Sepeninggalan gadis yang membeli gaun pengantin tadi, Youra berkeliling butik. Dia berniat meretur beberapa pakaian yang telah lama terpajang namun sedikit peminatnya.
"Nina, coba bawa kemari catatan barang-barang. Sepertinya kita perlu meretur beberapa item," titahnya pada asistennya.
Nina, gadis yang telah bekerja di butik ini semenjak pertama kali dibuka, dengan sigap mengambil buku catatan dan membawanya kepada Youra.
"Ini Bu," Nina memberikan buku itu pada pemilik butik yang tengah memilah-milah beberapa barang yang hendak diretur.
Youra menerima buku tebal itu dan membukanya. Dia kembali memilah-milah barang dan mencatatnya dalam buku. Sesekali dia merapikan susunan baju dan membetulkan letak manekin agar lebih enak dipandang dan menarik perhatian pengunjung.
Sementara salah seorang karyawan mengikutinya dan membantunya membawa baju-baju yang sudah dipilihnya untuk diretur. Sebagian baju-baju itu telah cukup lama di pajang namun tingkat penjualannya sangat minim.
Lebih dari satu jam Youra mengelilingi butik dan memilah-milah baju-baju yang hendak direturnya. Baju-baju yang telah dipilihnya di bawa oleh Nina dan salah seorang karyawan lainnya. Kini butik terlihat lebih lega.
"Nina letakkan di sini baju-baju itu. Aku akan menyortirnya lagi," Youra duduk di kursi di salah satu sudut butik yang berdekatan dengan ruangan yang memang difungsikan sebagai gudang sekaligus tempat istirahat.
Ada sebuah keranjang yang cukup untuk menampung baju-baju tadi.
Tanpa banyak bicara Nina segera meletakkan baju-baju yang dibawanya ke dalam keranjang itu.
"Nin, kamu haus nggak?" Youra menatap asistennya itu dengan jenaka.
"Heleh, bilang aja Ibu pengen es cappucino," Nina terkikik menggodanya.
Youra tertawa. Memang benar dia merasa haus. Meski ruangan ini ber-ac namun tidak membuatnya terhindar dari gerah dan haus setelah mengelilingi ruangan yang cukup luas dengan membawa baju-baju yang tidak ringan bobotnya.
"Pesen es cappucino gih di cafe sebelah. Sekalian ma toast ma salad buahnya Nin. Empat porsi ya." Youra mengulurkan selembar uang ratusan ribu padanya.
Nina menerimanya. "Asiiap Bu," tanpa di minta dua kali, gadis berambut pirang dan curly ala artis korea itu segera melesat keluar dari butik.
Sembari menunggu Nina, Youra kembali sibuk memilah-milah baju-baju yang ada di keranjang. Sebagian besar baju-baju itu di belinya dari suplier di Bangkok, Hongkong dan Seoul. Baju-baju dengan model dan desain kekinian.
Butiknya memang menyediakan pakaian siap pakai maupun custom. Sebagian besar pakaian yang dijualnya merupakan hasil rancangannya. Namun ada juga pakaian yang merupakan produksi dari beberapa pabrik pakaian dari luar negeri.
Hongkong, Seoul dan Bangkok menjadi pilihannya untuk berburu pakaian-pakaian yang hendak dijualnya. Karena produk dari tiga negara itu tengah digandrungi para fashionista di kotanya.
"Ibu, ini es, toast dan salad buahnya." Nina kembali dengan membawa empat cup ice cappucino dan empat porsi toast dan salad buah untuk Youra dan tiga karyawannya.
Youra menerima makanan dan minuman pesanannya. Dengan agak terburu-buru di sesapnya es cappucino itu. Sedari tadi dia memang haus, gerah dan lelah.
Sementara kedua karyawannya bergantian beristirahat sekaligus makan siang. Hanya Nina yang kini menemaninya di gudang.
"Ibu, akhirnya gaun pengantin itu terjual juga," Nina mengungkapkan kelegaan hatinya yang sebenarnya sedari tadi dipendamnya dalam hati.
"Entahlah Nin. Aku tidak tahu harus merasa lega atau justru khawatir," Youra menatap asistennya itu penuh arti.
"Iya, saya mengerti bu. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja," Nina menepuk lengan atasannya itu untuk menghiburnya.
Youra mengangguk setuju dan kembali menyesap minumannya sambil mencemil toast dan saladnya. Sementara Nina sibuk dengan catatannya sembari menyantap makan siangnya.
