BAB 45 - Penolakan Pramesti

1090 Kata

Pagi hari yang cerah, serasa indah di pandang mata. Anggana berdiri dari balik jendela kamarnya. Dihadapannya terhampar taman luas hijau yang asri dengan aliran sungai di tengahnya. Bagi Anggana, tidak ada yang lebih indah dari bisa menikmati hidup di posisinya berdiri saat ini. Di balik kehidupannya yang indah, ada perjuangan yang menjadikan nyawa taruhannya. Semenjak pertemuannya dengan Pramesti dua hari yang lalu, Anggana tidak mau kembali memikirkan berbagai penolakan Pramesti, walaupun jelas ada keterkejutan dan penolakan dari wajah calon istrinya, tetapi tentu itu bukanlah sebuah masalah bagi Anggana. Pramesti akan menurut, itu yang dia tahu. Suara berisik orang yang masuk kedalam ruangannya mengambil perhatian Anggana sepenuhnya. Laki-laki itu tetap diam, menunggu orang yang masuk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN