Dua kuda dengan tubuh yang besar dan kuat saling berdampingan, Kara Anggana dan Bala adalah tiga laki-laki beruntung yang dapat duduk di atas pelana kuda pilihan Maharaja sendiri. Bala sudah mahir dalam berkuda, laki-laki itu sering berlatih sewaktu Kara berada di dalam penjara bawah tanah. Karena kekuatan cinta dan kasih sayang keluarga, Bala sekuat tenaga berlatih untuk menjadi kuat dan dapat menyelamtkan kangmasnya dari balik dinding penjara. Kara lebih hebat, bahkan setelah Anggana melukai egonya, laki-laki itu tetap berdiri tegar di sampingnya sebagai sahabat yang mendukung dan membantu Anggana. Laki-laki itu bahkan menyiapkan beberapa prajurit kerajaan terbaik untuk ikut menyerang Kalingga Danuwara. “Kalian sudah siap?” tanya Anggana. Mereka serentak mengangguk. Lalu, rombongan An