Untuk beberapa saat, semua orang di butik itu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Meski tidak selalu ramai namun selalu ada saja pelanggan yang mampir. Entah hanya sekadar melihat-lihat atau bahkan membeli dan memesan pakaian produk mereka.
"Nina masukkan pakaian-pakaian ini ke dalam plastik. Biar nanti di ambil Santi untuk diremake." Youra bangkit dari duduknya dan keluar dari gudang setelah menginstruksikan beberapa hal yang harus dilakukan asistennya.
"Oke, bu." Nina mengangguk dan segera mengemasi sisa-sisa makanan mereka berdua dan membuangnya ketempat sampah. Setelah itu dengan cekatan dia melaksanakan perintah Youra.
Butik Butterfly bukanlah butik yang terkenal di kota ini. Hanya sebuah butik kecil yang berada di salah satu komplek pertokoan yang terletak di sudut kota.
Youra sang pemilik sekaligus pendiri butik kecil ini. Dia merintis usahanya sedari masih remaja. Berawal dari usaha jahitan rumahnya yang berkembang menjadi butik yang masih bertahan hingga kini.
Sayangnya butik ini tidak seramai butik-butik lain yang bertebaran di berbagai sudut kota. Entah apa yang membuat butik ini seperti pohon yang meranggas namun tak kunjung mengering dan akhirnya mati. Yah, hidup segan matipun enggan. Itulah kondisi Butik Butterfly milik Youra.
Youra tidak pernah berdiam diri dengan kondisi usahanya itu. Berbagai promosi hingga mendatangkan produk-produk fashion yang sedang trend telah dilakukannya. Namun semua itu sia-sia. Bukan saja tidak mendongkrak popularitas maupun pemasukan, justru dia hampir kehabisan modal dan bangkrut.
Meskipun begitu dia tidak pernah berputus asa dan menyerah. Dengan terseok-seok dia tetap menjalankan usahanya dan bertahan hingga kini.
Tidak sedikit orang-orang dekatnya menyarankan untuk menutup butik itu dan merintis usaha baru. Namun Youra bersikukuh untuk mempertahankan Butik Butterfly.
Baginya, butik ini bukan sekadar sebuah usaha dan sumber penghasilan. Butik ini memiliki banyak kisah dan menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya.
Youra bertekad mempertahankan butik yang dirintisnya dengan modal dan usahanya sendiri apa pun yang terjadi. Bahkan demi butik ini dia harus menelan kepahitan dalam beberapa hal kehidupan pribadinya.
Kisah cintanya kandas di saat menjelang ke pelaminan karena insiden yang menimpa butiknya. Begitu juga hubungannya dengan beberapa kerabat dan teman dekatnya.
Youra mempertaruhkan segalanya untuk butik ini karena dia memiliki keyakinan butiknya akan kembali seramai seperti dulu. Yah butik ini memang pernah berada di masa keemasannya di tahun-tahun pertama setelah dibuka.
Butik Butterfly didirikannya setelah usaha jahitannya kelebihan pemesan. Youra tidak sanggup menangani semua pesanan jahitan dari para pelanggannya. Hingga dia memutuskan merekrut beberapa penjahit muda yang baru lulus dari sekolah kejuruan maupun kursus menjahit.
Dia masih mengingat dengan pasti tahun-tahun yang penuh dengan keberuntungan dalam hidupnya. Satu tahun yang benar-benar penuh berkah dan kejutan.
Bagaikan sebuah meteor yang melesat namun akhirnya jatuh dan memudar gemerlap cahayanya. Semua keberuntungan itu memudar setelah satu tahun berlalu.
Butiknya perlahan-lahan sepi dan para pelanggan satu persatu tidak lagi menjadikan butiknya sebagai pilihan pertama. Bahkan beberapa pelanggan sepertinya benar-benar lupa dengan keberadaan butiknya dan pernah menjadi pengunjung setia setiap butiknya mengeluarkan produk terbaru.
Hingga kini Youra tidak pernah tahu pasti apa yang menyebabkan turunnya popularitas dan penjualan butiknya. Seingatnya dia tidak pernah mengecewakan pelanggannya.
Dia juga selau mengikuti trend fashion dan menjaga kualitas produk-produk yang disediakan di butiknya. Begitupun dengan pelayanan bagi para pelanggannya. Semua hampir sempurna.
Hanya satu hal yang diingatnya, semua itu terjadi setelah sebuah gaun pengantin pesanan seorang pelanggan tak kunjung diambil.