Cinta Sejati Adrian - 7

2347 Kata
Rea pasrah saja, ia mengikuti langkah Vino dengan perasaan tak menentu. Bagaimana jika Vino tahu kebenarannya, bahwa sekarang dirinya sudah menikah? Dan bagaimana caranya ia menjelaskan bahwa pernikahan ini hanya sebatas status? Bahwa cinta mereka harus bersedia menunggu, hanya soal waktu mereka akan bisa bersama lagi. Tapi apakah Vino bisa menerima semua itu? Terlebih dengan karakter Vino yang sangat Rea tahu? Hary mungkin masih bisa berpura-pura tegar atas sandiwara yang mereka mainkan, tapi tidak untuk Seli. Berkali-kali Seli sempat terlihat menyeka airmata meski tanpa sepengetahuan Vino. "Ma, Pa. Lihat, Rea sudah datang," ujar Vino riang saat langkahnya hanya berjarak satu meter dari kedua orangtua Rea. Memang, Vino sudah sangat akrab dengan Hary dan Seli. Bahkan memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa. Sejak masih SMA dulu, Vino sering sekali berkunjung ke rumah Rea. Menghabiskan banyak waktu di rumah ini, bukan hanya untuk menemui Rea, tapi terkadang menemui Seli dan bercakap-cakap dengan Hary. Vino sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri. Hary mengangguk, memaksakan senyum, tapi Seli tidak bisa. Ia lebih banyak tertunduk, tidak sanggup mengikuti sandiwara yang mereka mainkan. "Ohya, Pa, selama Vino disini, Vino minta ijin buat tinggal di rumah ini ya?" pinta Vino tiba-tiba. Seketika saja, pandangan Hary langsung ia arahkan pada Rea. Membuat Rea dibuatnya gugup. Buru-buru Rea menarik lengan Vino. "Kau ini apa-apaan sih, kau kan punya rumah sendiri." "Rumahku itu sudah lama sekali tidak ditempati. Kau kan tahu sendiri semua keluargaku pindah ke Swiss. Kalau aku pulang kesana, aku pasti akan kesepian. Dan lagi, aku kesini kan hanya ingin melihatmu. Jadi untuk apa aku harus jauh-jauh darimu?" Rea semakin gelagapan, wajahnya pias. Ekor matanya sesekali melirik Hary dan Seli. Mencari jalan keluar, tapi mereka menggeleng. Sia-sia, satu-satunya keputusan ada ditangan Rea. Tapi belum sempat Rea membuka suara, Vino sudah lebih dulu bersuara. "Ma, aku lapar nih. Mama ada makanan enak tidak?" Vino beringsut mendekati Seli, meninggalkan Rea yang diliputi perasaan gelisah. Tanpa menunggu jawaban Seli, Vino langsung menggamit lengan Seli untuk diajaknya ke dapur. Seperginya Vino dan Seli, Rea membeku. Badannya lemas seketika, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Membiarkan Vino tinggal disini, sama artinya dengan membongkar rahasianya sendiri. "Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan," gumam Rea mulai meneteskan airmata. Ketakutan sudah menyusup ke dalam hatinya. Ia tidak bisa membayangkan reaksi Vino jika sampai laki-laki itu mengetahui semua kebenarannya. Saat itulah Hary mendekat. Dengan suara bergetar, ia berkata, "maafkan Papa, Sayang. Maafkan Papa..." hanya itu. Lantas berlalu meninggalkan Rea yang membeku di ruang tamu. Hary tak sanggup melihat pemandangan itu. Ia lebih memilih untuk melarikan diri ke kantor, menangis sepuasnya disana. Toh, sejak tadi, keberangkatannya ke kantor sempat tertunda gara-gara kedatangan Vino. Tinggallah Rea sendiri. Meratapi kepedihan hatinya yang menggariskan pilihan sulit. Mencintai Vino dengan posisi sebagai istri oranglain. Bagaimana ia akan menjelaskan semuanya, pada Vino...dan juga pada Adrian. Saat itulah, tiba-tiba sebuah suara menyusup gendang telinganya. "Rea..." Yang dipanggil menoleh cepat, memastikan pendengarannya tidak salah, bahwa seseorang yang memanggilnya memang benar-benar laki-laki itu. "A-Adrian?" Wajah Rea semakin pias. Tanpa memastikan penglihatannya dua kali, Rea sudah memutuskan untuk menghampiri Adrian. "Kenapa kau kesini Adrian?" Rea bertanya setengah berbisik, sesekali melihat kearah ruangan yang terhubung ke dapur. "Maaf, Rea, aku hanya penasaran. Dan sepertinya, kau memang baik-baik saja." Adrian tersenyum. "Aku pikir ada sesuatu yang buruk disini." "Baiklah, kalau begitu kau bisa pulang sekarang. Kau lihat sendiri kan aku baik-baik saja," pinta Rea seraya mendorong-dorong tubuh Adrian untuk cepat bergerak keluar. "Kau kenapa? Tidak ada salahnya kan aku kesini. Aku bisa sekalian menyapa keluargamu." "Tidak perlu Adrian, aku mohon pulanglah." Adrian berkelit. Ia meraih tangan Rea yang masih berusaha mendorong Adrian. "Dengar, aku akan pulang itu pun harus bersamamu. Dan...ayolah, apa salahnya aku berkunjung ke rumah keluargamu." Rea menampakkan wajah cemas sekaligus ketakutan. "Tidak, Adrian, aku mohon kau pulanglah sekarang. Aku akan pulang nanti." Adrian jadi terheran-heran mendapati reaksi Rea yang berlebihan memaksanya pulang. "Ada apa memangnya, Rea. Kenapa kau memaksa sekali, apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Adrian bertanya curiga. Wajah Rea semakin pucat. Baiklah, ini tidak akan berhasil. Adrian justru akan bertanya macam-macam jika dirinya tetap memaksa Adrian pulang. "Kita ke kamarku sekarang," ajak Rea akhirnya yang merasa tidak punya pilihan lain. Ia akan menyembunyikan Adrian di kamarnya. Kali ini Adrian menurut, membiarkan Rea menarik tangannya dan membawanya ke lantai atas, ke kamar Rea. Rea mengunci pintu, memastikan tidak ada yang akan masuk. Membuat Adrian terheran-heran, bersiap menggodanya. "Apa saat di rumahmu sendiri, kau bermaksud memberikan tubuhmu lagi." Rea mendelik mendengar kalimat Adrian. Ia tahu, Adrian sedang menyindir kelakukannya saat terjadi pertengkaran kemarin. Soal memberikan tubuhnya pada Adrian. Tapi Rea tidak ingin membahas itu sekarang. Ada hal lain yang jauh lebih penting dibanding meladeni sindiran Adrian. "Istirahatlah, kau pasti capek." Hanya itu yang keluar dari mulut Rea. Adrian mengangkat sebelah alisnya. "Apa aku boleh beristirahat di ranjangmu?" Rea mengangguk, tidak punya pilihan. Ia bahkan sempat merapikan tempat tidurnya sebelum ditempati Adrian. "Dan kau? Apa kau juga akan beristirahat disini?" Adrian bertanya ragu-ragu. Rea menggeleng. "Aku akan kebawah, menemui mama. Masih ada hal lain yang harus aku kerjakan." "Tapi kau tidak akan menyakitinya seperti kemarin bukan?" Adrian bertanya, teringat kalimat kasar yang Rea katakan kemarin. Adrian juga mulai menaikkan tubuhnya ke atas ranjang. Sekilas Rea sempat terdiam, tapi kemudian ia bersuara kembali. "Tidak, aku tidak akan melakukannya lagi." Adrian kini sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya. Meski saat dirumah, ia sama-sama berbaring, tapi saat Rea ada didekatnya rasanya berbeda sekali. "Kau duduklah dulu, temani aku sebentar lagi," pinta Adrian penuh harap. Rea menurut, duduk di sisi ranjang, menatap Adrian sambil memaksakan seulas senyum. "Aku sudah duduk sekarang. Tapi aku harus segera ke bawah dan aku minta kau tetap disini sampai aku kembali." Adrian menyunggingkan senyum. Mengangkat tangan kanannya, menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya, membentuk sebuah lingkaran dan berkata, "oke". Tapi baru saja Rea berhasil membuat Adrian berjanji untuk diam di kamar, saat itulah sebuah suara mengejutkan Rea. Seseorang sedang mengetuk pintu kamarnya sekarang! Jantung Rea berdetak kencang, raut kepanikan tergambar jelas diwajah Rea. Siapa disana? Mungkinkah itu Vino? Dan bagaimana dengan Adrian? Apakah semuanya akan terbongkar saat ini juga? Melihat Rea hanya mematung, Adrian mulai beringsut ke tepian ranjang, menapakkan kaki dan mulai berjalan, bermaksud ingin membuka pintu. Tapi untunglah Rea berhasil menguasai dirinya kembali, dan langsung menangkap Adrian yang semakin dekat melangkah ke daun pintu. Rea menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya menegang. "Ada ap–?" Rea memotong pertanyaan Adrian, membekap mulutnya cepat. Lantas menyeret Adrian agar kembali ke ranjang. Rea memberi isyarat untuk tidak bicara dan meminta Adrian untuk kembali berbaring. Adrian ingin sekali protes tapi tak kuasa, demi melihat wajah Rea yang semakin kuyu dan pucat. Adrian menurut, dengan posisi badan berbaring kesamping, matanya tetap awas melihat Rea yang juga ikut berbaring. Posisi mereka berhadap-hadapan. Hati Adrian berdesir hebat, angannya sudah terbang tinggi, merasakan kedekatan yang mereka lakukan sekarang. Meski ia tahu betul, wajah Rea tidak terlihat sebahagia dirinya tapi ia teramat bahagia dengan apa yang dilakukan Rea sekarang. Ini adalah posisi terdekat yang bisa Adrian jangkau. Bahkan Adrian bisa merasakan desiran napas Rea yang tak beraturan, ia bisa melihat setiap lekuk wajah cantik Rea, bisa menerawang kedalam bola mata coklat Rea. Dan semua ini nyata, ada didepannya. Bibir Adrian melukis senyuman manis. Ia sudah terhipnotis oleh pesona Rea. Dan ia berdoa agar selamanya seperti ini saja. Apalagi saat Adrian melihat wajah Rea semakin mendekat, melewati hidung dan bibirnya, menyentuh pipinya sedikit dan berlabuh di telinganya, berbisik lembut. "Tolong...jangan bersuara," pinta Rea lirih. Adrian membeku, dalam hati ia berseru kencang.‘Tidak, aku berjanji tidak akan bersuara.’ Berharap Rea akan melakukan sesuatu yang lebih dari berbisik di telinganya. Tapi sekian detik kemudian, harapan itu melebur. Perlahan Rea menjauh, meninggalkan Adrian yang masih berada diatas awan, membuatnya kembali ke alam nyata. Rea berjalan menuju pintu kamar. Ya Tuhan, Adrian sampai lupa bahwa sejak tadi ketukan pintu itu masih bergema. Belum ada yang membukanya. Dan sepertinya Rea-lah yang bersiap membuka pintu itu, membuyarkan semua harapan indah Adrian. Sebelum meraih gagang pintu, Rea sempat menoleh menatap Adrian. Meletakkan jari lentiknya keatas bibirnya sendiri, memberi isyarat pada Adrian agar tetap diam. Adrian jelas langsung mengangguk, kedua matanya masih dipengaruhi oleh pesona Rea yang sudah mencengkeram hatinya kuat-kuat. Kurang dari sepuluh detik, Rea sudah menghilang dibalik pintu kamar. Bukan hanya melihat siapa yang datang, tapi Rea juga ikut menemui orang itu diluar kamar. Meninggalkan Adrian sendirian, yang mulai sibuk merangkai kembali saat-saat indah yang baru saja ia lewati bersama Rea, meski hanya sesaat. Ya Tuhan! Ternyata itu hanya Bik Asih, asisten rumah tangga keluarganya. Dia-lah yang mengetuk pintu kamar Rea sejak tadi. Yang sudah membuat Rea merasa di ujung tanduk, karena ia pikir itu Vino. "Ada apa, Bik?" tanya Rea selesai menghembuskan napas penuh kelegaan. "Itu, Non. Den Vino meminta Bibik untuk memanggil Non Rea. Dia lagi ada di dapur sama Nyonya." "Baiklah, Bik. Saya akan kesana. Terima kasih." Rea berjalan mendahului Bik Asih. Syukurlah, setidaknya kiamat masih belum terjadi. Rahasianya masih belum terbongkar. Sesampainya di dapur, Rea melihat Vino dan mamanya sedang sibuk membuat sesuatu. Senyuman kecil tersungging di bibirnya. Ia mendekat. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tawar Rea dipenuhi senyuman. Vino menengok. Menautkan kening pura-pura kesal. "Kau darimana saja? Sejak tadi aku dan Mama menunggumu." "Maaf...tadi ada sesuatu yang harus aku lakukan." "Ya sudah, cepatlah kesini. Kau susunlah kertas cupcake diatas loyang itu." Baiklah, sekarang Rea tahu apa yang sedang dikerjakan Vino dan mamanya. Membuat kue muffin. Sejak masih SMA, Vino suka sekali membuat kue semacam ini, dan satu-satunya orang yang dengan senang hati membantu Vino membuat kue itu adalah Seli. "Ya ampun...Vino. Kau itu baru datang dari Swiss dan bisa-bisanya kau membuat muffin sekarang, apa kau tidak lelah?" "Sama sekali tidak. Asal kau tahu saja, selama aku di Swiss, satu-satunya hal yang paling aku rindukan saat berada di Indonesia adalah membuat kue bersama mamamu. Sudah lama sekali aku menginginkan hal ini." "Iya, Vino. Tapi kan itu bisa dilakukan nanti-nanti, kau harusnya istirahat dulu." "Ssstt...jangan bersuara lagi, kau kerjakan saja tugasmu disana." Rea bungkam. Sepertinya ini tidak asing bagi Rea. Ya, ada kemiripan juga antara Vino dengan Adrian. Sama-sama berlaku seenaknya sendiri, dan tidak suka diprotes. Diam-diam Seli tersenyum. Suasana ini benar-benar membuat dirinya bahagia, untuk sejenak melupakan deritanya. Rasanya waktu seperti kembali bertahun-tahun yang lalu, saat Vino dan Rea masih sama-sama SMA. "Aku sudah sibuk sejak tadi bersama Mama Seli, menyiapkan bahan-bahan dan mencampurnya menjadi adonan seperti sekarang, dan kau hanya disuruh menyusun kertas cupcake saja protes. Dasar keterlaluan," omel Vino seraya menuangkan campuran telur kedalam mangkuk berisi terigu yang sedang diaduk-aduk Seli. Rea memonyongkan bibirnya, kenapa Vino jadi mengomel begini. Tapi meski begitu, Rea selalu menurut, meraih gulungan kertas cupcake yang masih dibungkus plastik. Membukanya kasar, mulai menyusunnya satu persatu diatas loyang datar. Diam-diam Vino tertawa melihat tingkah cemberut Rea, ia menyikut lengan Seli, memberitahu bahwa ia sukses membuat Rea kesal. "Oh iya, aku sampai lupa, aku membawa beberapa bungkus raclette dari Swiss. Cocok sekali dicampurkan ke adonan ini. Tunggu sebentar aku ambilkan dulu." Vino menepuk dahinya sendiri. Setelah meminta izin pada Seli, ia buru-buru keluar dapur. Menuju ke ruang tamu, dimana kopernya berada. Seperginya Vino, suasana dapur menjadi hening, hanya terdengar suara mixer yang terus berdengung. Seli tak berani membuka mulut, meski pekerjaannya sudah digantikan oleh mixer tadi, ia lebih memilih menatap motor mixer yang terus berputar, mengaduk-aduk adonan sampai rata. Sementara Rea juga membisu. Ia berdiri memunggungi Seli, tangannya masih sibuk menata cupcake keatas loyang, tapi sebentar lagi pekerjaannya akan selesai. Ia tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. "Adrian ada di kamarku sekarang," satu kalimat akhirnya meluncur dari bibir Rea. Setidaknya ibunya harus tahu kalau Adrian juga sedang ada di rumah ini. Seli melepaskan tatapannya dari mixer kemudian berbalik, menatap punggung Rea. "Ba-bagaimana bisa?" nada suara Seli terdengar kaget. "Aku juga tidak tahu, tapi saat aku memutuskan kesini, Adrian sedang ada di rumah. Dan saat papa menelepon, Adrian-lah yang mengangkat telepon itu. Mungkin saja ia berpikir kalau terjadi sesuatu yang buruk di rumah ini, hingga dia memutuskan untuk menyusulku." "Tapi bagaimana mungkin mereka berdua berada di rumah yang sama. Jika Vino–" "Sejak tadi aku juga memikirkan itu. Aku sudah lebih dari khawatir membayangkan kemungkinan terburuk itu akan muncul. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa." Seli membisu. Hatinya terus berkedut tidak karuan. Bagaimana mungkin mereka bersandiwara di waktu dan tempat yang salah. Adrian dan Vino berada di rumah ini, saat ini juga. "Maafkan Mama, Sayang," sama seperti Hary, Seli juga mengatakan kalimat itu. Hanya meminta maaf. Rea sudah berusaha tegar menghadapi ini. Ia tidak bersuara untuk sekedar bilang, 'tidak apa-apa' namun juga tidak membalas dan berkata, 'semua ini salah kalian'. Rea sudah memutuskan untuk menerima semuanya. Ia tidak akan membahas kesalahan orangtuanya lagi, namun juga tidak bersedia untuk cepat-cepat memaafkan mereka. Lima menit kemudian, dapur itu masih membisu. Tak ada yang berusaha memulai percakapan lagi. Mereka lebih memilih untuk sibuk menyelesaikan bagiannya. Sampai kemudian, Rea merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dengan gerakan tiba-tiba, Rea meletakkan kertas cupcake yang akan disusunnya sembarangan. Rea berjalan cepat keluar dari ruang dapur. Seli yang menyadari kepergian Rea yang tiba-tiba segera mematikan mesin mixer, menyusul langkah anaknya. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Rea pergi dengan terburu-buru? Jika Vino hanya ingin mengambil raclette seperti yang ia bilang tadi, seharusnya ia sudah kembali beberapa menit yang lalu. Jarak dapur dan ruang tamu tidak sejauh itu jika sampai lima menit kemudian Vino masih belum kembali. Atau jangan-jangan...kemungkinan terburuk yang Rea pikirkan adalah...kebiasaan Vino. Ya, kebiasaan Vino. Entah dimanapun, Vino sering sekali memberi Rea kejutan. Berupa makanan, benda atau sesuatu apa saja. Saat masih di Swiss, Vino sering datang diam-diam ke apartemennya hanya untuk menaruh kejutan itu. Saking hafalnya dengan kebiasaan Vino, Rea sampai tidak bisa merasakan sensasi kejutan dalam kejutan yang diberikan Vino. Dan jika pikirannya benar, maka sangat mungkin kalau alasan Vino tidak cepat kembali ke dapur adalah untuk memberi Rea kejutan. Ya, meletakkan sesuatu di kamar Rea. Ya, kamar Rea! Kamar yang saat ini juga sedang ditempati Adrian. Ya Tuhan, bagaimana mungkin semuanya akan terbongkar sekarang. Ia masih belum siap, dan mungkin saja ia tidak akan pernah siap. Rea sudah separuh berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, tapi rasanya tak kunjung menemukan pangkalnya. Dibelakangnya Seli sudah berusaha mengimbangi langkah Rea yang tergesa. Ia ingin sekali bertanya, apa yang terjadi sekarang tapi rasanya itu akan sia-sia mengingat betapa tergesa-gesanya Rea berjalan. Dan saat langkah Rea berhasil menuju puncak tangga, ia melihat pintu kamarnya sudah terbuka. Ya Tuhan! Rea berlari menuju kamarnya yang berjarak kurang dari tiga meter dengan napas memburu. Pikiran terburuknya sedang berkuasa. Menyiksa jantungnya yang berdegup semakin cepat. Dan lihatlah... Rea berdiri diambang pintu, peluh membasahi wajah dan lehernya. Deru napasnya lebih kacau dari napas pelari maraton yang baru selesai mencapai garis finish. Mata coklatnya membesar, tertuju pada sesosok laki-laki yang dilihatnya sekarang. Bersambung ... AdDina Khalim
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN