” Nara merebut paksa benda itu. Memasukkan kembali ke saku celana dan bersiap pergi sebelum Aron berujar pelan.
“Nara? Ini lo beneran Nara?”
Aron meraih tangannya. Tatapannya sendu seakan tak percaya bahwa Nara telah pulang. Kembali ke rumah setelah tujuh tahun ini dia cari.
Nara menarik paksa tangannya. Matanya sengit. “Bukan.”
Nara melangkah lagi. “Nara? Ini gue Aron. Ini lo ‘kan? Nara?”
Gadis dengan rambut terikat itu memutar bola mata jengah. “Bukan.”
Pria yang mengaku sebagai Aron itu menggaruk tengkuknya. Dia yakin ini Nara. Dia yakin seratus bahkan seribu persen, tapi bisa saja dia salah lihat bukan? Lagipula, untuk apa Nara ada disini?
Maka sekali lagi dia terkekeh pelan, menunduk sebagai ucapan permintaan maaf. “Ah, maaf kalau gitu. Gue pikir lo Kwon Nara, teman gue dulu.”
Nara tidak menyangka bahwa diakhir kalimat, tersemat kata teman.
Dia tidak lupa, barang sedetik pun. Perlakuan Aron tidak pernah sebaik itu, memandangnya selalu penuh Kekehan remeh. Nara benci. Dia membencinya.
Bahkan setelah pengakuan dirinya kala itu, Aron selalu menghindarinya. Meminta bala bantuan untuk terus mengusiknya. Seperti, sengaja menaruh puluhan sampah pada lokernya.
Nara bahkan masih mengingat dengan jelas, bagaimana satu per satu, teman yang ia punya menjauhinya perlahan.
Dimulai dari Sera, entah racun apa yang ditanamkan Aron pada otak sahabatnya itu hingga selalu mencari ribut dengan Nara. Tidak pernah dia melawan, baginya Sera tetap temannya, apapun statusnya.