Adrian diam membeku, ia merasa tidak berguna. Setelah semua yang diceritakan Seli pada dirinya dan juga pada kekasih Rea, ia akhirnya tahu kebenaran sesungguhnya. Bahwa Rea memang tidak tahu apa-apa dari awal, bahwa sesungguhnya sebelum ia dipaksa menikah, Rea sudah menjalin hubungan dengan laki-laki itu selama bertahun-tahun. Bahwa Rea melakukan ini semua bukan karena keinginannya. Justru dialah orang yang lebih banyak menanggung kepedihan.
Adrian memejamkan mata, menahan airmata yang akan luruh dari balik kelopak mata. Ia memang tidak tahu apa-apa. Ia hanya melihat akibatnya tanpa mau tahu sebabnya. Ia hanya menyalahkan Rea, tanpa memberi Rea kesempatan untuk menjelaskan. Dan ia sudah berhasil membuat Rea jengah, hingga memutuskan pergi entah kemana.
Ya Tuhan...kenapa semuanya jadi serumit ini? Perasaannya benar-benar sedang dipermainkan. Ia mulai mencintai Rea, kemudian membencinya, mencintainya lagi dan membencinya lagi sampai kemudian ia tahu kebenarannya. Dan bisa dipastikan kalau setelah ini ia berjanji tidak akan menaruh benci lagi pada wanita itu, meskipun perasaannya sama sekali tidak mungkin terbalaskan, tapi ia akan tetap mencintainya dalam diam. Membuatnya bahagia meski apapun yang terjadi.
Tapi yang paling penting sekarang adalah mencari tahu keberadaan Rea. Ya, kemana Rea pergi? Dan dimana ia harus mencari Rea?
Sementara Vino bergegas meninggalkan kamar, setelah Seli merampungkan ceritanya. Ia sudah bersiap menuju ke suatu tempat. Sekarang Vino merasa sangat menyesal, menuduh Rea sudah mengkhianatinya. Padahal Rea-lah yang seharusnya merasakan itu, dikhianati oleh orangtuanya sendiri. Ya, mendengar cerita Seli, Vino jadi membenarkan kalimat Rea tadi. Bahwa Rea memang tidak pantas disalahkan. Bahwa orang yang paling pantas disalahkan adalah orangtua Rea sendiri, Seli dan Hary. Bagaimana mungkin mereka memutuskan sesuatu tanpa melibatkan dirinya.
Vino berusaha menahan perasaannya kuat-kuat. Ia ingin melampiaskannya pada seseorang. Untuk itulah Vino buru-buru keluar, berjalan tergesa keluar gerbang, menyetop taksi yang lewat. Lantas memberitahu sebuah tempat yang mau ia tuju.
Setengah jam kemudian, Vino sudah sampai ke tempat itu. Ke sebuah gedung perkantoran yang lantainya menjulang tinggi. Ia sengaja kesana untuk menemui Hary. Ada banyak pertanyaan yang mau ia lontarkan pada Hary, tentu saja terkait Rea. Kenapa saat keputusan sepenting itu, Vino sama sekali tidak diberitahu. Padahal ia yakin, jika alasan Hary menikahkan Rea dengan laki-laki asing itu hanya soal bisnis. Ia jelas bisa membantu. Toh, keluarganya juga memiliki perusahaan besar dan tentunya juga memiliki pengaruh yang kuat.
Pintu ruangan dibuka paksa, membuat Hary yang sejak tadi sedang menyandarkan dahinya diatas kedua tangan langsung mengangkat wajah. Ia tidak nampak terkejut melihat kedatangan tiba-tiba Vino. Hary justru meminta sekretarisnya pergi, yang sejak tadi terus saja menahan dan melarang Vino masuk, membiarkan Vino menemuinya.
"Apa maksudnya ini, Om!" Vino sudah siap meledak, ia tak lagi memanggil Hary dengan sebutan papa.
"Jadi...kau sudah tahu," balas Hary lirih. Matanya sendu, nampak jelas gurat kesedihan di wajah lelahnya.
"Dan kenapa Om tidak mengatakannya padaku. Aku bisa menyelamatkan perusahaan ini tanpa perlu menjual Rea pada orang lain. Kenapa Om tidak bicara dulu padaku!"
"Aku sempat memikirkan itu, untuk menceritakan masalah ini padamu. Tapi semuanya berjalan begitu cepat. Saat itu para pemegang saham meminta untuk diadakan rapat agar bisa meng-likuidasi perusahaan. Untunglah pada saat itu kuorum rapat pertama tidak tercapai. Hasilnya mereka harus melakukan rapat kedua. Dan saat itulah aku melakukan ini, menikahkan Rea dengan Adrian, karena pada saat itu, pengaruh perusahaan ayah Adrian jauh lebih besar dari apapun. Jika aku menghubungimu dan mengatakan semuanya, butuh waktu lama untuk bisa merubah keputusan mereka, sementara waktu yang dijadwalkan untuk rapat kedua sudah dekat.”
"Tidak," Vino cepat-cepat menggeleng. "Aku tidak bisa menerima alasan itu. Dan aku akan mengerahkan semua kemampuanku untuk membuat Rea terlepas dari laki-laki itu. Om tunggu saja, aku akan melakukan apapun dan membuat Rea kembali padaku." Selesai mengatakan itu, Vino bergegas keluar dari ruang kerja Hary. Hary bisa merasakan kepedihan di hati Vino, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Jika memang Vino berhasil melakukan apa yang dikatakannya, ia akan dengan senang hati menerima Vino sebagai menantunya. Setidaknya itu akan melepaskan semua rasa bersalahnya pada Rea.
***
Terhitung sudah satu jam Adrian meninggalkan rumah keluarga Rea, dan wanita itu masih belum juga ditemukan. Ia sudah mencarinya di rumah dan di kafe tempat kemarin Adrian bertemu Rea, tapi tidak ketemu.
Baiklah, Adrian menyerah. Ia akan kembali dulu ke rumah keluarga Rea. Barangkali Rea sudah pulang kesana. Atau jika belum, ia bisa menanyakan pada mertuanya, ditempat mana ia seharusnya mencari Rea. Ya, bukankah orangtua Rea pasti tahu banyak soal anaknya. Saat itulah, saat Adrian hampir sampai di rumah mertuanya, ia melihat kekasih Rea baru turun dari taksi dan bergegas memasuki rumah. Adrian mengekor di belakang, ia tidak mau berurusan dengan laki-laki itu. Lebih baik ia menjaga jarak sejauh mungkin daripada hatinya selalu dipenuhi kecemburuan jika teringat betapa dekatnya Rea dengan laki-laki itu.
"Bagaimana, Vino. Apa Rea sudah ketemu?" Seli bertanya tidak sabar, ia sudah meninggalkan kamar setengah jam yang lalu, menunggu kabar kapan anaknya itu ditemukan.
"Aku tidak sedang mencari Rea, tadi aku ada urusan sebentar," jawab Vino pelan. Wajah Seli terlihat kecewa, tapi hanya sebentar karena dengan segera wajah kecewa itu kembali digantikan dengan raut penuh harap begitu melihat sosok laki-laki yang baru datang, itu Adrian.
"Bagaimana Adrian, apa kau tahu dimana Rea sekarang?"
Adrian menggeleng. "Aku tidak tahu, Ma. Aku mencari di rumah dan di tempat lain, tapi tidak ada Rea disana."
Raut kekecewaan kembali muncul di wajah Seli.
"Aku tahu dimana Rea!" tiba-tiba Vino berseru, membuat dua pasang mata menatapnya penuh harap.
"Dimana, Vino?" Seli bertanya penasaran, berharap anaknya cepat ditemukan.
"Aku akan menjemputnya, Mama tunggulah disini." Vino berpesan. Ia akan berbalik keluar tapi ditahan oleh suara Adrian.
"Aku ikut, kita akan menemukannya bersama-sama."
Vino menatap Adrian dengan pandangan tak suka. "Tidak perlu, aku akan membawanya sendiri. Aku jauh lebih mengenal Rea dibanding siapapun." Kalimat Vino terdengar sinis sekali.
"Tapi aku suaminya, aku berhak tahu keberadaan istriku," Adrian tidak mau kalah.
Mendengar Adrian mengatakan itu, seketika kecemburuan menyergap ke ruang hatinya, membuat wajah Vino memanas. "Kau hanya suami sementara, kau sama sekali tidak ada artinya untuk Rea."
"Terserah kau mau bilang apa, tapi aku tetap suami sah Rea."
"b******k–" Vino sudah terpancing emosi, bersiap memberi pelajaran pada Adrian tapi berhasil dicegah Seli.
"Ini bukan waktu yang tepat bagi kalian untuk bertengkar. Kalian harus cepat menemukan Rea, atau aku sendiri yang akan mencarinya." Adrian dan Vino terdiam, mengatur napas yang sempat tak beraturan. "Vino, biarkan Adrian ikut. Meskipun pernikahan ini sementara, tapi dia tetap suaminya."
"Tapi, Ma–" Vino bersiap protes, tapi langsung dipotong Seli.
"Kau bisa ikut menumpang di mobil Adrian. Kalian berdua carilah bersama-sama. Bukankah akan lebih cepat jika yang mencari dua orang."
Adrian langsung mengangguk, membuat Vino hanya menelan ludah. Bagaimana mungkin ia harus satu mobil dengan laki-laki yang sepertinya berniat ingin merebut Rea? s****n, jika bukan karena mama Seli yang menyuruhnya, Vino tentu akan menolaknya mentah-mentah. "Tanpa bantuan siapapun, aku akan lebih cepat menemukan Rea." Vino sempat bergumam sebelum melangkahkan kaki keluar.
***
"Jadi, mau kemana kita?" Adrian bertanya datar, tangan kirinya sudah menggeser tuas persneling ke posisi drive.
"Kau jalan saja, kalau aku bilang belok baru kau lakukan itu!" jawab Vino sinis.
Adrian membuang napas kesal. Siapa juga yang tidak kesal bersama laki-laki yang akan membuat Rea jauh darinya. Laki-laki yang sudah memenangkan Rea dalam banyak hal. Ia pasti tidak ada apa-apanya dibanding Vino. Tapi mengingat Rea akan bersama laki-laki itu membuat darahnya panas. Rea hanya miliknya. Dia tidak akan memberikan wanita itu pada lelaki manapun, termasuk Vino. Meski ia tahu, Rea mencintai Vino, tapi ia akan berusaha keras untuk membuat Rea jatuh cinta padanya. Ya, ia akan berjuang untuk mendapatkan cinta Rea. Dan itu adalah keinginannya yang sudah terpatri kuat di relung hatinya. Keinginan yang harus menjadi kenyataan.
Vino memang bersedia memberi instruksi untuk Adrian. Tapi dengan sangat tidak ikhlas. Terbukti, saat mobil Adrian disuruh belok, Vino sengaja mengatakannya dengan tiba-tiba, membuat Adrian harus mengerem mendadak. Membuat beberapa mobil di belakang membunyikan klakson. Memaki Adrian kalau dirinya tidak becus menyetir. Adrian tahu, Vino sengaja melakukan itu, tapi Adrian berusaha menahan perasaan kesalnya. Biarlah, yang terpenting sekarang adalah bisa cepat-cepat menemukan Rea.
"Berhenti!!!" Lagi-lagi Vino berkata mendadak. Membuat mobil Adrian hampir ditabrak oleh mobil dibelakang, kembali diklaksok dan diteriaki untuk dimaki-maki. Adrian mengatupkan rahangnya kuat-kuat, mengatur napasnya yang semakin tak terkendali. Ingin sekali ia menghajar laki-laki itu sekarang juga.
Tanpa aba-aba, Vino sudah membuka pintu mobil, berjalan ke satu arah, meninggalkan Adrian sendirian.
"s**l kemana lagi si b******k itu pergi." Cepat-cepat Adrian turun dari mobil, mengejar langkah Vino yang semakin menjauh. Adrian sempat mengerutkan kening heran. Tempat yang dimasuki Vino hanyalah sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari sebuah sekolah SMA. Jadi tak heran kalau beberapa pengunjung yang Adrian temui lebih banyak dari kalangan pelajar.
Meski diliputi kebingungan, Adrian tetap mengikuti langkah Vino. Berharap laki-laki itu tidak menyesatkannya, hanya untuk membiarkan dia menemukan Rea sendirian. Ia juga mempercepat langkahnya. beberapa kali ia berpapasan dengan siswi SMA yang memandangnya dengan tatapan kagum. Mungkin karena melihat ketampanan wajah Adrian.
Saat Adrian memutuskan untuk menghentikan permainan kejar-kejaran itu, saat itulah matanya menangkap sosok wanita yang dicarinya sejak tadi. Ya, itu Rea. Wanita itu sedang berada di taman ini. Sejenak, Adrian terpekur, bagaimana Vino tahu kalau Rea ada disini?
"Rea..." Vino memanggil wanita itu dengan suara bahagia. Rea yang sejak tadi duduk sambil memeluk lutut dibawah pohon besar, mulai mengangkat wajah. Melihat siapa yang memanggilnya tadi.
Wajah sendunya berubah. Ia terlihat marah begitu melihat orang yang memanggilnya barusan adalah Vino, dan dibelakangnya juga ada Adrian. Rea bersiap untuk bangkit dan pergi dari tempat itu. Tapi Vino sudah sampai lebih dulu, menahan lengan Rea, menarik tubuh Rea dalam pelukannya. Dari tempatnya berdiri Adrian bisa melihat itu, hatinya dipenuhi kecemburuan. Perasaannya sangat tidak rela melihat Rea dipeluk oleh laki-laki itu. Wajahnya terasa panas melihat pemandangan itu. Sementara Rea terdiam, isak tangisnya masih terdengar. Sejak tadi, ia memang sedang mengumbar tangisan di tempat ini.
"Aku sudah tahu kejadian sebenarnya. Aku benar-benar minta maaf padamu..." ungkap Vino setelah ia melepaskan pelukannya. Wajah Vino terlihat bahagia, tidak ada lagi raut kekecewaan maupun kemarahan seperti sebelumnya.
Rea tidak menjawab. Pandangan matanya ia alihkan kebelakang Vino, dimana Adrian masih berdiri tak jauh darinya. Melihat sorot mata Rea, Adrian mau tidak mau mendekat, meskipun hatinya terasa panas melihat kedekatan mereka.
"Ayo Rea, kita pulang," ajak Adrian tiba-tiba seraya menggandeng tangan kiri Rea, mencoba menjauhkan istrinya dari Vino.
Vino tidak mau kalah. "Dia akan pulang bersamaku," bantah Vino, tatapannya tajam. Ia menarik lengan kanan Rea, menahan tarikan Adrian. Membuat Rea berada ditengah-tengah, diperebutkan oleh dua lelaki.
"Lepaskan tanganku," pinta Rea akhirnya. Ia bingung kenapa tiba-tiba dua lelaki ini memperebutkan dengan siapa ia akan pulang. Bukankah sebelumnya, mereka berdua sama-sama tidak menginginkannya, menganggap dirinya telah melukai mereka. Dengan berat hati Adrian melonggarkan genggaman tangannya, membiarkan tangan Rea terlepas dari tangannya. Pun sama dengan Vino.
"Apa yang terjadi, Adrian?" Rea bertanya lemah.
"Mamamu sudah menceritakan semuanya. Dan aku tahu kalau kau tidak pantas dipersalahkan seperti tadi, aku minta maaf." Adrian menundukkan wajah, merasa bersalah.
"Dan yang paling penting sekarang, aku ada disini Rea," Vino menimpali. "Aku tidak akan membiarkanmu dimiliki laki-laki lain, meskipun suami sementaramu itu."
Rea mengerutkan kening heran. "Vino, kau tidak boleh berkata seperti itu, Adrian sangat baik padaku."
"Untuk itulah, aku tidak ingin dia terlalu membuatmu terhanyut dalam kebaikannya lantas merebutmu dari sisiku."
Rea merasa tidak enak atas ucapan Vino barusan, membuat Adrian ikut mendengarnya. Selama ini Rea merasa kalau Adrian sama sekali tidak pernah berpikir untuk merebut dirinya dari siapapun. Adrian laki-laki yang baik, itu saja yang ia tahu. Dan bukankah dulu Adrian pernah bilang sendiri kalau laki-laki itu sama sekali tidak mencintai dirinya, jadi seharusnya Vino tidak perlu khawatir.
"Ayo, pulang," Rea akhirnya menarik Vino untuk segera berjalan. Ia takut Vino akan mengatakan sesuatu yang buruk lagi pada Adrian. Vino tertawa menang, diliriknya wajah Adrian yang terlihat kecewa karena Rea lebih memilih menggandeng Vino.
"Apa kau kesini bersama Adrian?" Rea bertanya datar, disela-sela langkahnya keluar dari taman. Vino enggan untuk menjawab, mengingat itu hanya akan membuatnya kesal. "Kita pulang naik taksi saja," jawabnya cepat, sekedar mengalihkan pertanyaan Rea tadi.
Rea mengangguk pelan. Ia membiarkan Vino merengkuh bahunya, meski ia tahu kalau dibelakang ada Adrian. Entah kenapa, Rea merasa tidak enak hati. Meskipun setahu Rea Adrian tidak mencintainya, tapi membiarkan Vino dengan bebas merengkuhnya, itu membuatnya janggal. Bagaimanapun Adrian adalah suaminya sekarang.
"Rea, tunggu!" panggil Adrian saat langkah Rea sudah mendekati jalan. Rea menghentikan langkah, membuat Vino ikut berhenti meski dengan muka masam. "Aku bawa mobil. Kita pulang bersama-sama." Adrian hendak meraih tangan Rea tapi segera ditepis Vino.
"Baiklah kalau kau memaksa," Vino yang menjawab. Ia kembali menggandeng Rea dan berjalan menuju ke mobil Adrian. Rasanya, ikut menumpang di mobil Adrian bagus juga. Setidaknya, ia akan sedikit menunjukkan pada suami sementara Rea tentang seberapa dekat ia mengenal Rea. Vino membukakan pintu mobil belakang untuk Rea. Membiarkan Adrian duduk sendirian di depan. Adrian ingin protes, tapi tak kuasa demi melihat Rea yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang bersama Vino.
Adrian sering memperhatikan keduanya lewat kaca depan mobil, melihat Vino tak jua melepaskan tangannya dari bahu Rea. Membuat Adrian ingin sekali menarik tangan kurang ajar itu lantas mematahkannya. Karena seharusnya tangan Adrianlah yang lebih pantas merengkuh bahu Rea, bukan Vino. Berkali-kali Adrian menghembuskan napas, mencoba mengendalikan emosinya yang ia tahan kuat-kuat.
"Aku tahu kau pasti kesana," Vino memulai pembicaraan. Membuat mata Rea tertuju kearahnya. "Meskipun kita sudah tinggal lama di Swiss, tapi aku yakin kau tidak akan pernah melupakan tempat itu. Sejak kita masih SMA, kau selalu ke taman itu saat sedang marah ataupun sedang bertengkar denganku. Kau selalu menangis dibawah pohon itu." Mata Vino berkilat-kilat senang mengenang kisah SMA-nya bersama Rea, meskipun kenangan yang mereka ceritakan adalah kenangan sedih.
Rea mengangguk, tempat itu sudah memiliki tempat tersendiri dihatinya, apalagi saat hatinya terluka. Mengingat semua kenangan itu, Rea jadi ingin memeluk Vino erat-erat, merasakan betapa waktu berlalu begitu cepat. Dengan usianya yang sekarang menginjak 24 tahun, ia bersyukur Vino masih ada didekatnya sampai sekarang.
Dari balik kemudi, Adrian menelan ludah. Kenangan itu membuat Adrian merasa iri, sekaligus marah. Ia memang tidak ada apa-apanya dibanding Vino jika sudah melibatkan kenangan. Ia tahu, Vino pasti sengaja melakukan itu untuk membuatnya terlihat 'tidak ada apa-apanya'.
Bersambung ...
AdDina Khalim