Bab 39. Morning Shanghai

1653 Kata

Penerbangan dari Jakarta menuju Shanghai kali ini terasa berbeda. Tak ada lagi kecanggungan yang mencekik seperti setahun lalu. Di kursi pesawat yang berdampingan, Milea menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Julian, sementara pria itu tetap terjaga, jemarinya sesekali mengusap punggung tangan Milea dengan gerakan protektif yang kini terasa alami. Mama Widuri dan Papa Baskara benar-benar melepas mereka dengan senyum bangga di bandara tadi. Bagi kedua orang tua itu, Shanghai bukan lagi tempat pelarian bagi Milea untuk menyembuhkan luka setelah kehilangan orang tuanya, melainkan kawah candradimuka di mana Milea akan ditempa menjadi seorang dokter, dan Julian akan menuntaskan tugas negaranya. Begitu kaki mereka menginjak apartemen di distrik Yangpu, udara hangat Shanghai langsung menyambut. N

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN