"Gwen!" "Ya?" "Tolong ganti bajuku." "Gwen!" "Kenapa?" "Aku bosan, berikan aku buku." "Gwen!" "Iya, William." "Aku lapar, berikan makanan." "Gwen!" "Hm, apa?" "Tutup jendelanya, banyak debu." "Gwen!" "Iya." "Buka lagi jendelanya, terlalu pengap." "Gwen!" "Apa lagi, hah?!" "Kau marah?" "Hehe, tidak. Kau ingin apa?" Seperti hutang, karma selalu dibayar tuntas. William benar-benar membuktikan ucapannya bahwa dia akan membalas perbuatanku waktu itu. Baru sehari saja aku sudah dijadikan babu yang mengerjakan semua perintahnya. Sampai-sampai tidak sempat melakukan pekerjaan lain. Sebagai istri baik hati yang malas memancing keributan, aku manut-manut saja di bawah telunjuknya. Sesekali aku menipiskan bibir menahan geram, ingin kugigit rasanya. "Gwen!" "Gweeennn!" "Gweee

