Anggana hanya berjalan memutari rumah Kara, otaknya sibuk mencari cara untuk menunjukkan bukti kepada Paduka Raja tentang keberadaannya. Anggana sudah membuka tas yang dulu dia bawa, tetapi tak satupun yang bisa dia bawa ke Paduka Raja. Sempat terbesit untuk membawa kitab Jiva ke hadapan Paduka Raja tetapi di dalamnya terdapat beberapa bahasa dan penulisan yang tidak dapat di pahami masa sekarang. Anggana hanya mondar mandir tanpa ada satu ide tercipta. Anggana terlalu fokus dengan pemikirannya hingga tidak menyadari suara kaki kuda yang mendekat ke rumah Kara. “Tebakanku benar, kamu akan datang ke sini.” Kara muncul dari balik pintu rumah bersama dengan Bala dan Saraswati. Mereka bertiga ikut duduk di dipan sambil memperhatikan Anggana yang terlihat frustasi. “Sudah ada ide?” Anggan

