Cinta Sejati Adrian - 6

2375 Kata
Sejak masih SMA, Rea bertekad untuk hanya mencintai laki-laki itu sepanjang hidupnya. Hanya akan menikah dengan Vino. Bahkan saat Vino memutuskan untuk pindah ke Swiss, Rea menyusulnya selepas menamatkan SMA. Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di negeri asing itu hanya untuk bisa bersama Vino. Tapi...apakah perlu menceritakan tentang Vino pada Adrian sekarang? Perlukah Adrian mengetahui perasaan cintanya hanya untuk Vino seorang? "Rea..." suara Adrian membuyarkan kebisuan Rea. Rea sedikit gelagapan. Ia melihat raut heran terpampang jelas di wajah Adrian. Tapi Rea masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan Adrian barusan. Apakah ia memang harus menceritakan soal Vino atau tidak? "Kau sepertinya tidak ingin menjawabnya sekarang," Adrian menyimpulkan, melihat Rea yang terus saja membisu. "Baiklah, tidak apa-apa. Setidaknya kita masih berstatus suami istri, dan kau mungkin akan menjawabnya di lain waktu." Rea menatap Adrian sayu. Laki-laki ini benar-benar sangat baik padanya. Begitu lembut dan pengertian. *** Pukul tujuh tepat Adrian keluar dari kamarnya. Seperti biasa, ia sudah siap berangkat ke kantor, mengenakan kemeja putih dengan dasi belang berwarna biru tua. Sementara Rea sudah sejak tadi menyibukkan diri di dapur. Dengan kondisi tangan kanannya yang masih di perban, setiap apa yang akan dilakukan Rea sedikit mengalami kesulitan. Apalagi saat ia memutuskan untuk membuatkan Adrian sarapan. Butuh waktu yang lebih lama dari waktu yang kemarin ia habiskan. "Pagi..." sapa Adrian dengan senyum cerah. Rea yang masih berkutat dengan masakannya menjawab singkat. "Sini aku bantu," tawar Adrian yang melihat betapa kesulitannya Rea memegang spatula dengan tangan diperban. "Tidak perlu, nanti pakaianmu bisa kotor. Tunggulah sebentar, makanan akan siap sebentar lagi." Adrian tak mengindahkan penolakan Rea. Ia langsung mengambil alih tempat Rea yang sedang membolak-balikan masakan di atas wajan. "Sudah ku bilang nanti kemejamu bisa kotor, biar aku saja yang memasak." "Tidak apa, Rea. Dengar, meski pernikahan ini hanya sebatas status tapi kita tetap suami istri, aku tidak bisa melihat istriku kesusahan hanya demi membuatkan sarapan untuk suaminya." Seketika saja wajah Rea merona karena malu. Ia akhirnya membiarkan Adrian membantunya. "Makanan sudah siap!" seru Adrian girang. Ia membantu menyiapkan piring, mangkuk, sendok, garpu dan keperluan lain yang mereka butuhkan di meja makan. "Sepertinya lezat," tambah Adrian. Ia mulai menyendokkan nasi ke piring. Sejenak Adrian terpaku, melihat jenis lauk apa yang akan ia pilih lebih dulu. Sementara Rea ikut mengambil piring, berniat akan menyendokkan nasi seperti yang Adrian lakukan tadi. "Sini aku ambilkan," pinta Adrian memaksa. Dan tanpa menunggu jawaban dari Rea, ia sudah menyendokkan nasi ke piring, memberinya lauk sesukanya lantas mempersilahkan Rea untuk segera menyantapnya. Rea pasrah saja melihat itu, dan mulai memakannya. Sambil menikmati sarapan, Adrian memulai pembicaraan. "Apa yang mau kau lakukan setelah ini?" tanyanya pada Rea. "Membersihkan rumah mungkin." Rea asyik menyuapkan makanan ke mulut. "Ah ya...aku akan membersihkan kamarmu," tambahnya. Seketika saja Adrian tersedak, buru-buru ia meraih gelas disebelah piringnya. "Tidak perlu, biar aku saja yang membereskan. Banyak pecahan kaca disana. Sepertinya kemarin aku mengamuk seperti orang kesetanan. Nanti tanganmu terluka lagi." "Tudak apa-apa, Adrian. Ini hanya luka kecil, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa membereskannya sendiri." Adrian mengangkat tangan kanannya kedepan. "Sebentar," ujarnya seraya mengambil hape di saku bajunya. Rea terdiam, melihat apa yang akan dilakukan laki-laki itu. "Hallo..." Adrian menelepon seseorang. Rea jadi terheran-heran. Kenapa tiba-tiba Adrian menelepon? "Dika..." Adrian menyebut nama sekretarisnya. Rea mengangguk paham. Mungkin ada pekerjaan yang tiba-tiba Adrian ingat, dan buru-buru menghubungi sekretarisnya itu. "Hari ini kau urus semuanya, aku tidak akan berangkat ke kantor. Ada urusan mendadak. Okey?" Selesai mengatakan itu, Adrian langsung memutuskan panggilan. Rea bertambah heran. Ada urusan mendadak? Urusan apa? Belum sempat Rea bertanya, Adrian sudah lebih dulu bersuara. "Ayo, kau bilang mau membersihkan kamarku. Kita bersihkan bersama-sama." Adrian tersenyum. Mata Rea seketika membulat. *** "Adrian, kau—" "Karena kau memaksa mau membersihkannya sendiri, jadi aku tidak punya pilihan." Adrian berkata enteng. Ia langsung menyuapkan makanan terakhirnya. Lantas bergegas bangun, melepas dasi yang sejak tadi sudah melingkar, membuka kancing lengan dan bersiap untuk mengganti kemeja putihnya. "Kau ini berlebihan, Adrian," Rea memprotes. "Aku tidak jadi membersihkan kamarmu." "Tidak apa-apa, justru itu keinginanku sejak tadi," suara Adrian terdengar lamat-lamat, karena ia sudah jauh meninggalkan meja makan. "Biar aku yang akan membersihkannya sendiri." Tentu saja ia tidak bisa membiarkan Adrian membersihkannya sendiri. Meskipun ia heran dengan keputusan Adrian yang seenaknya sendiri. Dan disinilah Rea sekarang, di kamar Adrian. "Pakai ini, untuk melindungi kakimu." Adrian memberikan sepasang sepatu boots pada Rea. "Dan karena kau memutuskan untuk membantu, maka aku akan membagi tugas. Disebelah sana dan sana, aku yang membersihkan, sementara kau bersihkan sebelah sana saja." Adrian menunjuk bagiannya, berupa sudut ruangan kanan dan kiri yang memang dipenuhi barang-barang pecah dan berserakan. Sementara untuk bagian Rea, Adrian menunjuk ke sudut lain yang sama sekali tidak terkena amukan Adrian, hanya saja sedikit berantakan. "Ini tidak adil," protes Rea cepat. "Itu sama artinya kau yang membersihkan semuanya. Bagianku hanya perlu disapu dan dilap, itu hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit." "Tidak menerima protes, ini kamarku jadi aku yang berhak mengaturnya. Kau kerjakan saja pekerjaanmu sendiri." Adrian pura-pura bersikap tak acuh, ia mulai memakai sepatu boots dan sarung tangan karet. Tentu saja dirinya tidak akan membiarkan Rea membersihkan bagian ini. Lihatlah, betapa banyak perabotan yang ia rusakkan dan ia pecahkan, dengan banyak pecahan kaca dan barang-barang lain yang berserakan bisa-bisa Rea akan kembali terluka, dan itu tidak akan Adrian biarkan. Meski tidak setuju dengan perintah Adrian tadi, tapi Rea tetap bersedia mengambil sapu, menyapu kolong-kolong, sela-sela meja dan lemari, merapikan beberapa benda yang berserakan dan membuangnya menggunakan pengki ke tempat sampah yang sudah disiapkan Adrian. Selesai menyapu, Rea mengambil kain lap, mengelap perabotan yang berdebu, menatanya sekali lagi. Dan benarlah, kurang dari lima belas menit Rea sudah menyelesaikan bagiannya. Rea melihat kearah Adrian, laki-laki itu sedang melangkah hati-hati, mengambil sisa barang yang sepertinya tidak rusak, meletakkannya ke atas meja, mengambil pengki, menyerok pecahan beling dan membuangnya ke tempat sampah. Tapi yang dilakukan Adrian masih belum ada separuhnya dari seluruh bagian Adrian. Masih banyak benda yang berserakan dan tidak berada pada tempatnya. Tanpa sepengetahuan Adrian, Rea bergerak ke sudut kanan, sementara Adrian di sudut kiri. Mulai melakukan seperti yang Adrian lakukan. Untuk beberapa saat Adrian tidak menyadari keberadaan Rea, sampai pada saat ia tengah membuang benda yang rusak kedalam tempat sampah, matanya sempat menangkap pergerakan Rea yang ikut membantunya dari sudut yang berlawanan. "Astaga, Rea. Kenapa kau ada disitu. Bagianmu kan ada disana." Adrian menunjuk bagian yang dimaksud. Seketika mulutnya tercengang. Bagian yang dimaksud itu sudah rapi dan bersih, membuat Rea tersenyum menang. "Tenang saja Adrian, aku tidak akan membersihkan pecahan kaca itu, aku hanya mau merapikan barang-barang yang berserakan," ucap Rea membela diri. Adrian diam sejenak, memperhatikan. Benar. Rea sama sekali tidak menyentuh pecahan-pecahan kaca, hanya menyortir beberapa barang yang berserakan lantas meletakkannya ke tempat semula. Ah, setidaknya itu membuat Adrian lega. "Baiklah, tapi lakukanlah terus seperti itu," pesan Adrian dengan raut serius. "Sip!" Rea mengacungkan ibu jarinya. Dua jam kemudian, kamar Adrian benar-benar tampak seperti baru. Bersih, mengkilap dan rapi. Usaha pembersihan keras Adrian yang dibantu Rea membuahkan hasil yang memuaskan meski kini pinggang dan tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal. Keduanya duduk di sisi ranjang, melihat ruangan yang bersih itu lantas tersenyum puas. Tiba-tiba saja mata Rea menangkap sesuatu di telapak tangan kiri Adrian. Astaga, telapak tangan Adrian berdarah. Rea bergegas meraih tangan Adrian dan memastikan penglihatannya. "Ada apa?" Adrian bertanya kaget saat tangannya tiba-tiba ditarik Rea. "Kau berdarah, Adrian," Rea berkata cemas. "Ah...ini hanya goresan kecil, tidak sakit sama sekali." Rea bangun, menatap Adrian tajam lantas berlalu setelah mengatakan, "tunggu sebentar." Rea kembali lima menit kemudian, membawa sekotak peralatan P3K. "Astaga, Rea. Aku benar-benar tidak apa-apa," protes Adrian. "Diamlah, Adrian." Rea langsung membuka kotak P3K, dan mulai mengobati luka Adrian dengan penuh keseriusan.  "Kenapa kau tidak berhati-hati?" Rea bertanya dengan nada khawatir. Tatapannya ia tujukan pada gerakan tangannya yang masih berusaha mengobati luka Adrian. "Kau menyuruhku untuk berhati-hati tapi kau sendiri tidak berhati-hati," omel Rea, masih belum melepaskan tatapannya pada luka Adrian. Adrian diam saja, ia memperhatikan dengan seksama raut penuh kekhawatiran di wajah Rea. Hatinya berbunga-bunga. Lihatlah wanita itu sekarang, begitu cemas meski Adrian hanya terkena luka kecil. Sementara Rea masih sibuk mengobati lukanya, Adrian juga masih menatap Rea. Perasaannya semakin yakin bahwa dirinya memang sudah mulai jatuh cinta pada wanita itu. Bibirnya tanpa sadar melengkungkan sebuah senyum. Rea yang sudah selesai mengobati Adrian kini mengalihkan tatapannya ke wajah laki-laki itu. Kedua mata mereka bertemu. Adrian buru-buru mengalihkan tatapannya, melihat hasil kerja Rea. "Meskipun ini berlebihan, tapi terima kasih..." ucap Adrian seraya melihat tangan kirinya yang sudah diperban dengan amat rapi. Rea tiba-tiba tertawa, memancing Adrian untuk menoleh. Sekarang Rea sedang mengangkat tangan kanannya yang diperban, lantas menyejajarkannya dengan tangan kiri Adrian. "Sekarang sudah lengkap," ujarnya, masih tertawa. "Tangan kita sama-sama diperban. Aku kanan dan kau kiri, jadi lengkap sudah. Ini benar-benar lucu," kalimat Rea terdengar riang sekali. Adrian ikut tertawa melihatnya. Jika ia bisa menghentikan waktu, maka sekaranglah saatnya. Dengan Rea ada disisinya, melihatnya tertawa riang, rasanya ini sudah cukup membuatnya bahagia. Saat keduanya asyik tertawa, telinga Adrian menangkap bunyi sesuatu. Itu suara dering telepon rumahnya. "Sepertinya ada yang menelepon, aku akan mengangkatnya dulu," pamit Adrian. Rea mengangguk. Adrian berjalan keluar kamar menuju ke tempat dimana dering telepon itu berbunyi. "Ya?" Adrian bersuara saat gagang telepon berhasil ia angkat. "Adrian?" panggil suara dari seberang. Itu suara Hary, Papa Rea. "Iya, Pa. Ada apa?" Adrian balik bertanya. "Apa Rea ada? Ada hal penting yang mau Papa sampaikan," pinta Hary dengan suara bergetar. Dari getaran suaranya, Adrian bisa menyimpulkan jika telah terjadi sesuatu. "Tunggu sebentar, Pa. Saya panggilkan Rea dulu," ujar Adrian cepat. Ia meletakkan gagang telepon itu diatas meja, lantas berjalan tergesa menuju kamarnya. Saat Adrian berhasil masuk ke kamarnya, ia melihat Rea sedang berjalan-jalan kecil melihat dekorasi kamarnya . "Rea..." Rea menoleh, tersenyum sebentar dan kembali melihat sekitar. "Papamu menelepon." Tubuh Rea seketika membeku, senyum diwajahnya menghilang. "Dia bilang...ada hal penting yang mau dia katakan." Adrian sudah berhasil menyampaikan pesan itu. Rea tidak merespon. Terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia memutuskan bersuara, "katakan saja padanya, aku tidak ada." Adrian membuang napas berat. Ia menghampiri Rea yang sekarang memasang wajah masam. "Bicaralah, Rea. Ini hanya telepon, kau bisa menutupnya langsung saat papamu sudah bicara. Setidaknya kau harus tahu hal penting apa yang mau papamu sampaikan." "Aku tidak mau, Adrian." "Rea...aku bisa mendengar dengan jelas, saat aku mengangkat telepon, suara papamu bergetar. Ini pasti bukan masalah kecil. Bicaralah sebentar, agar kau tahu masalah apa yang sedang dihadapi papamu." Rea masih memalingkan mukanya namun setelah mendengar kalimat Adrian barusan, airmukanya berubah, tidak semasam tadi. Benar kata Adrian, ini hanya telepon, ia akan langsung menutupnya jika hal penting yang dikatakan papanya ternyata tidak penting. Rea akhirnya mengangguk, berjalan keluar kamar diikuti Adrian dibelakangnya. "Ya..." Rea bersuara dengan nada malas, ujung telepon sudah berada ditelinganya sekarang. Adrian tidak tahu, hal penting apa yang dikatakan Hary pada Rea. Tapi ia bisa melihat raut wajah Rea yang tadinya masam kini berubah. Matanya membelalak, raut wajahnya menegang, mulutnya terbuka. Adrian yang berdiri didepannya merasakan sesuatu yang buruk sepertinya telah terjadi. "Ada apa Rea?" tanya Adrian cemas, saat Rea sudah menutup telepon dan bersiap untuk pergi dengan tergesa. "Aku harus pulang sekarang." Rea tampak gelisah. "Iya, tapi ada apa?" Adrian menggamit lengan Rea, mencegah wanita itu pergi. "Ada sesuatu yang harus aku tangani." "Baiklah, aku akan mengantarmu." "Tidak perlu. Aku akan naik taksi." "Tapi kau sedang gelisah, Rea. Aku khawatir kau kenapa-kenapa jika aku membiarkanmu pergi sendiri." Rea menatap Adrian lamat-lamat. "Tidak Adrian, aku tidak apa-apa. Ada sesuatu yang harus aku tangani, dan...aku tidak bisa membawamu ikut serta. Aku mohon mengertilah." Adrian terperangah mendapati kalimat penolakan Rea. Ia tidak punya alasan untuk menahan Rea lagi. Dengan berat hati, ia akhirnya membiarkan Rea pergi seorang diri. Tapi...sesuatu apa yang membuatnya tidak bisa ikut serta? Hal apalagi yang Rea sembunyikan darinya? Adrian bertanya-tanya dalam hati, resah. *** Rea bergegas keluar dari rumah Adrian tanpa persiapan. Ia mengenakan pakaian yang sama seperti saat ia membersihkan kamar Adrian tadi. Wajahnya terlihat begitu gelisah. Begitu keluar gerbang, buru-buru tangan Rea terangkat, menyetop taksi yang kebetulan lewat. Satu-satunya tempat yang akan ia tuju sekarang adalah rumah kedua orangtuanya. Di dalam taksi, Rea tetap tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Pandangan matanya menerawang tak tentu arah, tangan dan kakinya terus bergerak kecil. Sesekali mulutnya bersuara, meminta sang sopir taksi untuk lebih mempercepat kemudinya. Meski jalanan tidak terjebak macet, dan sampai di tujuan tiga puluh menit kemudian, tapi bagi Rea perjalanan itu terasa begitu panjang. Ia langsung turun dari taksi, tidak sempat membayar. Membuat sang sopir memanggil-manggil menuntut haknya. Rea sempat menoleh pada sopir taksi, berteriak kalau nanti ia akan bayar. Lantas bergegas memasuki gerbang rumahnya yang langsung dibuka oleh Pak Budi, salah satu pegawai rumah. "Pak, tolong bayarkan taksi di depan," pesan Rea setengah berteriak karena langkahnya sudah jauh meninggalkan Pak Budi. Sebelum memasuki rumah, Rea sempatkan untuk mengambil napas dalam-dalam. Ia harus bisa mengendalikan semuanya. Berkata pada dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan. "Rea!" seseorang berseru riang, begitu melihat tubuh Rea muncul dari balik pintu. Wajah Rea menegang, terkejut. Itu benar-benar dia, Papa tidak bohong sama sekali. "Vino..." Rea menggumam. Vino langsung berlari kearah Rea, memeluknya erat. Dalam pelukan Vino, Rea bisa merasakan kenyamanan yang selama ini ia dapatkan saat bersama lelaki itu. Ia lega, senang sekaligus bersyukur bisa melihat dan memeluk Vino seperti dulu. Namun juga ketakutan saat ia ingat bahwa statusnya sekarang adalah istri sah Adrian. "Syukurlah, kau baik-baik saja," gumam Vino semakin mempererat pelukannya. Rea terdiam. Masih memeluk Vino, tatapan matanya ia arahkan pada wajah kedua orangtuanya yang berdiri tak jauh di belakang Vino. Mereka berdua menggeleng, saat tatapan Rea seolah mengisyaratkan sebuah pertanyaan, apa Vino tahu? Rea membuang napas lega. "Kenapa kau kesini tanpa memberitahuku lebih dulu?" Rea melepas pelukannya, memasang wajah cemberut seraya mengarahkan tatapan kesal ke mata coklat Vino. Vino tersenyum. Mengacak-ngacak rambut hitam Rea. Ia telah berhasil membuat gadis yang dicintainya itu terkejut. Meski sebenarnya, Vino datang ke Indonesia karena ia merasa khawatir pada Rea. Selama ini, setiap kali Rea pulang ke Indonesia, tak pernah sekalipun komunikasi mereka terputus. Baru kali ini saja. Makanya saat terakhir kali Rea menghubunginya dan memutuskannya tiba-tiba, Vino merasa ada yang tidak beres. Ia tidak bisa fokus pada pekerjaannya di Swiss. Pikirannya selalu saja terfokus pada Rea. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Sudah lama juga ia tidak pulang ke negara asalnya. "Yang pertama karena aku khawatir padamu, dan yang kedua...mungkin aku ingin menikmati liburan disini," Vino berkata enteng. Rea mendelik. "Pekerjaanmu di Swiss menumpuk, dan kau bilang ingin menikmati liburan?" Vino mengangguk mantap. "Aku sudah mengurus semuanya sebelum memutuskan kesini. Aku ingin memaksimalkan waktu-waktu ini untuk mengajakmu liburan. Sekaligus, mengobati rasa kangenku pada tanah air, karena sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak pulang." Rea tidak bisa berkata-kata. Ia tidak tahu kenapa Vino tiba-tiba mempunyai keinginan semacam ini. "Ayo kita kesana. Mama-papamu sudah sejak tadi menemaniku, mendengarkan banyak cerita dariku." Vino menggamit lengan Rea, membawa wanita itu ke ruang tamu, dimana Hary dan Seli berada. Bersambung ... AdDina Khalim
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN