Anggana baru saja menyelesaikan sarapannya, hari ini adalah jadwal dia ke kampus. Dia ingin sekali bertemu dengan Bima dan mencoba mencari tahu dari laki-laki itu apakah dia mengingat perjuangan mereka, atau hanya Anggana saja yang kini hidup dengan kenangan itu. Anggana meletakkan sendok di piringnya saat mendengar bunyi langkah seseorang memasuki ruang makan. Dari aroma tubuh, Anggan yakin seseorang yang datang menemuinya pagi ini adalah ibundanya. “Mas Gana.” “Iya, Ibu,” jawab Anggana dengan tersenyum. “Aku baru saja menyelesaikan sarapan, apakah ibu sudah sarapan?” “Ibu sedang puasa.” “Oh, maaf Anggana tidak tahu.” “Tidak apa-apa,” jawab Denayu singkat. “Ibu boleh bertanya sesuatu?” “Tentu saja, silahkan.” “Apakah keinginan Mas Gana untuk menikah dengan Pramesti sudah di pikir

