bc

10 Hari mengejar Cinta Pertama

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
kickass heroine
heir/heiress
drama
mystery
bold
loser
actor
like
intro-logo
Uraian

Mencintai seseorang selama 10 tahun? menakjubkan bukan? beginilah kisahnya. Raya gadis ibu kota yang terkenal akan paras cantiknya jatuh cinta dengan teman sewaktu ia SMP. Cinta yang tak tersampaikan itu berjalan selama 10 tahun lamanya namun beberapa waktu kemudian mereka kembali bertemu dan memutuskan untuk berlibur bersama dengan teman-teman lainnya selama 10 hari kedepan.

Perjalanan 10 hari itu membuat Raya memutuskan untuk menarik hati Reza pria idamannya. Lalu bagaimanakah kisah Raya? apakah ia sanggup menarik hati Reza? atau malah penolakan yang akan ia terima?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bandara
Bandara selalu punya dua cerita. Tentang seseorang yang datang membawa harapan, dan seseorang yang pergi meninggalkan kenangan.Hari itu, Raya berdiri di antara hiruk-pikuk keberangkatan dengan perasaan yang tidak pernah berhasil ia jinakkan selama hampir sepuluh tahun terakhir. Tangannya dingin, napasnya terasa berat, sementara matanya terus memandangi sosok laki-laki yang beberapa menit lagi akan menghilang dari hidupnya. Reza Anugrah Pradipta. Nama yang selama ini hanya berani ia sebut diam-diam dalam doa.Lucu sekali bagaimana seseorang bisa tinggal begitu lama di hati orang lain tanpa pernah tahu apa-apa.Raya sudah terlalu ahli berpura-pura biasa. Dan hari ini… Hari terakhir sebelum laki-laki itu pergi.Raya akhirnya memutuskan satu hal, ia tidak ingin menyesal lagi.Meski setelah pengakuan itu semuanya mungkin berubah, setidaknya Reza akan tahu bahwa pernah ada seseorang yang mencintainya sedalam itu. Seseorang bernama Raya. “Aku suka sama kamu, Za.” ucap Raya tepat saat mereka akan berpisah. Reza terdiam. Ia sama sekali tidak pernah menyangka perempuan yang kini berdiri di hadapannya itu menyimpan perasaan untuknya. Raya adalah tipe perempuan dengan pribadi kuat dan sulit ditebak. Tidak semua orang mampu membaca isi hatinya. Dan sekarang, perempuan itu justru mengungkapkan semuanya dengan begitu gamblang di depan wajahnya. “Ray… kamu bercanda, kan?” tanya Reza pelan sambil menatap manik mata Raya lekat. Raya menggeleng kecil. “Nggak usah dijawab, Za. Aku ngomong begini cuma karena nggak mau terus nyimpan perasaan ini sendirian.” Ia menarik napas pelan sebelum kembali melanjutkan, “Lagipula setelah ini kita juga nggak bakal ketemu lagi, kan?” Senyumnya terbit tipis di bibirnya. “Kamu bahagia ya di sana. Jaga diri baik-baik. Dan… aku harap setelah ini kita tetap bisa jadi teman.” Senyum itu terlihat manis.Terlalu manis sampai semua orang tahu kalau itu hanyalah senyum palsu. Sebelum datang ke bandara hari ini, Raya sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengungkapkan perasaan yang hampir sepuluh tahun ia simpan diam-diam. Tanpa ragu, ia menyatakannya tepat di depan pria yang selama ini berhasil menguasai hatinya. Pria yang membuat laki-laki lain selalu gagal menemukan tempat di sana. “Hahaha… jangan terlalu dipikirin, Za. Anggap aja angin lewat.” Bibirmya tertawa ringan, tetapi tak ada yang benar-benar tahu seperti apa hatinya saat itu.Reza baru saja hendak menjawab ketika suara lain tiba-tiba menyela. “Eh, belum berangkat, Za? Maaf ya, kami telat datang!” Aulia dan teman-teman lainnya baru saja tiba.Reza menggeleng pelan, tetapi sorot matanya masih tertahan pada Raya yang mulai menjauh beberapa langkah darinya. “Wih, akhirnya kalian baikan juga!” celetuk Gavin penuh semangat sambil merangkul Reza dan Raya sekaligus. “Jangan pegang-pegang gue! Bukan mahram, roti Gabin!” teriak Raya spontan sambil menepis tangan Gavin. “Anjir! Nama gue bagus-bagus dikasih orang tua, malah lo ganti jadi Gabin!” “Terserah princess dong,” jawab Raya santai sambil mengibaskan rambut ke belakang, meskipun yang bergerak sebenarnya hanya ujung hijabnya tertiup angin. “Princess dari mana, nona?” sahut Rio ikut nimbrung. “Dari hati anda, Tuan.” “Najis!” “Alah… bilang aja lo seneng digoda cewek cantik.” “Mimpi!” cibir Rio sambil menjulurkan lidahnya. Gelak tawa langsung pecah di antara mereka. Semua tertawa. Kecuali Reza. Pria itu masih diam, masih terpaku pada sosok perempuan yang kini sibuk beradu mulut dengan teman-temannya seolah beberapa menit lalu tidak terjadi apa-apa. “Jam berapa naik pesawatnya, Za?” tanya Vani. Gadis yang juga menyukai Reza.Bahkan mungkin lebih lama dari Raya. Jika setiap detik dihitung, mungkin sudah ada ratusan ribu waktu yang habis hanya untuk menyukai pria itu.Dan lucunya, Vani adalah sahabat dekat Raya. Sejak dulu Raya tahu betul bagaimana Vani menyukai Reza. Hampir setiap hari, Vani akan mengajak Raya membicarakan pria itu tentang senyumnya, sifatnya, caranya bicara, bahkan hal-hal kecil yang menurut Vani sempurna. Di depan Vani, Raya selalu mendukung sahabatnya itu.Mendorongnya agar lebih dekat dengan Reza.Tetapi di belakang semua itu, Raya diam-diam membawa nama pria yang sama dalam sujudnya. Diam-diam berharap Reza menjadi miliknya. Diam-diam membayangkan pria itu menjadi imam dalam hidupnya. Jahat? Tentu saja. Semua orang tahu Vani sangat mencintai Reza.Tetapi tak seorang pun tahu bahwa Raya pun merasakan hal yang sama. “Sebentar lagi, Van,” jawab Reza singkat sambil mengalihkan pandangannya. Vani mengangguk kecil dengan senyum yang seolah otomatis muncul setiap kali berhadapan dengan Reza. “Nanti pulang aku nebeng lo ya, Vin,” ucap Raya sambil berdiri di dekat Gavin. “Oke. Tapi kita makan dulu, gue lapar,” jawab Gavin cepat. “Jam segini lo belum makan?” “Nyokap nggak masak, Ray.” Raya mengernyit. “Kenapa nggak bilang dari tadi?” “Kalau gue bilang, emang lo mau masakin gue?” “Ih! Maksud gue, kalau bilang tadi kan gue bisa bawain bekal buat lo. Tadi gue masak banyak di rumah.” Sejak SMA, Raya memang sangat suka memasak. Hobinya itu bahkan sekarang sudah menghasilkan uang untuknya. Pelanggan-pelanggannya sangat hafal rasa masakan Raya yang selalu bikin nagih. Walaupun sekarang ia sudah jarang turun langsung ke dapur karena kesibukan kerja dan usaha yang mulai berkembang. “Ya gue nggak tahu. Besok-besok kalau kita kumpul gue chat lo buat masa—” Belum selesai Gavin bicara, Raya sudah menatap tajam. “Eh, maksudnya buatinin gue bekal, Ray. Mau ngamuk aja lo,” lanjut Gavin cepat yang sudah hafal betul sifat sahabatnya itu. Sementara Raya dan Gavin masih sibuk berdebat kecil, Vani kembali mencoba mendekati Reza. “Hati-hati di sana ya, Za. Kalau ada waktu, pulang lagi ke sini. Kami semua nungguin kamu.” Semua teman mereka sudah tahu bagaimana perasaan Vani pada Reza, jadi tak ada yang heran mendengar ucapan itu keluar dari bibir gadis tersebut.Akan berbeda ceritanya jika yang mengatakan itu adalah Raya. “Iya, Van,” jawab Reza sambil menatap Vani sebentar. Setelah itu, pria itu mengalihkan pandangannya ke semua teman-temannya. “Makasih ya kalian udah mau jauh-jauh nganter gue ke sini. Dan makasih juga buat sepuluh hari terakhir ini.” Ia tersenyum tipis. “Kenangan itu nggak bakal gue lupain. Thanks, guys.” Semua yang ada di sana langsung saling pandang.Langka sekali mendengar Reza bicara sepanjang itu tanpa jeda. Biasanya pria bernama lengkap Reza Anugrah Pradipta itu hanya mengucapkan dua atau tiga kata seperlunya saja. “Yaelah, santai aja kali, Za. Kalau nggak enak, nomor rekening gue masih yang lama kok,” celetuk Rio yang langsung mengundang tawa. “Itu mah modus kamu!” sela Aulia sambil terkekeh. “Ya kali aja rezeki.” “Udah, udah. Jangan banyak bacot,” potong Raya sambil memberanikan diri menatap Reza lagi. “Masuk gih, Za. Lo belum check-in, kan?” Reza tersenyum kecil. “Iya.” Raya langsung memalingkan wajah. ‘Kenapa sih harus senyum begitu? Nggak tahu apa hati gue lagi berantakan begini…’ Satu per satu Reza menghampiri teman-temannya.Ia memeluk Rio dan Gavin bergantian. Untuk Aulia dan Vani, pria itu hanya memberi tos persahabatan.Namun ketika sampai di hadapan Raya, Reza justru menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Tubuh Raya langsung menegang. “Tunggu aku,” bisik Reza pelan di telinganya. “Kisah kita belum dimulai.” Deg. Raya membeku. Seolah berubah menjadi patung tanpa suara.Tubuhnya kaku, napasnya tercekat, sementara jantungnya berdetak tak karuan karena satu kalimat dari pria yang tadi ia pikir akan menjadi akhir dari segalanya. To Be Continue...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.6K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.1K
bc

Video Pernikahan Papa

read
12.6K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.5K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
14.0K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook