Malam dingin, ditemani udara yang menyusup melalui pori-pori kulit. Anggana sedang terlelap dalam tidurnya, beberapa waktu belakangan ini begitu menyita waktu dan tenaga. Anggana lelah, hingga tidak merasakan kedatangan seseorang masuk ke dalam bilik kamar. Suasana bilik gelap gulita, hanya menyisakan pandangan terbatas akibat bantuan sinar bulan yang menyusup dari balik jendela. “Gan.” “Gan.” Berulang kali, suara lembut itu memanggil tetapi Anggana sama sekali tidak terbangun dari mimpinya. Hingga sebuah desakan pada tubuhnya bertubi-tubi, memaksa Anggana untuk membuka matanya. “Siapa kamu?” tanya Anggana berjengkit kaget. Laki-laki itu menjauhkan tubuhnya dari siluet seseorang yang sedang duduk di hadapannya. “Ini aku, Saraswati.” “Mau apa kamu malam-malam begini?” “Aku ... aku,”

