Sembari menggenggam pengait pada tas punggung warna putih favoritnya, sepanjang koridor kelas Soraya terbayang akan sosok Iky. Dia merasa jika sikapnya kemarin hanya akan memperkeruh keadaan, khususnya hubungan pertemanan mereka yang kemungkinan besar akan semakin renggang. Jika dipikir-pikir lagi, Soraya lupa kapan dia menjaga jarak dengan Iky. Namun yang pasti –jauh dalam lubuk hatinya– Soraya berniat untuk menemui laki-laki itu. Setidaknya dia harus meminta maaf atas sikapnya yang kurang berkenan akhir-akhir ini.
Cukup lama berkutat dalam dunianya sendiri, tak terasa dia telah sampai di depan pintu kelas terkutuk itu. Dengan penuh keraguan, Soraya menatap pintu berlapis pernis yang tertutup, mempertimbangkan kembali pilihannya untuk tetap masuk atau pergi ke roof top sampai lonceng jam masuk berdentang.
Namun sepertinya,
Dia terlalu lama berpikir.
CLAP
"Selamat pagi, Pecundang!" sapa ramah Aryn dari belakang sembari mencengkeram bahu perempuan itu cukup kencang. Seketika tubuhnya meremang merasakan hawa mematikan terpancar kuat dari sang Trouble Maker. Soraya yang terkejut pun hanya bisa diam membisu. Bahkan untuk menoleh saja dia enggan melakukannya.
"Kenapa? Kau tidak berusaha kabur dari kami ... bukankah begitu?" bisik Aryn lembut sembari menyeringai.
Yang perempuan itu mau hanya,
Sebuah kedamaian.
BUMP
Seluruh penghuni kelas itu terkejut melihat tubuh Soraya terpental cukup jauh dari balik pintu, jatuh tersungkur menghantam meja guru sampai tergeser dari posisi awal. Hal tersebut sukses memancing perhatian, terutama mereka yang tengah duduk santai mengelilingi bangku Grace. Dari balik pintu, Aryn tersenyum senang sembari melambaikan tangan ke arah teman-temannya. Grace yang menduga jika hal tersebut murni ulah Aryn pun berdecak kesal.
"Aku harap kau mengingat pesanku kemarin." Grace beranjak dari bangku, berjalan anggun menghampiri tubuh Soraya yang tengkurap, mengerang kesakitan. Dirasa gagal memberi kejutan kecil untuk sahabatnya, seketika eskpresi Aryn berubah murung.
"Ini semua hanya bercanda. Kau ... tahu itu, kan?" celetuk Aryn memelas layaknya anak kecil, berharap Grace mau memaklumi tingkahnya seperti biasa.
"Kau yang memulai. Belajarlah tanggungjawab." Sepertinya suasana hati Grace benar-benar buruk. Sembari sedekap, perempuan itu menatap Soraya yang berusaha berdiri –merasakan pusing luar biasa– dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Kemudian Grace berkata,
"Aku memberimu nama Trouble Maker semata untuk mengingatkanmu jika kau adalah orang yang sangat merepotkan."
Seakan tak memiliki cara lain untuk meminta maaf, dengan kesal Aryn menendang dan menginjak-injak Soraya menggunakan sepatunya yang berlapiskan besi di bagian mid-sole. Diiringi suara erangan dan rintihan Soraya yang memohon atas nyawanya, Aryn semakin gencar untuk meremukkan tubuh perempuan itu. Menyuguhkan pemandangan menyeramkan sekaligus bukti seberapa besar kekuatan Grace dalam mendominasi wilayah kekuasaannya.
"Aryn, cukup." Dengan deru napas yang masih tak beraturan, Grace menarik tubuh sahabatnya menjauh dari Soraya yang sudah mengenaskan.
"Perhatikan baik-baik! Jika kalian masih berusaha memberontak dari kami, kalian akan berakhir seperti pecundang ini!" seru Aryn kepada seluruh penghuni kelas. Suasana kelas menjadi sangat sunyi, masih terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan. Dan kini mereka sepakat untuk memilih diam, tidak ikut campur urusan Soraya dan Grace meskipun sikap kelompok itu sudah kelewatan.
Dalam kondisi rapuh, Soraya menyeka cairan bening nan pahit dari sudut bibirnya. Perlahan-lahan bangkit dan membersihkan bagian seragam yang kotor meski tubuhnya terasa nyeri. Dengan penuh amarah, Soraya menatap Grace yang lagi-lagi sukses mempermainkannya di depan teman-teman sekelas mereka. Tanpa pikir panjang perempuan itu pergi meninggalkan kelas, melangkah tertatih-tatih menuju ruang kesehatan untuk mengobati lukanya, mencoba menghiraukan semua tatapan aneh orang-orang yang berlalu-lalang melewatinya.
"Permisi," ujar Soraya sopan sembari membuka pintu ruangan tersebut. Entah sebuah kebetulan atau takdir, dia melihat Iky tengah membereskan kotak obat ke dalam lemari. Tak berani muncul dalam keadaan seperti itu, Soraya segera balik badan berharap seniornya tidak melihat kehadirannya.
"Raya!" Kalimat yang tidak ingin perempuan itu dengar malah terucap jelas dari mulut Iky. Dengan sekuat tenaga Soraya kabur, namun semuanya sudah terlambat karena Iky berhasil mengejar. Laki-laki itu mengerutkan dahi, baru sadar jika seragam Soraya pagi ini sangat lusuh. Ingin memastikan sebenarnya apa yang terjadi, Iky pun bertanya,
"Kamu terjatuh?" Namun Soraya hanya diam –seperti biasanya–. Saat hendak mengecek wajahnya yang sedari tadi menunduk, lagi-lagi perempuan itu menolak dengan menepis tangan Iky. Karena tak memiliki pilihan lain, laki-laki itu menggendong Soraya menuju ruang kesehatan, mendudukkan perempuan itu di salah satu bilik dengan ranjang berwarna baby blue.
"Tunggulah sebentar. Aku akan membersihkan lukamu," ujar Iky mengambil kotak yang sempat dia simpan tadi.
"Aku bisa sendiri," balas Soraya ketus sembari mengusap sisa darah yang menetes ke mulutnya. Mendengar jawaban tak mengenakkan itu lagi, Iky hanya tersenyum samar.
Duduk tepat di sampingnya, dengan lembut laki-laki itu membersihkan luka kotor di tangan dan kaki Soraya. Tak ada obrolan di antara mereka, begitu canggung sampai-sampai suara angin yang berhembus masuk melalui jendela terdengar begitu jelas.
"Sudah cukup. Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Soraya saat Iky hendak melihat wajahnya lagi. Karena tak ingin memaksa, laki-laki itu memberikan kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol ke tangan Soraya. Sembari menahan nyeri nan perih, perempuan itu membersihkan luka dengan sisa darah yang mulai mengering. Jika tidak menahannya dengan kedua lengan, mungkin Aryn sudah membuat wajahnya babak belur sekarang.
Merasa mendapat waktu yang pas, Iky meraih rahang perempuan itu dan akhirnya laki-laki itu bisa melihat jelas wajah cantik Soraya berhiaskan lebam di sudut bibir dan tulang pipi. Soraya yang terkejut akan hal tersebut segera mendorong bahu laki-laki itu. Namun percuma, dengan mudah Iky menahan kedua lengannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Iky yang tak bisa menutupi kekhawatirannya. Sembari mengalihkan pandangan, perempuan itu menjawab,
"Bukankah kamu sudah tahu kalau aku terjatuh?"
"Orang ceroboh mana yang terjatuh sampai separah–"
"Aku! Aku orang ceroboh itu!"
Dengan tatapan berkaca-kaca, Soraya memberontak meminta Iky melepaskan cengkeramannya. Karena tak ingin memperparah keadaan, dengan terpaksa laki-laki itu melepaskan genggamannya, membiarkan Soraya yang sesenggukan menjauh darinya.
SNIFF
"Aku minta maaf ... karena selalu merepotkanmu. Jadi kumohon, menjauhlah dariku." Iky yang tak mengerti maksud Soraya pun semakin bingung dibuatnya.
"Apa maksudmu?" ujar Iky sembari mendekati perempuan itu secara perlahan. Paham dengan trik yang laki-laki itu gunakan, Soraya mengambil tas punggungnya untuk dijadikan senjata jika Iky masih nekat untuk mendekatinya.
"Baik, aku mengerti," lanjut Iky pasrah, mempersilahkan Soraya pergi. Sembari mengusap air matanya kasar, perempuan itu keluar dari ruang kesehatan, meninggalkan Iky yang mulai kesulitan mengontrol emosinya.
BUMP
"Bαngsαt!" seru Iky sembari memukul dinding, meninggalkan bekas retakan di sana.