Cinta Sejati Adrian - 3

1957 Kata
Adrian tiba di kantornya agak siang. Ia masih dongkol dengan sikapnya tadi pagi. Berkali-kali ia mencoba bersikap normal di depan Rea, tapi selalu saja gagal. Tingkahnya hanya bisa membuatnya malu dan terlihat bodoh. Saat melewati meja kerja Dika, Adrian sempat berkata, "masuklah ke ruanganku sekarang." Dika yang sedang sibuk mengetik sesuatu, bergegas bangkit lantas berjalan menuju ke ruang kerja bosnya. "Ada apa bos?" tanya Dika heran seraya menghempaskan tubuhnya di kursi yang berhadap-hadapan dengan Adrian. "Apa selama ini aku pernah bertingkah bodoh?" tanya Adrian to the point, ia memasang tampang serius, matanya menatap Dika tajam seolah ingin segera mendapat jawaban. "Tidak, Bos. Kau selalu bisa mengendalikan dirimu, bahkan ketika pesaing kita memancing emosimu, kau selalu membalasnya dengan sikap tenang. Ku rasa, kalau soal sikap dan tingkah laku, kau selalu saja bisa diandalkan, Bos." Adrian mengernyitkan dahi tak percaya dengan ucapan Dika barusan, benarkah begitu? Lantas kenapa ia tidak bisa mengendalikan dirinya saat sedang bersama Rea. Jika selama ini dirinya selalu bisa mengendalikan diri dalam situasi apapun, kenapa tidak dengan saat dirinya bersama dengan wanita itu. "Lantas bagaimana sikapku saat sedang bersama wanita?" Gantian Dika yang mengernyitkan kening heran. "Wanita yang mana? Selama aku bekerja disini aku tidak pernah melihatmu menjalin hubungan dengan wanita manapun, Bos," ujar Dika enteng. "Jadi, wanita mana yang kau maksud?" Sial, kenapa Dika justru mengejeknya seperti ini. Memang benar selama memegang jabatan sebagai direktur di perusahaan ini, Adrian memang tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan wanita. Bisa dibilang kalau ia seorang workaholic. Dan kalau ingatannya tidak salah, terakhir kali Adrian berpacaran adalah ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa. "Kau melamun, Bos?" tanya Dika kemudian yang akhirnya menyadarkan Adrian dari kebisuannya. "Apa aku terlihat melamun tadi?" Dika mengangguk mantap. "Apa kau ada masalah dengan istrimu, Bos?" tanya Dika kemudian. Adrian cepat-cepat menggeleng, "tidak, kemarin aku bahkan sudah berbicara dengannya." "Lalu bagaimana?" Dika memajukan badannya antusias. Ia terlihat begitu penasaran dengan kehidupan pribadi atasannya. "Kemarin aku mengatakan padanya soal pernikahan yang kami jalani hanyalah sebatas status, jadi aku memintanya untuk tidak mempersoalkan hal itu. Aku juga menyuruhnya untuk melanjutkan hidup tanpa terbebani soal status kami. Ku rasa dia setuju." "Lalu...." "Lalu esok paginya aku dibuatnya takjub. Dia membuatkanku sarapan. Bayangkan, setelah sebelumnya dia selalu menangis dan menghindariku, tiba-tiba saja dia menyiapkan makanan untukku. Dan apa kau tahu Dik, untuk pertama kalinya, dia akhirnya berani menatapku." Dika akan dengan senang hati bertepuk tangan kalau itu adalah sebuah prestasi, tapi tak bisa dipungkiri kalau hal itu begitu membuat bosnya bahagia. Lihatlah wajahnya sekarang, bahkan saat sedang bercerita saja, Adrian tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. "Jadi...sekarang kau mulai mencintainya, Bos?" Adrian tercekat mendengar pertanyaan Dika barusan. Cinta? Semudah itukah Adrian mencintai Rea, setelah sebelumnya Adrian jelas-jelas mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak mencintai wanita itu. Jadi, mana yang benar sekarang? Jika kemarin ia masih belum merasakan apa-apa terhadap Rea, tapi kenapa hari ini ia begitu bahagia melihat senyuman Rea. Apakah cinta namanya jika terjadi secepat itu. Adrian menggeleng cepat-cepat. "Tidak mungkin. Kau sendiri tahu kan Dik, aku tidak semudah itu jatuh cinta." Dika manggut-manggut setuju. Memang benar, selama ini bosnya memang tergolong lelaki yang sulit untuk jatuh cinta. Bagaimana tidak? Ia masih ingat dengan jelas saat beberapa klien wanita bosnya sering mendekati Adrian hanya untuk menjalin hubungan spesial, tapi bosnya selalu saja menolak dengan alasan tidak ingin mencampurkan hubungan kerja dengan urusan pribadi. Memang, jika dilihat dari sudut pandang lelaki, bosnya itu bukan hanya sudah mapan, tapi juga bertampang diatas rata-rata dan sikapnya juga lembut dan tidak sombong, jadi tidak salah jika banyak klien wanitanya yang tergoda. Bahkan Dika masih ingat betul ketika salah satu klien penting bosnya memberikan pilihan. Jika ingin perusahaannya tetap bekerja sama dengan perusahaan Adrian, maka Adrian harus bersedia menikahinya, tapi jika tidak maka kerja sama itu akan segera diakhiri. Tentu saja bosnya memilih untuk mengakhiri saja, ia tidak suka diancam, apalagi saat itu kondisi Adrian tidak sedang terdesak, jadi wajar saja kalau Adrian menolak dengan tegas. "Jadi kalau begitu, apa yang kau rasakan sekarang padanya?" tanya Dika setelah terdiam cukup lama. "Aku tidak tahu, aku hanya..." kalimat Adrian menggantung. "Rasanya...setiap kali aku bersamanya, aku selalu saja melakukan hal-hal bodoh dan konyol. Padahal kau tahu sendiri kan, kalau aku tidak punya reputasi buruk semacam itu." Adrian tertawa mengucapkan kalimat terakhirnya. Dika ikut tertawa. Keduanya terdiam sebentar, sampai kemudian Dika bertanya lagi. "Apa yang akan kau lakukan padanya?" Adrian menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dika barusan. "Kalau boleh jujur, aku ingin melakukan sesuatu bersama Rea setiap harinya." "Maksudmu berhubungan intim?" Dika berseru. "Tidak, bukan itu maksudku," Adrian terlihat gugup. Apa-apaan sih, Dika, bagaimana mungkin dia berpikir sejauh itu. "Maksudku, aku ingin tetap bersama Rea untuk ke depannya, melakukan banyak hal bersamanya. Begitu!" Dika tertawa seraya menggaruk kepalanya yang kebetulan terasa gatal. Setelah percakapan itu, Adrian pun meminta Dika untuk kembali bekerja. Ia juga kembali dengan rutinitas kerjanya. Mengecek beberapa dokumen dan melihat schedule-nya beberapa hari kedepan, sepertinya tidak terlalu sibuk. Ia bisa meluangkan waktu untuk bersama Rea. Hey, kenapa justru itu yang ia pikirkan.  Baiklah...sepertinya itu dikarenakan perutnya yang sudah kembali lapar, hingga mungkin pikirannya jadi terganggu. Ini sudah waktunya jam makan siang! "Mau makan dimana bos?" tanya Dika setelah berhasil memasang sabuk pengaman di mobil Adrian. Adrian memang terbiasa melakukan apapun bersama Dika, termasuk saat makan siang. "Tidak tahu, kita jalan saja dulu, kalau kau melihat tempat makan yang sepertinya enak, kau bilang padaku untuk berhenti." Dika mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Keduanya lantas menyusuri jalanan yang sedikit macet. Saat jam makan siang begini, jalanan memang terlihat cukup ramai. Tapi untunglah keduanya dengan cepat menemukan tempat yang cocok untuk memuaskan rasa lapar mereka. Sebuah kafe yang letaknya di sekitar supermarket dan counter hape. "Kau mau makan apa bos?" tanya Dika ketika keduanya sudah berada didalam kafe, sementara hanya Dika yang memegang daftar menu. "Terserah kau saja, aku ikut." "Baiklah." Dika lantas memberitahukan jenis menu apa yang dia mau kepada waitress yang berdiri disampingnya. Sambil menunggu pesanan datang, Dika bercerita soal asmaranya yang sedang mengalami goncangan. Adrian mendengarnya dengan seksama, terkadang memberikan suara ala kadarnya. Hingga kemudian mata Dika tertegun menatap sesuatu yang ada dibelakang Adrian. "Bos, lihat disana," pinta Dika seraya mengacungkan jari telunjuknya ke meja yang terletak di sudut ruangan. "Ada apa?" mata Adrian mengikuti arah telunjuk Dika. Dan lihatlah, di meja pojok sana, ia melihat Rea. Ya, benar, itu Rea. Dika ternyata masih ingat dengan wajah istri bosnya, walaupun Dika baru pertama kali melihatnya saat acara resepsi pernikahan. "Itu benar istrimu kan, Bos?" tanya Dika memastikan. Adrian mengangguk. Ia ingat, bukankah tadi pagi Rea bilang kalau ia ingin membeli hape. Dan lihatlah, bahkan saat ini Adrian bisa melihat kalau Rea sudah mendapatkan hape itu, wanita itu bahkan sedang asyik video call-an dengan seseorang. "Kau mungkin perlu menyapanya, Bos," saran Dika yang melihat bosnya tak jua mengalihkan tatapannya dari Rea. "Benar, sepertinya aku memang harus menyapanya," gumam Adrian. Ia lantas bangkit dari kursinya dan mulai berjalan mendekati meja Rea. Sepertinya Rea terlalu asyik dengan obrolan itu, sampai-sampai saat langkah Adrian sudah semakin dekat, Rea sama sekali tidak menyadarinya. "Rea..." sapa Adrian lembut. Ia berdiri di sisi kiri depan Rea, sehingga Adrian tidak bisa melihat dengan siapa Rea mengobrol. Dengan gerakan cepat Rea menoleh ke sumber suara, dan seketika wajahnya menegang. Buru-buru Rea memutuskan sambungan video call-nya, lantas berusaha menyunggingkan senyum. Adrian yang melihat itu sedikit heran, tapi keheranannya langsung sirna begitu melihat senyuman Rea. "Aku melihatmu dari sana..." Adrian menunjuk mejanya yang sekarang hanya diisi Dika. "Jadi aku pikir...aku perlu menyapamu." "Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin kau tidak menyapaku, hah?" suara Rea terdengar gugup. "Apa kau mau bergabung bersama kami disana?" tawar Adrian kemudian. Rea terlihat salah tingkah dengan tawaran Adrian, hingga tanpa sadar ia pun mengangguk. "Baguslah, ayo kesana. Akan aku perkenalkan dengan temanku." "Hah?" Rea masih terlihat salah tingkah. Begitu sadar dengan apa yang terjadi, Rea buru-buru menjawab. "Kau kesanalah lebih dulu, aku akan menyusul." "Baiklah, aku tunggu." Adrian berjalan meninggalkan meja Rea. Sementara Rea langsung menghembuskan napas panjang. Sedari tadi ia lebih banyak menahan napas. Siapa yang menyangka kalau Adrian juga ada di kafe ini. Bagaimana jika dari tadi Adrian memergokinya sedang ber-video call-an dengan Vino. Apa yang harus dikatakannya pada lelaki itu? Dan terlebih lagi, bagaimana ia akan menjelaskan pada Vino perihal sambungannya yang terputus tiba-tiba. Rea yakin, Vino pasti mendengar suara Adrian saat memanggil namanya tadi. Baiklah, Rea. Sebaiknya tenangkan dirimu dulu. Semuanya pasti akan baik-baik saja, ujarnya pada diri sendiri. Dengan memantapkan perasaannya, Rea pun mulai berdiri lantas tersenyum pada Adrian yang menatapnya dari kejauhan. Baiklah, ia akan menghampiri laki-laki itu. "Hai..." Dika buru-buru berdiri dari kursi seraya mengulurkan tangan ketika melihat Rea sudah berada di depannya. Rea membalas uluran tangan Dika sambil ikut mengatakan "Hai." "Dika, sekretaris BOS Adrian," ujarnya memperkenalkan diri dengan menegaskan kata bos yang langsung dibalas dengan tatapan tajam Adrian. "Rea," gantian Rea yang memperkenalkan diri. Dika kembali duduk di tempatnya. Sementara Rea tampak bingung harus duduk dimana. Antara Dika maupun Adrian duduk berhadap-hadapan dengan masing-masing memiliki satu kursi kosong. "Silahkan Anda duduk disini," pinta Dika yang menyadari kebingungan Rea dan langsung bangkit dari kursinya untuk menarik kursi kosong disebelah Adrian. Adrian menjadi salah tingkah mengetahui Rea akan duduk disebelahnya. Sementara Dika hanya bisa menahan senyum. "Kau mau memesan apa?" tanya Adrian pada Rea setelah semuanya sudah duduk. "Tidak, aku sudah makan tadi. Silahkan kalau kau mau makan, aku tidak apa-apa." Adrian merasa tidak enak. Untuk kedua kalinya, Rea hanya melihat Adrian makan. "Jadi...tadi kau sedang mengobrol dengan siapa?" tanya Adrian di sela-sela makan. "Hah?" Rea mendadak menjadi gugup. Ia sangat berharap kalau Adrian tidak tahu kalau tadi dirinya baru saja menghubungi laki-laki lain. "Ahh...itu...temen. Tiba-tiba saja aku ingin menghubunginya." "Kenapa tidak janjian bertemu saja." "Tidak, dia sedang berada di luar kota." "Oh begitu." Adrian mengangguk-angguk mengerti. "Ehem..." Dika berdehem. Astaga, Adrian tidak menyadari kalau masih ada Dika di depannya. "Bos, aku sudah selesai makan, aku mau beli pulsa dulu di counter depan," pesan Dika yang menyadari dirinya menjadi makhluk tak terlihat. Adrian mengangguk pelan. Dan seperginya Dika, tinggallah Adrian bersama Rea. Entah kenapa, jantung Adrian berpacu lebih cepat, ia tidak tahu kenapa. Padahal makanan yang dimakannya bukan jenis makanan yang bisa memompa jantung. Ini pasti karena Rea! "Kalau begitu, aku mau langsung pulang saja," Rea bersuara. Adrian menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya ia alihkan kesamping, dimana Rea sudah berdiri dari kursinya. "Kenapa buru-buru, apa tidak ada yang ingin kau beli lagi?" Rea menggeleng. "Baiklah, " Adrian mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya sampai habis. "Kalau begitu...aku akan mengantarmu pulang." "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Kau kan harus kembali ke kantor bersama Dika." "Tidak apa-apa, masalah itu bisa aku atur. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa nanti, jadi akan lebih membuatku tenang jika aku mengantarmu pulang. Maksudku, setidaknya aku harus menjadi suami yang bertanggung jawab bukan?" Adrian tertawa kikuk. Baiklah, dengan terpaksa Rea menerima ajakan itu. *** Sepanjang perjalanan, Adrian lebih memilih untuk berkonsentrasi pada menyetirnya. Sementara Rea terlihat begitu gelisah. Adrian menyadari itu, tapi ia enggan bertanya. Ia tidak tahu harus bertanya darimana. Karena jika kegelisahan Rea ada hubungannya dengan alasan dia menangis saat hari pengantinnya. Maka itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Adrian bungkam, masih belum saatnya bagi Adrian untuk mencampuri urusan pribadi Rea.  Jadilah, sepanjang perjalanan keduanya saling mengunci mulut masing-masing, sampai rumah mewah Adrian mulai terlihat. Hal pertama yang dirasakan Rea ketika turun dari mobil Adrian adalah perasaan benci luar biasa. Lihatlah, di teras rumahnya sekarang berdiri salah satu dari dua orang yang sangat Rea benci di dunia ini. "Mama..." seru Adrian melihat kehadiran seseorang itu. "Sudah lama Mama menunggu disini?" tanyanya kemudian seraya menyunggingkan senyum senang karena melihat mertuanya berkunjung ke rumahnya untuk pertama kali. Ya, seseorang itu adalah Seli, ibu Rea sendiri. Berbeda sekali dengan reaksi Adrian. Rea justru memasang muka paling masam. Wajahnya menyiratkan kebencian mendalam. Seli bisa merasakan itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya terlalu menyesal telah membuat anaknya begitu membenci ibu kandungnya sendiri. Melihat Rea hanya mematung, Seli dengan cepat berlari-lari kecil dan langsung memeluk anak semata wayangnya itu. Adrian tersenyum senang melihat pemandangan itu, tapi tiba-tiba senyumannya menghilang begitu melihat raut masam Rea saat ibunya sendiri sedang memeluknya penuh kasih. "Syukurlah kau baik-baik saja..." gumam Seli dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada respon apapun dari Rea. Hanya Seli saja yang memeluk sementara Rea terlihat enggan sekali. Menyadari itu, Adrian mulai bersuara. "Mama...ayo kita ke dalam dulu," pinta Adrian seraya meraih bahu Seli untuk diajaknya masuk. Sementara Rea masih berdiri membeku. Bersambung ... AdDina Khalim
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN