“Arrgh!” Anggana tersadar, matanya terbuka lebar. Apa yang ada di hadapannya saat ini adalah dirinya yang sedang tertidur di perpustakaan kampus tempatnya belajar. Tidak ada rasa sakit, lemas seperti yang sebelumnya dia rasakan. Dia merasa sehat dan segar seperti biasanya. Bahkan pedang yang dan kitab yang sebelumnya ada di dalam genggamannya kini tidak berada di sampingnya. Anggana mengedarkan pandangannya, menyusuri setiap sisi perpustakaan yang sepi. Laki-laki itu mencoba berdiri, sedikit merasa pusing lalu memilih untuk kembali mendudukkan tubuhnya. Beruntungnya dia membawa air putih di dalam tasnya, akhirnya Anggana mengambil air itu lalu menegaknya sekali tandas. Setelah merasa cukup membaik, laki-laki itu mencoba kembali berdiri. “Kamu sudah bangun?” Pak Waluyo, yang dikenal Anga

