Deretan gaun pengantin yang cantik menarik mata setiap pengunjung atau pun pejalan kaki yang kebetulan melewati butik mungil di sudut pertokoan. Di etalase terdepan terpajang sebuah gaun berwarna putih bersulam kupu-kupu dihiasi kristal swarovski yang semakin mempercantiknya.
Gaun yang membuat para calon pengantin terpukau. Seperti saat ini, seorang gadis cantik tengah menatap gaun itu dengan kagum. Matanya terpaku menatap gaun yang berkilauan bertabur kristal swarovski di tepian sulaman kupu-kupu yang membuatnya nampak bak ribuan kupu-kupu menghinggapinya.
"Gaun yang indah. Aku pasti cantik dengan gaun itu di hari pernikahanku nanti," gumamnya pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, gadis itu telah memasuki butik dan menyentuh ujung bawah gaun yang bersulam kupu-kupu dan bertabur kilauan kristal.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita menyapanya dengan ramah.
Sepertinya dia karyawan butik ini. Dia tersenyum ramah dan mengikuti sang pelanggan yang tak henti memutari gaun dan menatap gaun itu dengan kagum.
"Bolehkah saya mencoba gaun ini? Saya ingin memesannya untuk hari pernikahan saya bulan depan." Gadis itu berbicara tanpa mengalihkan tatapannya dari gaun pengantin cantik itu.
"Maaf Nona, gaun ini pesanan salah satu pelanggan kami. Jika nona tidak keberatan kami akan membuatkan gaun dengan model dan desain yang serupa dengan gaun ini." Sang pelayan butik menjelaskan.
"Ah begitu rupanya." Gadis itu terlihat kecewa.
"Iya Nona. Atau mungkin anda ingin melihat beberapa desain gaun yang lain. Kami memiliki beberapa desain yang mungkin sesuai dengan selera anda," gadis pelayan itu kembali menawarkan pilihan yang lain.
Gadis itu menggeleng kecewa. Dia tidak berhenti mengagumi gaun pengantin itu. Sepertinya dia sangat terpesona.
"Siapa pemesan gaun ini?" gadis itu kembali bertanya.
"Itu…. Saya tidak mengetahuinya secara pasti." Pelayan butik terlihat ragu.
"Bisakah saya bertemu dengan pemilik butik? Saya ingin memesan gaun yang mirip dengan ini," akhirnya gadis itu memutuskan.
"Baiklah, Nona. Ibu Youra masih dalam perjalanan kemari. Sebentar lagi mungkin sampai. Silakan nona menunggu," gadis pelayan itu mempersilakannya untuk menunggu di lobi butik.
Gadis itu duduk di sofa yang tersedia di lobi. Diperhatikannya sekeliling butik mungil itu. Sebuah butik yang cukup nyaman dan elegan. Meski bukan merupakan butik yang populer di kota ini, namun butik ini di desain dengan konsep yang mengajukan kenyamanan para pelanggannya.
Sebuah lobi yang sekaligus menjadi ruang tunggu, dilengkapi seperangkat sofa empuk berdesain minimalis, menjadi penyambut para pelanggan. Sebuah guci antik yang berfungsi juga sebagai vas, berisi bunga segar, menjadi penghias di sudut lobi. Di salah satu sisi lobi terdapat etalase yang berisi beberapa manekin berhias gaun-gaun cantik.
"Nona, silakan diminum sambil menunggu Ibu Youra datang," gadis pelayan tadi menghidangkan secangkir kopi dan camilan.
"Terimakasih," senyum ramahnya mengembang menyambut keramahan pelayan butik.
Sang pelayan kemudian meninggalkannya lagi, untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Gadis cantik itu menyesap kopi yang baru saja di hidangkan pelayan butik. Meski bukan pecinta kopi, namun aroma wangi minuman pahit itu menggodanya untuk mencicipinya.
"Selamat siang, halo nona," seorang wanita cantik berusia sekitar 30 tahunan memasuki butik dan menyapa sang gadis yang tengah duduk santai sambil menikmati kopi di lobi.
Gadis itu meletakkan cangkir kopi di tatakannya. Dan berdiri menyambut wanita yang baru saja menyapanya.
"Selamat siang, apakah anda pemilik butik?" Gadis itu tersenyum dan sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menemui sang pemilik butik.
"Betul nona. Saya Youra, pemilik butik Butterfly. Ada yang bisa saya bantu?" Wanita cantik itu tersenyum ramah.
"Saya ingin memesan gaun pengantin untuk pesta pernikahan saya bulan depan. Apakah masih bisa? Mengingat waktunya sudah dekat sekali," gadis itu menyampaikan tujuannya.
"Saya rasa bukan masalah. Mari ikut saya ke dalam," wanita pemilik butik itu mengajak calon pengantin itu untuk mengikutinya.
Keduanya menyusuri lobi dan memasuki ruangan utama butik yang merupakan sebuah show room yang cukup luas berisi etalase dan manekin-manekin berhias gaun pengantin aneka model yang cantik. Selain itu juga ada beberapa gaun pesta mau pun gaun-gaun cantik lainnya.
Wanita itu mengajaknya memasuki sebuah ruangan di sisi kiri show room. Rupanya itu sebuah kantor yang elegan. Khas milik seorang desainer. Kantor yang lebih mirip sebuah ruang tamu yang minimalis namun cantik.
"Nona silakan duduk." Wanita pemilik butik mempersilakannya untuk duduk. Dia sendiri pun duduk di depan gadis itu.
"Nona, gaun pengantin seperti apa yang anda inginkan? Di sini ada beberapa gaun siap pakai. Namun anda juga bisa memesan sesuai keinginan anda," wanita itu memulai percakapan setelah keduanya duduk di sofa.
"Sebenarnya saya tertarik dengan gaun yang ada di etalase depan. Namun menurut karyawan anda gaun itu telah dipesan orang lain," gadis cantik itu berbicara dengan nada kecewa. Dia menggigit bibirnya dan terlihat sangat kecewa.
Youra, sang pemilik butik, menghela napas pelan. Sepertinya dia memahami kekecewaan sang calon pengantin.
"Nona, gaun itu memang sangat cantik. Saya mendesainnya secara pribadi untuk seorang pelanggan. Namun hingga kini dia tidak kunjung mengambil pesanannya," Youra berbicara dengan hati-hati.
Gadis calon pengantin itu teeperangah mendengar ucapan Youra. Jika begitu bukankah dia bisa memintanya untuk menjual gaun itu padanya? Demikian pemikiran yang ada di benaknya.
Gadis itu tersenyum dan mengutarakan niatnya, "Jika begitu, anda bisa menjual gaun itu pada saya. Toh gaun itu tidak diambil oleh si pemesan bukan? Anda tidak akan rugi dan juga tidak menyalahi."
Youra tersenyum jengah mendengar ucapan gadis itu. Sebenarnya gadis itu bukan yang pertama kali jatuh hati pada gaun pengantin cantik itu. Dan dia pun sudah berkali-kali berada dalam situasi seperti ini.
"Benar yang anda katakan. Saya tidak akan merugi atau pun menyalahi. Karena gaun ini telah dibayar lunas. Selain itu bukan kesalahan saya jika gaun ini tidak diambil sang pemesan. Dia tidak meninggalkan alamat mau pun nomor telepon yang bisa dihubungi," ucap Youra dengan tenang.
Senyum sumringah mengembang di wajah sang gadis saat mendengar ucapan Youra. Setidaknya ada harapan untuk bisa menjadikan gaun cantik itu sebagai gaun miliknya yang akan dia kenakan di hari istimewa sepanjang hidupnya.
"Kalau begitu saya akan membeli gaun itu. Soal harga anda tidak perlu khawatir. Itu bukan masalah bagi saya," gadis cantik itu kembali meyakinkan pemilik butik.
Wanita pemilik butik itu tampak ragu. Dia terdiam beberapa saat. Haruskah dia menjual gaun pengantin itu pada gadis yang duduk di hadapannya ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu seperti yang sudah-sudah?
Di sisi lain tak dipungkiri butik ini membutuhkan pemasukan agar tetap beroperasional dan bertahan. Dia harus membayar gaji karyawan dan juga untuk penambahan modal.
"Baiklah nona. Mari kita coba gaun itu, apakah sesuai dengan ukuran anda? Jika tidak saya akan segera memperbaikinya," akhirnya pemilik butik menyetujuinya setelah berpikir cukup lama.
Pemilik butik bangkit dari kursinya dan mengajak sang gadis kembali ke showroom butik. Mereka kemudian disibukkan dengan fitting gaun pengantin tersebut.
"Lihat sangat pas ukurannya. Seakan-akan gaun ini memang dibuat untukku!" Kagum sang gadis saat mencoba gaun itu.
Dia berputar di depan cermin dan tidak hentinya mengagumi bayangannya yang mengenakan gaun cantik itu.
Sang pemilik butik hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekhawatiran di sorot matanya. Sesuatu yang tidak seharusnya. Karena gaun yang telah lama menghiasi etalasenya dan tak kunjung diambil pemesan kini telah laku.