Ya Tuhan...itu Vino! Tubuh Rea terpaku menatap laki-laki itu. Pikirannya kacau layaknya benang kusut yang tidak tahu lagi bagaimana mengurainya.
Benarlah apa yang Rea pikirkan. Dibawah kaki Vino sudah terjatuh bungkusan kecil, pasti itulah kejutan yang akan Vino letakkan di kamar Rea. Sementara dibelakang Rea, Seli tak kalah berdebar, sebuah bom atom baru saja mendarat di kepalanya, memporak porandakan semua pikiran jernihnya. Ia membekap mulutnya sendiri tak kuasa menyaksikan apa yang dilihatnya sekarang.
Mata coklat Vino...hanya tertuju ke satu arah. Dan arah itu adalah...arah ranjang Rea, dimana Adrian sedang tertidur lelap. Adrian pasti kelelahan karena pembersihan kamarnya beberapa saat lalu. Dan lihatlah wajah lelap Adrian, begitu tenang dan meneduhkan. Itu yang Rea lihat. Tapi tentu saja berbeda dengan apa yang dilihat Vino. Matanya nanar menatap sesosok lelaki tak dikenal yang lancang sekali tidur di ranjang kekasihnya.
Baiklah, Vino memang tidak pernah ke rumah ini lagi selama tujuh tahun terakhir, tapi bukan berarti, ia tidak bisa ingat dimana letak kamar Rea. Saat masih SMA, ia banyak menghabiskan waktu bersama Rea disini, mengerjakan PR bersama, tertawa, berbagi cerita bahkan bertengkar pun masih di tempat yang sama. Ia sangat tidak rela, kamar penuh kenangan ini, tiba-tiba saja ditempati oleh sesosok laki-laki asing yang dengan enaknya tidur dengan sangat nyenyak.
Seli sudah tak bisa lagi membendung perasaannya yang kacau. Ia sudah mengumbar tangisan beberapa saat lalu, membuat tatapan nanar Vino teralihkan. Berganti menatap Rea dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan, apa yang terjadi? Dan siapa laki-laki asing ini?
Rea membeku, suaranya tercekat ditenggorokan. Ia tidak tahu harus menjelaskan darimana. Wajah kuyu dan pucat Rea terlihat bingung. Dan entah karena suara tangisan Seli yang terlanjur heboh atau memang aura di ruangan itu sudah tidak mengenakkan sampai-sampai membuat tidur nyenyak Adrian terganggu.
Samar-samar mata Adrian menyipit. Mengerjap sebentar guna membiasakan cahaya yang mulai menembus kedalam retina matanya. Kelopak matanya baru terbuka sempurna sepuluh detik kemudian. Orang pertama yang dilihatnya adalah raut penuh ketegangan sekaligus ketakutan yang terpancar jelas di wajah Rea. Wanita itu sedang berdiri diambang pintu. Menatap seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari ranjangnya yang juga sedang menatap Rea, entah dengan tatapan seperti apa, Adrian tidak bisa melihatnya. Dibelakang Rea, Adrian menangkap sesosok bayangan dari balik punggung Rea, itu ibu mertuanya, sedang terisak dibelakang Rea. Demi menjawab kebingungan yang ia rasakan, sebuah suara meluncur dari bibir Adrian. "Rea, ada apa ini?" tanyanya bingung. Tubuhnya sudah separuh duduk.
Rea menoleh cepat, menatap mata hitam Adrian yang menyiratkan kebingungan. Diikuti dengan tengokan dari Vino. Sekarang dua pasang mata sedang mengarah pada Adrian. Tapi dari situ, Adrian bisa melihat tatapan mata lelaki yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Tatapannya itu...sama seperti tatapan matanya di hari Adrian mengetahui rahasia besar Rea dan keluarganya. Tatapan mata penuh kemarahan, kekecewaan juga kebingungan yang berbaur jadi satu. Demi mengingat itu, sebuah pertanyaan memenuhi pikiran Adrian.
Rea menggeleng-gelengkan kepalanya. Air bening turun begitu saja dari sepasang mata coklat Rea. Inilah saatnya, inilah saat dimana rahasia besarnya akan terungkap.
Rea, ada apa ini? Adrian berniat mengulang pertanyaannya, tapi sepasang tangan sudah lebih dulu mencengkeram kerah bajunya. Tatapannya nyalang, bersiap mendaratkan bogem mentah di wajah Adrian.
"Tidak, Vino. Jangan lakukan itu!" Rea berteriak, berlari menghampiri Vino yang siap meninju Adrian. Rea menahan lengan Vino kuat-kuat. Adrian tak berkutik. Ia masih belum bisa berpikir jernih. Beberapa saat yang lalu Adrian masih bermimpi indah bersama Rea, dan tiba-tiba mimpinya terputus karena mendengar suara tangisan. Saat bangun, tahu-tahu sudah ada tiga orang yang melihatnya tidur. Dan sebelum Adrian mengumpulkan kesadarannya, tahu-tahu ada lelaki asing yang bernafsu sekali ingin memukulnya. Jadi, ada apa sebenarnya? Dan Rea...kenapa wajahnya terlihat menyedihkan sekali. Lalu...Vi-no? Ah, Rea pasti mengenal lelaki di depannya ini.
"Aku mohon, Vino. Jangan lakukan ini, lepaskan tanganmu," bujuk Rea sembari mengguncang lengan Vino, menyuruh laki-laki itu segera melepaskan cengkeramannya di kerah baju Adrian.
"Rea...ada apa ini?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Adrian. Sorot matanya dipenuhi kebingungan. Ia memang sengaja tidak membalas apa yang dilakukan Vino, karena ia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kau malah bertanya? Seharusnya aku! Siapa kau, berani-beraninya kau tidur di kamar kekasihku," Vino sudah kehilangan kendali. Suaranya menggelegar. Kecemburuan sudah menguasai hatinya.
Deg! Seketika hati Adrian bagaikan diangkat tinggi-tinggi untuk kemudian dihantam keras-keras dan dijatuhkan begitu saja. Jadi...lelaki asing yang bersiap menghajarnya ini adalah kekasih Rea. Inikah rahasia lain yang Rea sembunyikan darinya, rahasia yang jauh lebih besar efeknya dari rahasia Rea sebelumnya.
"Aku suaminya!" Adrian memang baru saja hancur, tapi mulutnya masih mampu mengatakan kebenaran itu. Adrian sempat melihat mata coklat lelaki didepannya melebar saat mendengar kalimatnya barusan. Ya, setidaknya...jangan hanya hatinya saja yang hancur, melainkan hati lelaki ini juga harus ikut hancur.
"b******k! Apa yang baru saja kau bilang. Sepertinya kau memang lelaki b******n yang perlu aku beri pelajaran." Vino semakin diliputi kemarahan. Rea tak kuasa lagi menahan lengan Vino. Ia tidak bisa menghentikan pukulan bebas Vino yang mendarat tepat di rahang Adrian.
Seketika saja Seli berteriak histeris, berlari menyusul Rea. Berusaha menghentikan amukan Vino. "Vino, Mama mohon, jangan lakukan itu," Seli masih histeris. Suaranya serak, ditenggelamkan oleh tangisan. Vino jelas tidak mengindahkan kalimat Seli. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya ia harus memberi pelajaran pada lelaki b******k yang sudah sangat lancang mengaku bahwa dia suami Rea. Omong kosong macam apa itu!
Dengan susah payah, Rea mengumpulkan tenaganya yang masih tersisa. Ia tidak bisa membiarkan Vino bertindak diluar kendali. Ia harus menghentikannya. Saat Vino bersiap melayangkan tinju keduanya, dengan gerakan cepat Rea melindungi Adrian, memeluk laki-laki itu erat. Membuat gerakan tangan Vino terhenti tepat sebelum dia menyentuh tengkuk Rea.
Ada apa ini? Kenapa Rea justru melindungi laki-laki b******n itu? batin Vino terheran-heran. Amarahnya mulai tergantikan oleh rasa bingung.
"Rea, apa yang kau lakukan!" Vino bertanya setengah membentak. Ditariknya tubuh Rea dari pelukan Adrian. Dan mulai diraihnya bahu Rea dengan gerakan kasar. Kali ini, Vino berhasil berhadap-hadapan dengan Rea. Menatapnya tajam. "Kenapa kau malah membelanya? Apa maksudnya? Siapa dia!" Masih dengan bentakan, Vino memberondongi Rea dengan pertanyaan.
"Di-dia...suamiku, Vino."
"Apa?!! Lelucon apa yang kau mainkan sekarang. Ini benar-benar tidak lucu!"
"Ini bukan lelucon, Vino. Se-sebenarnya...aku sudah menikah." Rahasia besar itu luruh begitu saja.
"Apa!!!" Vino menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap indera pendengarnya. Cengkeraman tangan Vino di bahu Rea melemah. Jantungnya serasa berhenti berdetak, dan ia tak bisa merasakan apa-apa, mati rasa. Apa mungkin ia sedang bermimpi buruk, sehingga membuat napasnya kian sesak.
Vino memundurkan langkah, badannya lemas seketika. Ia jatuh terduduk. Buru-buru Rea memeluk Vino, mengalungkan tangannya ke leher Vino dan menangis tersedu-sedu. "Aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Rea di sela-sela tangisannya.
Vino sudah mati rasa. Tatapan matanya kosong. Ia tidak bisa mendengar apa yang Rea katakan. Hatinya sudah pecah sekarang, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
"Semua ini salahku, Rea sama sekali tidak bersalah," kali ini suara Seli yang mencoba menyusup ke telinga Vino. "Tolong dengarkan dulu penjelasan Rea, Vino. Agar kau tidak salah paham padanya apalagi berpikir kalau dia sudah mengkhianatimu." Tapi sepertinya sia-sia saja. Tidak ada yang tersisa untuk Vino dengar. Hatinya sudah terluka dalam, lebih dalam dari sekedar luka patah hati.
Rea menarik tubuhnya, menatap mata Vino yang mulai meneteskan airmata. Ia menyentuh wajah Vino dengan tangan bergetar. Dihadapkannya wajah itu untuk bersitatap dengannya. "Vino, lihat aku. Aku masih mencintaimu, dan hanya mencintaimu. Semua yang kau dengar barusan tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya."
Akhirnya Vino tersadar dari kebekuannya. Ia tersenyum sinis seraya menyingkirkan tangan Rea dari wajahnya. "Apa kau tahu apa yang aku pikirkan sekarang?" suara Vino terdengar lemah.
"Vino...aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati cinta kita, aku hanya–"
"Apa kau bilang, cinta kita?" Kali ini Vino tertawa, meski tawa itu terlihat menyedihkan. "Kau diam-diam menikah dengan laki-laki lain dan kau masih bisa mengatakan tentang cinta kita."
"Aku mohon, Vino. Dengarkan penjelasanku dulu. Pernikahan ini–" Rea menghentikan kalimatnya saat melihat Vino lebih memilih bangkit dari duduknya daripada mendengarkan penjelasannya.
"Seharusnya aku menyadari semua ini. Menyadari kalau kisah cinta yang kita bangun selama tujuh tahun terakhir, sama sekali tidak ada artinya bagimu,” lanjutnya dengan nada penuh penekanan. Tatapan matanya menghujam sampai ke jantung Rea. Membuat wanita itu merasa begitu bersalah.
"Vino...aku benar-benar minta maaf. Tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku menikah bukan untuk mengkhianatimu tapi karena terpaksa. Kau seharusnya tahu kalau aku sangat mencintaimu."
Vino menggeleng-gelengkan kepala. Apa telinganya tidak salah dengar sekarang. Baru beberapa saat lalu ia mengetahui kebenaran bahwa kekasihnya sudah menikah dengan laki-laki lain. Lalu kenapa sekarang Rea bilang kalau dia sangat mencintai dirinya. "Kau sudah mengkhianatiku, Rea, itulah satu-satunya penjelasan yang aku perlu tahu."
"Tidak, Vino. Jika kau tak percaya padaku, tanyakanlah pada Adrian..." baru kali inilah Rea melihat Adrian lagi, setelah sejak tadi ia abaikan.
Vino tertawa sinis. "Kenapa aku harus percaya padanya? Pada orang yang jelas-jelas sudah membuat hubungan kita hancur."
Rea hampir putus asa, ia tak tahu lagi cara membuat Vino percaya padanya. Ia akhirnya berbalik, berjalan tiga langkah menghampiri Adrian. Dipegangnya lengan Adrian, ditatapnya penuh harap. "Adrian...tolong katakan padanya, katakan kebenarannya. Bahwa pernikahan ini hanya sebatas status saja."
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Adrian setelah sadar dari kebekuannya. Ia menatap wanita di depannya dengan pandangan terluka. Ya Tuhan, Rea sampai lupa bahwa Adrian juga tidak tahu apa-apa soal ini. Adrian sama terlukanya seperti Vino, meski dengan jenis perasaan yang berbeda. Dalam pikiran Rea, pastilah Adrian terluka karena ia tak jujur padanya. Menyembunyikan rahasia besar, bahwa alasan lain yang membuat Rea menangis di hari pernikahan adalah karena ia mencintai lelaki lain. Bahwa pernikahan yang mereka jalankan, selalu dipenuhi rahasia. Meski Adrian sudah teramat baik padanya, ia selalu membalasnya dengan kejadian buruk. Membuat laki-laki itu berhadapan dengan amukan Vino. Membuat Adrian ikut dipersalahkan.
"Adrian...aku...aku juga minta maaf padamu," akhirnya Rea sadar bahwa dirinya juga telah melukai Adrian.
"Berapa kali lagi aku harus memaafkanmu? Apa ada lagi rahasia yang kau sembunyikan dariku? Apa tidak cukup kau memanfaatkanku? Membutuhkan diriku untuk kepentinganmu."
Kepala Rea benar-benar ingin meledak sekarang. Belum tuntas ia menjelaskan semuanya pada Vino, kini Adrian juga menyudutkannya. Baiklah, Rea tak bisa memungkiri kenyataan bahwa Adrian dan Vino memang terluka karena dirinya, tapi diatas itu semua justru dirinya-lah yang paling terluka. Berada dalam posisi sulit ini. Dianggap berkhianat oleh orang yang paling Rea cintai. Di pandang tak tahu malu oleh laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. Lalu siapa yang membuat posisinya menjadi sesulit ini?
"Apa sekarang kau puas?" Rea putus asa, satu-satunya yang tersisa di pikirannya adalah menyalahkan wanita itu. Mamanya sendiri. Ia kembali mendaratkan tatapan benci pada Seli. Sebelum Seli sempat membuka mulut, meski hanya untuk mengatakan maaf, suara Adrian sudah lebih dulu terdengar.
"Kenapa kau menyalahkannya lagi, tidak cukupkah kalimat menyakitkan yang kau ucapkan kemarin padanya. Kenapa sekarang kau melakukan ini, menyalahkan ibumu atas semua yang terjadi."
"Karena memang begitulah kenyataannya. Kau menyalahkanku atas apa yang terjadi sekarang, Adrian. Vino juga menganggapku telah berkhianat padanya. Kalian berdua tidak tahu kebenarannya. Aku juga awalnya tidak tahu apa-apa, tapi dipaksa untuk menjalani semua ini. Jadi, orang yang sangat pantas dipersalahkan memang dia dan suaminya." Tangan Rea bahkan dengan jelas menunjuk-nunjuk Seli.
Seli tak dapat berkata-kata, tangisnya kian banjir. Jangankan untuk membela diri, menatap mata Rea saja ia tidak sanggup.
"Rea, cukup! Kau tidak berhak melakukan semua ini pada ibumu. Berhentilah menyalahkannya," suara Adrian meninggi.
"Karena memang itulah kenyataannya. Dia dan suaminya-lah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Kekacauan ini, semua pertengkaran ini, semuanya disebabkan oleh mereka berdua. Aku juga disini sebagai korban. Kau tidak tahu apa-apa, Adrian."
"Aku tidak tahu apa-apa?" Adrian tersenyum sinis. "Setelah kemarin aku mendengar semua kalimat menyakitkan itu, dan kau masih beranggapan kalau aku tidak tahu apa-apa."
Rea memegang kepalanya sendiri. Jika saja kepalanya sebuah granat, sudah dipastikan kalau itu akan meledak sekarang juga. Ia tidak sanggup lagi menahan semua kepedihan ini. "Baiklah kalau begitu, apapun yang kau pikirkan tentangku, aku sama sekali tidak peduli." Rea akan beranjak pergi, tapi sebelum itu langkahnya sempat terhenti di depan Vino yang sejak tadi memalingkan wajah. "Dan kau Vino, jika kau tidak percaya padaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
Rea meninggalkan ruangan penuh ketegangan dengan napas yang kian sesak. Dengan apa yang masih tersisa, Rea memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Persetan dengan semua masalah yang ia hadapi. Semua orang menyalahkannya. Tidak ada lagi yang perlu ia buktikan, semuanya akan sia-sia saja.
"Rea, tunggu!" Akhirnya Seli berhasil mengumpulkan suara, berusaha menahan langkah Rea yang semakin jauh meninggalkan kamar. Adrian buru-buru menyusul Seli, menahan mertuanya agar tidak perlu mengejar Rea. Wanita itu benar-benar kejam, memperlakukan ibunya sendiri seperti sampah. Entah kenapa, Adrian kembali diliputi kebencian. Sepertinya Rea bukan wanita yang pantas untuk ia cintai.
"Tidak, Adrian. Lepaskan aku, jangan biarkan Rea pergi. Benar kata Rea, dia sama sekali tidak bersalah." Seli meronta-ronta, meminta Adrian membiarkan dirinya mengejar anaknya. Ia akan meminta maaf dan mengakui bahwa semua yang terjadi sekarang adalah kesalahannya.
"Tidak, Ma. Biarkan saja dia pergi. Aku tidak akan peduli lagi padanya."
Seli berhenti meronta, menatap Adrian sayu. "Kau jangan berkata seperti itu, Adrian. Dia sama sekali tidak bersalah. Kau tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya."
"Aku tahu, Ma. Aku mendengar semuanya saat Mama berkunjung ke rumah. Aku tahu tentang pengkhianatan itu, tentang anggapan Rea bahwa kalian menjualnya padaku."
"Tidak, Adrian. Masih ada kebenaran lain yang belum kau ketahui." Demi mengingat itu, Seli mencari sosok Vino yang masih terpaku tak jauh dari tempatnya berdiri. Vino juga perlu tahu kebenaran yang sesungguhnya itu. Ia meminta Adrian untuk kembali ke kamar, mendekati Vino yang masih terpaku didalam sana.
"Kalian berdua harus tahu, kebenaran sesungguhnya dari apa yang terjadi sekarang. Tolong dengarkanlah ceritaku," Seli menatap Adrian dan Vino bergantian. Bersiap menceritakan asal mula kekacauan ini terjadi.
Bersambung ...
AdDina Khalim