Keesokan paginya, Adrian tetap berangkat ke kantor seperti biasa. Untuk apa ia berdiam diri di rumah, jika Rea tidak ada disana. Kemarin malam, Adrian memutuskan meninggalkan Rea di rumah orang tuanya, ia terlalu marah mendengar semua pernyataan Rea. Sudahlah, Adrian tidak akan mengingat itu sekarang. Sudah cukup waktu semalaman ia habiskan untuk meratapi perasaannya yang hancur. Ia akan menyibukkan diri dengan bekerja. Ah ya, ia juga harus mengontak pengacara terbaik untuk melawan gugatan cerai Rea. Saat kakinya sudah berhasil menjejaki gedung kantornya, Adrian lebih banyak menatap lurus kedepan. Ia tidak membalas sapaan pegawainya sama sekali. Pikirannya lebih banyak terfokus pada luka hatinya yang semakin dalam ia rasakan. Bahkan saat langkah kakinya melewati meja kerja Dika, Adrian te

