Bersahabat dengan Buaya Khodam Leluhur
Teringat jelas bagaimana keseharian ku di masa kecil. Sosok buaya besar itu selalu mendampingiku, apalagi saat aku bermain di luar rumah, aku masih ingat saat berdiri di pinggir jalan besar yang saat itu masih terlihat asri karena masih banyak di tumbuhi rumput alang-alang dan pepohonan yang menghijau.
Kami terlihat akrab tak ada rasa takut satu sama lain. Aku bahkan tak menganggap bahwa buaya itu adalah sosok tak kasat mata, aku malah mengira dia benar-benar buaya, maksudku benar-benar binatang sungguhan, jadi saat itu memang tak ada yang aneh menurutku.
Satu hari aku bermimpi tapi serasa nyata. Aku berjalan bergandengan tangan dengan mamak masuk menuju ke dalam hutan, tapi sampainya di tengah hutan, ada seekor buaya besar yang menerjang tubuhku dari arah atas pohon hingga aku jatuh terduduk.
Aku benaran tersentak kaget dengan jantung berdegup kencang dan dalam posisi terduduk sambil memegang telinga kiri ku. Ada yang aneh kurasa, saat aku meraba telingaku, dengan wajah sedikit cemas, aku segera berlari menuju cermin, anting-anting emas ditelinga kiri ku sudah tak ada, bukan hanya itu lubang tempat anting itu juga terbelah dua tapi tak ada luka berdarah sedikit pun. Segera aku berlari mencari mamak.
"Mak!! Anting-anting ku gak ada!" teriak ku ke mamak sambil menunjukkan telingaku yang tempat antingnya terbelah.
"Loh kok bisa gak ada, kamu hilang in kemana? Ayo sana, cari dulu mungkin saja kamu lupa atau kamu hilangkan waktu lagi asyik bermain." jawab Mamak.
"Gak ada mak, kan tadi sebelum tidur masih aku pake." sanggah ku ke mamak dengan perasaan masih bingung.
Rasanya percuma saja aku ceritakan kejadian itu, Mamak sama sekali tak menanggapi ku dengan serius, mamak malah menuduhku kalo aku benaran sudah membuang anting-anting ku.
Sudah dicari kemana-mana tapi gak ketemu juga. Mamak tidak percaya padaku dan mengomeli ku habis-habisan.
Keesokan harinya mamak membawaku ke puskesmas untuk memeriksa keadaan telingaku. Saat memasuki ruangan dan di periksa, perawat menanyakan kenapa bisa kayak gini. Aku terdiam dan bingung mau jawab dan menceritakannya seperti apa.
"Tahan yaa?" kata suster perawat yang masih terlihat muda itu.
"Saya suntik dan harus dipotong sedikit dagingnya biar mudah disatukan lagi, tahan dan jangan gerak." ucapnya lagi.
"Iya" jawabku pelan.
Aku menurut saja meski ada rasa takut, saat Suster mengambil gunting dan suara potongan daging telingaku itu terdengar jelas
"Krek!!"
Tanganku sebelah ikut memegangi telingaku yang sedang di jahit, ada tetesan darah yang menetes.
"Tekan di sini, jangan dilepas," perintah suster.
Meski demikian sedikit pun tak ada rasa sakit yang aku rasakan saat proses menjahit itu berlangsung, mungkin karena sudah di suntik bius.
"Nah! Akhirnya selesai juga, tunggu kering ya, minggu depan ke sini lagi, kita lepas perban dan benangnya baru bisa di pake in anting lagi." ucap Suster cantik itu.
•
•
Waktu terus berlalu aku melalui hari-hariku bersama sosok buaya itu seperti biasanya dan kejadian itu berlalu begitu saja.
Sore ini teman-teman mengajak aku berenang ke SDR, SDR adalah kawasan pinggir laut seperti dermaga kecil tempat persinggahan para nelayan atau pemancing melempar kailnya atau menaruh umpan di jerat untuk menangkap kepiting dan ini adalah tempat kedua yang sering kami kunjungi setelah pohon jambu mete yang super besar di sekitaran tempat itu juga.
Aku tidak banyak bicara, hanya ikut ngumpul dan meramaikan saja, karena sebagian teman mainku adalah anak laki-laki yang semuanya jago berenang, sementara aku, aku tidak bisa berenang, aku hanya duduk atau berdiri memandangi mereka yang tengah asik bermain air.
Kami tertawa lepas, satu persatu dari mereka melompat bergantian dari atas dermaga, nyebur masuk ke dalam air, aku sangat terkejut saat salah satu dari mereka mendorongku dengan keras, hingga aku terjatuh dan masuk ke dalam air. Rasa dingin dan lemas di sekujur tubuhku, aku berusaha berenang tapi aku tahu aku gak bisa.
Rasanya hidung dan mataku sakit, aku berusaha mencari udara, rasanya air masuk memenuhi hidung dan mulutku. Gelap seketika tangan ku berusaha mencari sesuatu untuk di pegang, tapi nihil, saat aku membuka kedua mataku, semua terlihat jernih, suara bunyi air pun terdengar jelas tapi tenang, kakiku terasa ada yang mendorongnya ke atas, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya moncong besar berwarna sedikit putih samar-samar yang nampak sekilas dari pandanganku. Entah bagaimana tubuhku sudah terangkat naik ke atas dasar air.
Kulihat temanku melempar dirigen berwarna putih ke arahku dan yang lain mendekatiku termaksud yang mendorong ku tadi.
•
[Dirigen adalah wadah tempat air/ minyak]
•
Alhamdulillah aku selamat, saat dirigen putih itu aku pegang, aku menangis ketakutan, meski teman yang mendorongku itu sudah meminta maaf karena katanya dia hanya iseng, aku tetap menangis dan berlari pulang, tanpa menceritakan sedikit pun kejadian itu pada orang rumah. Dan alhasil, aku demam seharian. Untung saja mamak tidak tahu, jika iya, pasti habis lagi aku diomelin.
Aku memang seperti itu, aku tidak suka mengadu, apalagi merengek, aku lebih suka diam dan menyimpan rapat-rapat apa pun kejadian yang aku alami, kecuali masalah anting-anting itu. Ya selain karena takut, aku juga tidak suka merepotkan siapa pun.
Aku suka berpetualang, entah itu bersama teman-teman atau sendirian.
Hari itu aku sedang asyik bermain sendirian. Aku menemukan benda-benda lucu dan unik, entah dari mana benda-benda itu berasal, semuanya berbentuk kecil, ada keris dan kuda laut. Aku pegang kedua benda tersebut dan memainkannya, aneh saat aku terlepas pandangan dari kedua benda tersebut, benda-benda itu hilang entah kemana. Sayang sekali padahal aku masih ingin memainkannya.
***
Waktu terus bergulir....
Saat aku beranjak dewasa. Aku mulai sering mendengar suara misterius yang selalu berbisik jika ada sesuatu yang salah. Suara yang tidak pernah aku ketahui siapa dan berasal dari mana. Satu persatu pertanyaan mulai muncul dibenak ku, tapi hanya sampai di situ. Aku lebih memilih mengabaikannya.
Dulu ada satu kebiasaan yang kalo tiap sore atau malam, aku selalu duduk di bawah pohon ketapang yang rindang sambil bermain gitar, kadang sendirian kadang bareng sepupu atau paman, atau salah satu karyawan Bapakku. Dan kebetulan malam itu aku duduk sendirian. Sambil menikmati indahnya sinar bulan dengan suara fals ku.
Eittt!! Flashback dulu ya ...
Aku mau ceritain dikit soal TKP nya, pekarangan rumahku lumayan luas, gak ada pagar hanya ada beberapa pohon ketapang yang pendek dan rimbun. Jarak rumah dari tetangga sedikit berjauhan, jujur lokasinya lumayan menyeramkan, kalo di malam hari, gak ada penerangan jalan. Jika bulan purnama muncul seperti sekarang ini, wahh tempat ini jadi tempat favorit aku banget. Meski letaknya di pinggir jalan besar, tetap aja suasananya seperti di kuburan. Tapi aku suka dan selalu merindukan suasana seperti itu. Tenang dan tentram.
***
Oke lanjut.
Nah malam itu aku lagi asyik melantunkan lagu andalanku ' Isabela' lagu yang cukup terkenal masa itu.
Oh iya hari itu selepas magrib bapak juga lagi kedatangan tamu. Seorang angkatan darat yang ada di seputaran tempat kami, kayaknya orang keamanan gitu dan malam itu tamu bapak itu naik sepeda yang lagi booming waktu itu, jadi bisa dibilang harga sepeda itu cukup mahal.
Suara petikan gitarku mengiringi bait per bait lagu jadul yang aku kumandangkan dengan santai dan penuh penghayatan.
Lagi asyik bernyanyi, tiba-tiba suara itu berbisik tepat di sampingku
"Diam dan perhatikan" bisik nya.
Tentu saja aku kaget, gak tahu gimana ceritanya, aku auto menurut saja dengan arahan dari suara yang gak berwujud itu.
"Ada apa sih!" rasa penasaranku muncul.
Aku diam seperti patung mengikuti arahannya, aku pandangi seorang laki-laki yang sedang berjalan pelan dan mengendap-endap mencurigakan. Laki-laki itu hanya berjarak kurang lebih dua meter dari posisiku saat itu. Sepertinya dia sedang mengintai sesuatu, dan itu terlihat jelas saat dia berdiri tepat di dekat sepeda tamunya bapak, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Aku tiba-tiba kaku, loh! kok gak bisa gerak, padahal aku bersiap ingin teriak, tapi suara itu berbisik lagi.
"Eits! tunggu dulu, jangan teriak dulu"
Aku masih berdiri sambil memegangi gitarku. Menunggu aba-aba selanjutnya.
"kamu teriak, saat dia pegang sepedanya ya?"
"Iya" jawabku perlahan.
Begitu aku gak ngerasa kaku lagi, Aku langsung meneriaki laki-laki itu.
Hey!! Kamu mau maling yaa, laki-laki itu malah diam dan ngeliatin aku yang berdiri di antara pepohonan.
Mungkin saja dia kaget, kok ada suara teriakan dari arah pohon yang gelap.
Tanpa menunggu lama, aku berteriak sekencang kencangnya ....
"Maling ... Maling !!"
Pria itu langsung melepas sepeda dan berlari kabur. Bapak dan tamunya keluar, karena mendengar teriakan ku yang cukup keras.
"Mana malingnya, maling apa" kata bapak.
"Itu sepedanya mau di curi"
Aku mengarahkan telunjukku ke sepeda tamunya Bapak.
Tamu Bapak langsung mengejar, di temani beberapa anak buah bapak dan tetangga terdekat.
"Lari kemana malingnya" tanya tamu bapak dan yang lainnya kepadaku.
"Kesana!" jawabku sembari menunjuk kearah sana, arah menuju rumah tetangga yang baru di bangun namun kosong dan benaran belum berapa lama si pencuri ke tangkap dan benar dia bersembunyi di belakang rumah itu.
Orang-orang sudah ramai berkerumun, termaksud aku, si maling habis babak belur di hajar para tetangga, juga tamunya Bapak. Jujur ada rasa gak tega, apalagi, pencuri itu terus menatap kearah ku saat diinterogasi warga.
"Masih muda kenapa maling" bentak beberapa warga pada si pencuri itu.
Dia diam meringis kesakitan sesekali berkata, "Aduh, ampun pak, ampun!! Dia menatapku seperti ketakutan, usai di hajar hingga babak belur teman bapak membawa dia ke kompleks perumahan TNI.
Dan kami pun bubar kembali ke rumah masing-masing.