Hari pun berlalu dengan kesibukanku yang semakin menggila. Aku harus mengerjar target rancangan pakaian yang akan di bawakan model model di pagelaran busana yang di rencanakan Sinta dan suamiku. Aku tidak mau banyak tanya, aku pikir dengan kesempatan yang suamiku beri, sudah cukup untukku. Aku hanya harus konsen pada tugasku merancang baju baju yang jadi bagianku. Aku percaya suamiku dan Sinta pasti sudah mengurus bagiannya. Aku bukan Sinta yang punya asisten untuk design pakaiannya. Maksudnya begini, tetap Sinta yang menggambar master rancangannya. Tapi dia bisa menyuruh, asisten asistennya untuk mencarikan bahan atau kain yang di butuhkan, pernak pernik untuk pelengkap rancangannya, bisa berupa batu batu permata, mute, kancing, dan sebagainya. Jadi Sinta bisa beralih merancang pakaian

