bc

Jatuh Cinta Pada Single Mom

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
age gap
second chance
friends to lovers
goodgirl
single mother
sweet
bxg
campus
city
highschool
office/work place
civilian
like
intro-logo
Uraian

Bagi Hunter, mencintai Savana terasa begitu mudah. Yang sulit adalah membuat perempuan itu percaya bahwa cintanya bukan sekadar fase yang akan berlalu.

Savana sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan luka. Sebagai seorang ibu tunggal, seluruh dunianya hanya berpusat pada sang anak. Dia tak lagi percaya pada cinta, apalagi pada seorang mahasiswa yang usianya jauh lebih muda darinya.

Namun saat usia, status, dan pandangan orang-orang menjadi tembok di antara mereka, Hunter memutuskan untuk tidak lagi mempertanyakan apakah mereka pantas bersama. Dia hanya ingin membuktikan bahwa cinta yang tulus tak mengenal waktu, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.

chap-preview
Pratinjau gratis
Wanita di Meja Sudut
Ada dua hal yang kupelajari selama tiga bulan pertama merantau di kota ini. Pertama, harga kontrakan hampir selalu lebih mahal daripada yang tertulis di papan pengumuman. Kedua, suara derak pintu Kafe Sunrise tepat pukul delapan pagi adalah pertanda bahaya. "Hunter! Nampan nomor empat, cepat sedikit!" Suara melengking itu nyaris membuatku menjatuhkan dua cangkir minuman yang baru selesai dibuat barista. Aku buru-buru membetulkan letaknya, lalu melempar tatapan panik ke arah Rose yang sedang menyapu sudut ruangan. Rose memutar mata pelan. Senyum penuh rasa kasihan tersungging di bibirnya saat dia membentuk dua kata tanpa suara. "Nyonya Besar." Aku langsung tahu siapa yang baru datang. Istri pemilik kafe—wanita paruh baya dengan sanggul yang entah bagaimana selalu tampak terlalu tinggi dan tatapan setajam elang yang seolah curiga semua orang ingin mencuri isi kafe—baru saja melangkah masuk. Seketika suasana yang semula hangat dengan aroma kopi sangrai berubah tegang. Di belakangnya, Tuan Gerald menyusul sambil menenteng tas belanja. Wajahnya yang biasanya ramah kini hanya menyisakan senyum tipis penuh kepasrahan. Begitu melewati pintu, beliau langsung menghilang ke ruang belakang. "Hunter," tegur Nyonya Margaret saat aku melintas membawa nampan. "Kenapa susunan piring pajangan di etalase depan miring satu sentimeter? Kau ini melayani pelanggan atau sekadar berjalan-jalan di sini?” Aku yakin susunan piring itu tidak benar-benar miring satu sentimeter. Kalau iya, berarti mata Nyonya Margaret lebih akurat daripada penggaris. "Maaf, Nyonya. Tadi pagi saya merapikannya terburu-buru sebelum kafe buka." "Pantas saja. Anak muda zaman sekarang diberi pekerjaan paruh waktu bukannya bersyukur, malah bekerja asal-asalan. Kalau memang tidak berniat bekerja, katakan saja! Masih banyak mahasiswa lain yang membutuhkan pekerjaan.” "Saya rapikan setelah mengantar pesanan ini, Nyonya." Kalimat itu keluar setenang mungkin. Padahal dalam hati aku cuma berharap bisa kabur dari ceramah pagi ini. Saat Nyonya Margaret berkacak pinggang, jelas bersiap menambah daftar kesalahanku, Rose tiba-tiba menghampiri sambil membawa buku catatan pesanan. "Nyonya, maaf mengganggu. Tuan Gerald meminta Anda mengecek stok s**u di ruang belakang. Katanya ada yang kurang.” Nyonya Margaret berdecak. "Astaga. Hal sekecil itu saja harus aku yang urus.” Tatapannya bergantian menyapu aku dan Rose sebelum akhirnya berbalik menuju ruang belakang, masih mengomel tentang betapa lambannya suaminya bekerja. "Rose," kataku begitu sosok Nyonya Margaret menghilang, "kau benar-benar menyelamatkanku. Tanpamu, mungkin aku sudah dipecat sejak minggu pertama.” Rose terkekeh sambil mengibaskan tangan. "Tentu saja. Utang budimu kepadaku terus bertambah. Mulai dari mencarikan tempat tinggal, merekomendasikanmu bekerja di sini, sampai menyelamatkanmu dari Nyonya Besar.” Aku ikut tertawa. "Baiklah. Malam ini biar aku yang mengerjakan bagianmu mencuci piring.” "Deal." Rose mendorong bahuku pelan. "Sekarang cepat antar pesanan itu. Kasihan para pelanggan sudah menunggu.” Aku mengangguk, lalu membawa nampan menuju meja di sudut paling ujung kafe, dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang sibuk. Tempat itu hampir selalu ditempati satu orang—seseorang yang, tanpa kusadari, belakangan ini terus menyita perhatianku. Savana. Dia sudah duduk di sana. Laptopnya menyala, menampilkan deretan draf artikel yang tengah dikerjakannya. Jemarinya yang ramping bergerak lincah di atas kibor, seolah telah menghafal setiap kata sebelum sempat dipikirkannya. Rambut yang dikucir kuda tampak sedikit berantakan, tetapi justru membingkai wajahnya yang tegas dengan cara yang sulit kujelaskan. Sebagai mahasiswa seni yang terbiasa memandang dunia melalui garis, cahaya, dan komposisi, aku sering merasa Savana menyerupai sebuah lukisan yang hidup. Ada ketenangan dalam setiap geraknya, sesuatu yang tetap tenang di tengah hiruk-pikuk jalanan di balik jendela. "Satu Americano dan croissant mentega," kataku pelan seraya meletakkan pesanannya di atas meja. Savana menghentikan ketikannya. Dia mendongak, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh ke dahinya, lalu menghadiahiku senyum tipis. Entah mengapa, senyum sederhana itu selalu berhasil menghapus sisa-sisa kekesalanku terhadap Nyonya Margaret. "Terima kasih, Hunter," ujarnya. Suaranya lembut, tetapi menyimpan ketegasan yang khas. "Kau tampak lebih tegang daripada biasanya. Istri pemilik kafe datang lagi, ya?" Aku terkekeh pelan sambil merapikan letak cangkir dan piring kecil di hadapannya. "Jangan kau masukkan ke hati," ujar Savana ramah seraya kembali mengetik. "Orang yang mudah marah biasanya hanya belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan keinginannya." Aku terdiam beberapa saat. Entah bagaimana, Savana selalu mampu mengucapkan sesuatu yang sederhana dengan cara yang membuatku ingin memercayainya. Mungkin karena pembawaannya yang tenang. Mungkin karena sorot matanya yang teduh. Atau mungkin karena, sebagai mahasiswa seni, aku memang terlalu mudah terpikat pada hal-hal yang terasa indah. Bagiku, Savana bukan sekadar pelanggan tetap. Ada sesuatu pada dirinya yang membuatku selalu menoleh setiap kali dia datang, seolah kehadirannya sanggup meredam hiruk-pikuk kafe hanya dengan duduk diam di sudut ruangan. "Terima kasih atas nasihatnya," kataku, tersenyum kecil. "Aku akan mengingatnya." Savana membalas dengan anggukan ringan sebelum kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Aku membawa nampan kosong itu kembali ke arah kasir. Saat melintas, kulihat Rose menatapku dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Apa?" tanyaku heran. Rose hanya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa.” *** Pukul lima sore. Shift kerjaku akhirnya usai. Aku melepaskan apron hitam, menggantungkannya di loker karyawan, lalu meregangkan leher yang terasa kaku. Perkuliahan teknik sipil kemarin, ditambah shift yang padat hari ini dan ceramah mendadak dari Nyonya Margaret, sudah lebih dari cukup untuk menguras tenagaku. "Mau langsung pulang?" Aku menoleh. Rose bersandar di ambang pintu. Jaket denim sudah dikenakannya, sementara tas ranselnya tersampir di satu bahu. "Kau pulanglah lebih dulu," jawabku. "Aku ingin membereskan beberapa cangkir di area luar. Sekalian menghirup udara segar." Rose menyipitkan mata. Senyum jahil perlahan menghiasi wajahnya. "Membereskan cangkir, atau mencari alasan supaya bisa berdiri lebih lama di dekat meja sudut?" Aku terkekeh kecil. Tangan refleks mengusap tengkuk sendiri. "Mungkin keduanya." "Sudah kuduga." Rose menggeleng pelan, senyumnya tak memudar. "Jangan pulang terlalu malam. Tugas analisis struktur yang harus dikumpulkan besok belum kau selesaikan, bukan?" "Baik, Bu Dosen." Rose tertawa pelan. "Rose ..." Dia menoleh sebelum sempat melangkah pergi. "Terima kasih. Karena sudah menyelamatkanku dari Nyonya Besar tadi." Senyumnya melebar. "Kalau begitu, kau berutang satu gelas kopi padaku,” ucapnya, melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan. Aku hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Setelah menyambar kain lap bersih, aku kembali melangkah ke area utama kafe. Suasana sore itu jauh lebih tenang. Lampu-lampu pendant berpendar hangat, memantulkan cahaya lembut pada dinding dan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke jalan utama Astraea City. Di meja sudut favoritnya, Savana masih ada. Sinar matahari sore yang menembus dinding kaca menyelimutinya dengan cahaya keemasan. Jemarinya yang semula menari di atas kibor perlahan terhenti. Dia menyandarkan tubuh ke kursi, lalu memijat pelipis dengan mata terpejam. Kelelahan tergambar jelas di wajahnya. Namun, entah bagaimana, justru dalam momen-momen seperti itulah dia tampak paling nyata di mataku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.0K
bc

TERNODA

read
204.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
25.8K
bc

Kali kedua

read
223.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook