Kebencian yang Rea rasakan sudah terpatri kuat sampai ke dasar hatinya. Ia masih ingat dengan jelas, ketika ibunya ikut andil dalam pengkhianatan itu.
Di hari kepulangan Rea ke Indonesia, Seli sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada anaknya. Ia hanya menatap sayu kearah Rea dan langsung menyuruh Rea untuk segera berganti pakaian. Ternyata, kamarnya saat itu sudah disulap menjadi kamar rias. Beberapa potong pakaian terlampir dengan anggun, pun disertai dengan hadirnya beberapa wanita yang entah mau melakukan apa. "Ada apa ini, Ma. Kenapa mereka ada disini?" tanya Rea saat itu dengan raut bingung.
Seli tidak berani menatap mata anaknya, ia hanya menepuk pundak Rea pelan lantas menuntun Rea untuk didudukkan didepan meja rias.
"Ma...apa maksudnya ini?" Rea mulai merasa ada yang tidak beres, ditatapnya wajah ibunya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk.
"Tenanglah, Sayang, sebentar saja..." Seli kembali menepuk bahu Rea. Kali ini, Seli menyuruh orang-orang yang ada di ruangan itu untuk mulai mengambil alih tempatnya. Sementara ia memutuskan untuk cepat-cepat keluar dari kamar anaknya.
Rea ingin menolak, tapi beberapa perempuan yang kini bersamanya mulai memegang Rea kuat-kuat, menyuruh Rea untuk tidak bergerak. "Lepaskan aku, apa yang mau kalian lakukan," Rea mulai merasa ketakutan. Tapi sialnya, tidak ada seorang pun yang bersuara. Semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang tetap memegangi Rea, ada yang mulai menata rambut Rea, ada yang menyiapkan gaun dan ada yang mulai merias wajah Rea.
Satu jam kemudian, Rea mulai bisa memahami apa yang terjadi padanya. Lihatlah pantulan wajahnya di cermin itu, ia bisa melihat hasil riasan yang dikerjakan wanita tak dikenal itu. Begitu sempurna dan cantik, seperti hasil riasan untuk...tunggu, Rea langsung tersadar dari kebekuannya. Sejak tadi, Rea memang sudah pasrah dengan apapun yang akan dilakukan orang-orang itu, tapi kini setelah ia melihat hasilnya dan sadar untuk apa semua ini, Rea kembali berontak.
Wanita yang tadinya memegangi Rea dan sudah ikut sibuk menghias Rea, sontak terkejut dengan pemberontakan yang lagi-lagi dilakukan Rea. Buru-buru ia meninggalkan kegiatannya lantas mulai kembali memegangi tubuh Rea kuat-kuat.
"Tidak, lepaskan aku. Aku tidak mau menikah."
Sempurna sudah kalimat yang Rea ucapkan. Benar, setelah melihat hasil riasan wanita asing itu, ditambah penataan rambut dan gaun yang mulai dipersiapkan untuk dipakaikan ke tubuh Rea, Rea tersadar kalau mereka sedang meriasnya untuk dijadikan seorang pengantin. Tidak, bagaimana mungkin ia akan menjadi pengantin sementara Vino masih berada di Swiss. Satu-satunya lelaki yang akan dinikahi Rea hanyalah Vino seorang. Ini pasti terjadi kesalahan. Ia harus memberitahu ibunya.
"Tolong lepaskan aku, aku harus memberitahu ibuku. Ada yang salah disini," ujar Rea meronta-ronta. Wanita yang sejak tadi memegangi Rea mulai kewalahan, dengan cepat wanita-wanita lain ikut memeganginya. Salah seorang wanita yang paling tua diantara mereka, menyuruh salah satu wanita untuk memberitahukan kejadian ini pada Seli. Bergegas wanita yang ditunjuk itu pun keluar.
Lima menit kemudian, Seli tergopoh-gopoh memasuki kamar Rea diikuti Hary dibelakangnya. Wajah Seli masih menyiratkan kesedihan mendalam, bahkan ujung matanya masih tampak basah oleh airmata.
"Tenang, Sayang... Mama ada disini." Seli berusaha menenangkan Rea dengan memeluknya erat. Rea yang sejak tadi berontak, mulai kembali duduk ditempatnya. Sementara Hary langsung menyuruh wanita-wanita tadi untuk meninggalkan kamar.
"Ma, ada apa ini. Kenapa Rea di rias seperti ini?" Rea melepaskan pelukannya dan menatap ibunya menuntut penjelasan. Ibunya bersimpuh didepan Rea, ia mulai menangis. Hary pun ikut menangis disamping istrinya.
"Kenapa kalian berdua menangis, ada apa?" Rea semakin dibuatnya tak mengerti.
"Kau akan menikah Sayang..." meski suara yang Seli ucapkan terdengar parau, tapi Rea mendengarnya dengan jelas.
"Menikah? Apa maksudnya?" Rea mulai merasa tidak tenang.
Hary yang sejak tadi berdiri ikut bersimpuh didepan Rea. "Maafkan kami Sayang. Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa."
Rea menggeleng tak mengerti. "Apa maksudnya ini, Pa, Ma. Tolong katakan padaku dengan jelas." Bukannya menjelaskan seperti yang Rea minta, kedua orang tuanya justru semakin terbuai dengan tangisan. Tanpa sadar airmata Rea ikut tumpah. Ia masih belum mengerti, tapi perasaannya sudah mulai menjerit. Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk, sampai-sampai kedua orangtuanya menangis sesenggukan seperti ini.
Dan benarlah, setelah didesak Rea, akhirnya Hary pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Bahwa Rea akan dinikahkan dengan lelaki yang sama sekali tidak ia kenal apalagi ia cintai. Hal itu disebabkan karena perusahaan ayahnya terancam akan dilikuidasi.
"Lalu apa hubungannya dengan Rea, Pa?" tanyanya parau ketika ayahnya mulai menceritakan kondisi perusahaannya yang diambang kehancuran.
"Ini sangat berhubungan anakku. Calon suamimu adalah anak dari pemilik perusahaan besar yang sangat berpengaruh dan memiliki saham dimana-mana. Jika kau menikah dengannya, perusahaan Papa akan mendapatkan kepercayaan oleh para pemegang saham. Dan hal itu tentu akan membatalkan likuidasinya."
"Apa itu berarti Papa akan menjualku padanya?" Rea mulai jengah, ia tidak bisa lagi berpikir normal.
"Tidak sayang, bukan begitu." Seli akhirnya angkat bicara. "Antara papamu dan ayah Adrian, calon suamimu itu, bersahabat baik. Mereka bisa saja membeli sebagian besar saham perusahaan papamu, tapi antara perusahaan papamu dengan perusahaan milik keluarga Adrian sama sekali tidak berhubungan. Dan jika mereka menanam saham besar kepada perusahaan papa, tentunya itu akan membuat mereka direpotkan dengan sistem dan manajemen baru. Oleh karena itu, mereka menawarkan kesepakatan ini. Menikahkanmu dengan anaknya. Karena ayah Adrian memiliki pengaruh yang besar bagi perusahaan-perusahaan lain, tentu saja hal itu akan membuat para pemegang saham mengurungkan niatnya untuk meng-likuidasi perusahaan papamu."
Semua penjelasan yang Seli ucapkan, tidak ada satupun yang bisa Rea pahami. Satu-satunya yang ia pahami sekarang adalah kedua orangtuanya telah mengorbankan dirinya untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan kata lain, kedua orangtuanya lebih memilih untuk menjual Rea kepada keluarga asing itu.
"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak mau!" Rea berontak, kedua tangannya berusaha menghapus semua riasan dan merusak tatanan rambutnya.
"Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku hanya akan menikah dengan Vino. Aku mau kembali ke Swiss sekarang." Rea semakin tidak terkendali, ia mulai memukul-mukul kepalanya sendiri.
Seli yang melihat itu berteriak histeris. "Tidak, Sayang. Tolong jangan lukai dirimu sendiri. Mama mohon..." Seli berusaha menjauhkan tangan Rea dari kepala anak gadisnya. Tapi pemberontakan Rea terlampau besar, hingga akhirnya Hary pun ikut turun tangan menenangkan Rea.
"Sayang...bertahanlah sebentar, Papa akan bekerja keras untuk membuat perusahaan kita berkembang tanpa bantuan siapapun, setidaknya tolong kasih Papa waktu selama tiga sampai enam bulan," pinta Hary memohon. Tak ada jawaban apapun dari Rea, hatinya sudah terlanjur hancur mengetahui semua ini.
***
Kenangan pahit itu kembali terlintas di pikiran Rea saat ia kembali melihat ibunya. Saat itu, dengan terpaksa, Rea bersedia menikah dengan Adrian tapi dengan satu syarat, jangan pernah menyuruhnya untuk berhenti membenci mereka berdua. Rea sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pernah memafkan kedua orangtuanya atas apa yang menimpa dirinya. Tapi sebesar apapun kebencian yang ia miliki, ia tetap tak bisa menghilangnya rasa sayangnya pada kedua orangtuanya, terlebih pada ibunya.
Untuk itulah Rea menangis sekarang. Ia tidak tahu jenis perasaan apa yang ia rasakan, kebencian yang terlampau besar namun dibungkus dengan rasa sayang. Benci dan sayang disaat bersamaan. Ia tidak sanggup menahan itu semua. Rasanya ia ingin saat ini juga ditenggelamkan ke dasar samudra daripada harus menanggung perasaan semacam ini.
"Rea...ada apa. Kenapa kau menangis?" tanya Adrian yang tiba-tiba sudah berada disamping Rea.
Rea menatap Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sama sekali tidak membenci Adrian, meskipun ia membenci kenyataan bahwa kedua orangtuanya menikahkannya dengan lelaki sebaik Adrian. Ini bukan soal Adrian, ini soal pengkhianatan dan pengorbanan yang harus ia tanggung. Bahkan...lihatlah mata lelaki didepannya sekarang, begitu lembut dan penuh kekhawatiran. Rea tentu akan sangat bersyukur jika Adrian adalah lelaki yang ia cintai. Karena lelaki itu begitu baik padanya. Tapi perasaan Rea tidak bisa dibohongi, seluruh ruang hatinya sudah ditempati Vino, hingga tidak ada celah sedikitpun bagi laki-laki lain untuk masuk ke dalam hatinya.
Tak kuasa melihat tangisan Rea, tanpa sadar tangan kanan Adrian menarik bahu Rea untuk disandarkan didadanya. Ia mengelus lembut rambut Rea. Sementara Rea semakin tergugu di dalam pelukan Adrian. Cukup lama Adrian membiarkan Rea menangis, hingga saat Adrian mendengar sesenggukan tangis Rea mulai mereda, ia pun menarik tubuh Rea dan menatapnya dengan lembut.
"Rea, aku tidak tahu alasan kenapa kau menangis. Tapi didalam sana ada Mamamu, kita tidak bisa meninggalkannya sendirian. Karena dia tentu sangat ingin bertemu dengan kita. Jadi aku mohon...hapuslah airmatamu."
Jika saja Adrian tahu kalau alasan yang membuat Rea menangis adalah karena kehadiran ibunya, tentu Adrian tidak akan mengatakan hal itu. Tapi bagaimanapun, Rea harus bertahan. Saat ia memutuskan menikah dengan Adrian, ia sudah berjanji untuk bertahan, setidaknya selama enam bulan, itulah waktu yang dijanjikan kedua orangtuanya.
Rea akhirnya mengangguk. Ia mulai menghapus airmata yang sudah membasahi sebagian besar wajahnya. Baiklah, ia akan menemui ibunya sekali lagi.
Di ruang tamu, Seli menunggu dengan perasaan campur aduk. Ia bahagia sekaligus terluka saat melihat anak gadisnya mau menemuinya lagi meskipun dengan wajam masam.
"Kalau begitu...aku buatkan kalian minum dulu," ujar Adrian ketika ia sudah berhasil membuat Rea ikut duduk di ruang tamu, berhadap-hadapan dengan Seli.
Sepeninggalannya Adrian, Seli beringsut mendekati Rea. Kali ini ia membenamkan wajahnya di pangkuan Rea, seolah sedang meminta pengampunan. Rea jengah melihat perbuatan ibunya, ia memutuskan untuk berdiri dan menjauhkan dirinya dari Seli.
"Untuk apa lagi Mama menemuiku," Rea berkata ketus.
Seli berniat ingin mendekati anak gadisnya itu, tapi dengan cepat Rea memundurkan langkah. "Mama mendengar kalau kau sempat dibawa ke rumah sakit karena meminum banyak obat penenang, dan Mama ingin tahu bagaimana kondisimu sekarang?"
Rea sebenarnya terkejut mengetahui ibunya tahu soal kondisinya kemarin, tapi ia berusaha sekeras mungkin untuk menutupi keterkejutannya lantas tersenyum mengejek. "Apa Mama ingin memastikan apakah aku masih hidup atau sudah mati, begitu?" tanyanya ketus. Satu butir airmata kembali mengalir di pipi Seli, ia tahu Rea sangat membencinya, ia hanya tidak tahu kalau Rea akan membencinya hingga seperti ini.
"Mama mohon...kau bertahanlah sebentar. Kami sedang bekerja keras untuk mengembalikanmu seperti dulu."
Wajah Rea yang sedari tadi ia palingkan, kini mulai menatap Seli tajam. "Apa Mama bilang? Mengembalikanku seperti dulu," Rea tertawa getir.
"Setelah kalian berhasil mengkhianatiku dan menjualku pada laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal dan tidak aku cintai, apa Mama pikir semuanya akan bisa kembali seperti dulu." Rea menggeleng-gelengkan kepala. Kali ini suaranya mulai bergetar, Rea tahu dirinya akan menangis sebentar lagi, tapi ia tak peduli. Ia harus membuat ibunya mengerti akan kepedihan yang ia rasakan. Setidaknya agar ibunya diliputi penyesalan mendalam setelah berhasil mengkhianati putrinya sendiri.
"Asal Mama tahu saja, semenjak aku memutuskan untuk menikah, aku merasa bahwa aku sudah mati, dan kalian sudah tidak berhak lagi atas diriku. Aku tidak akan pernah memafkanmu, Ma. Bahkan ketika aku sudah terlepas dari penjara ini, aku tetap tidak akan memaafkanmu dan Papa. Aku membenci kalian berdua dan rasanya itu sudah menyatu dengan nadiku."
Tangis Rea sudah buncah keluar saat mengatakan kalimatnya tadi. Seli yang mendengar semua kata pahit itu hanya bisa tergugu dalam tangisan, ia tidak sanggup menatap mata anaknya. Melihat ibunya menangis terisak, Rea merasa menang. "Dan jika pada akhirnya aku memutuskan untuk mati saat masih menjadi istri Adrian, maka kalian berdualah yang nantinya bertanggung jawab atas kematianku. Kalianlah penyebab penderitaan yang aku alami. Kalian berdua yang selama ini aku anggap orangtuaku yang kemudian menjualku seperti barang murahan."
Seli semakin terisak dalam tangisnya, sebesar apapun Seli berpikir Rea membencinya, ia sama sekali tak menduga kalau Rea membencinya jauh lebih besar dari perkiraannya. "Dan sekarang...pergilah, tinggalkan aku sekarang, biarkan aku membusuk di penjara ini, aku tidak mau melihat Mama lagi." Rea berjalan menuju pintu masuk lantas mulai membuka pintu itu lebar-lebar untuk mengusir ibunya pergi.
Tak kuasa mendengar kalimat pahit yang mungkin akan Rea ucapkan lagi, Seli lebih memilih untuk membiarkan dirinya diusir oleh anaknya sendiri.
Begitu Seli berhasil melewati pintu, Rea langsung menutupnya dengan kasar. Setelah itu Rea langsung beringsut ke bawah sambil meledakkan tangisannya. Di satu sisi, Rea merasa berdosa telah melakukan hal menyedihkan itu pada ibunya sendiri tapi di sisi lain ia merasa berhak melakukan itu setelah apa yang ibunya lakukan padanya.
Cukup lama Rea menangis sesenggukan, dan ia merasa dirinya berubah menjadi wanita yang begitu kejam. Ia tahu kata-katanya tadi pastilah menyakitkan, dan bagaimana terlukanya hati ibunya setelah mendengar itu semua darinya.
Entah berapa lama Rea terduduk disana saat kemudian matanya menangkap sesosok laki-laki yang menatapnya tajam. Ya, Adrian berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Rea melihatnya dan ia mulai membenahi dirinya yang kacau dan berharap Adrian tidak akan bertanya macam-macam.
"Aku lelah sekali, aku mau langsung ke kamar," ucap Rea pelan saat ia memutuskan untuk bangkit dan melewati Adrian begitu saja. Adrian tidak tinggal diam. Ia menarik lengan Rea dan membawanya ke tempat dimana tadi ia dan ibunya duduk.
"Ada apa Adrian?" Rea yang tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Adrian bertanya dengan penuh kebingungan.
Adrian kembali mendaratkan tatapan tajamnya. "Aku mendengarnya," jawab Adrian dengan raut wajah yang sulit sekali Rea artikan. Ada kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang berbaur jadi satu.
"Apa maksudmu?" Rea masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Adrian, sampai kemudian terlintas sebuah ingatan saat dirinya sedang bertengkar dengan ibunya tadi. Ya Tuhan, kenapa Rea sampai tidak sadar kalau saat itu Adrian ada dirumah. Mulut Rea ternganga, ia tidak tahu lagi pembelaan apa yang harus ia katakan.
"Aku mendengar semuanya, Rea," sinis Adrian yang melihat Rea terhenyak di tempatnya tanpa berusaha untuk membela diri.
Tatapan lembut milik Adrian tidak bisa Rea lihat lagi. Airmukanya keruh, rahangnya menegang menahan emosi yang sepertinya ingin membludak keluar. Wajah penuh kekecewaan sekaligus kemarahan itu begitu menohok hati Rea. "Jadi...itu alasannya." Adrian kembali bersuara. Rea menggeleng-gelengkan kepala, tapi mulutnya kelu. Tak ada satu huruf pun yang berani keluar dari mulutnya.
"Kau menangis semalaman di hari pernikahan kita karena kau merasa dikhianati dan dijual oleh orangtuamu sendiri. Hah?!!" suara Adrian menggelegar. Amarahnya memuncak. "Dan kau merasa saat aku menikahimu itu adalah saat dimana keluargaku sedang membelimu. Kenapa kau berpikir serendah itu, sampai kau merasa harus menjual dirimu padaku. Hah?!!" Adrian terlihat kacau sekali, ia tidak menyangka wanita yang ia nikahi memiliki pikiran serendah itu padanya. Rasanya saat itu juga, ia ingin memukul apapun sekuat tenaga lantas berteriak sekeras-kerasnya. "Dan kau juga bilang...kalau pernikahan dan rumah ini adalah penjara bagimu, sehingga kapanpun kau ingin, kau berhak memutuskan untuk mati atau tidak daripada harus menderita dan membusuk di tempat ini," nada suara Adrian bergetar, jelas sekali ia begitu kecewa mendengar pengakuan Rea tadi.
"Tidak, Adrian. Aku tidak bermaksud mengatakan itu padamu." Tetes airmata Rea tumpah begitu saja.
"Ya, kau memang tidak mengatakannya padaku, dan aku mendengarnya dengan jelas. Bahwa kebencianmu pada orangtuamu disebabkan oleh pikiran burukmu sendiri yang menganggap bahwa aku membelimu." Adrian menggeleng pasrah. "Apa kau merasa begitu berharga sampai aku harus membelimu?"
"Demi Tuhan, Adrian. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku mengatakan itu bukan untuk menyakitimu. Aku tahu, kau sangat baik padaku. Aku melakukan itu hanya untuk membuat orangtuaku merasa bersalah, karena sudah menjebakku dan mengkhianatiku, sama sekali bukan untuk menyakitimu apalagi untuk merendahkanmu."
"Aku tahu, kebencian itulah yang secara tidak langsung telah membuatku terhina." Adrian mengambil napas sebentar. "Jika memang kau merasa pernikahan ini adalah penjara bagimu, maka aku akan dengan senang hati melepaskannya."
Bersambung ...
AdDina Khalim