BAB 14

1143 Kata

Anggana membuka matanya perlahan, sedikit kesulitan. Badannya sakit, memar di sekujur tubuhnya. Anggana mengingat adegan terakhir yang membuatnya pingsan. Laki-laki yang di lawannya tiba-tiba berdiri lalu menghajar Anggana habis-habisan. Tidak ada yang melerai, seperti Anggana adalah umpan yang di siapkan untuk menguji ketangkasan calon prajurit itu. Padahal seharusnya laki-laki itu di hadapkan dengan orang yang sepandan, bukan dengan Anggana yang tidak memiliki skill berkelahi yang mumpuni seperti mereka. Setelah lama menetralkan tubuhnya, Anggana mulai membuka mata. Sedikit demi sedikit, akhirnya mata itu benar-benar menemukan tempat dimana keberadaanya malam ini. Ruangan berukuran sempit dengan satu dipan tanpa alas. Matanya menatap ke atap yang terbuat dari kayu. Aroma yang menguar di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN